Pemerintah Singapura Katakan Negara Dalam Kondisi Terancam

    Senin, 5 Februari 2018 - 21:16 Editor : Redaksi Dibaca : 774 Views

    Menit.co.id – Otoritas Singapura terus menggelar latihan simulasi menghadapi serangan teror, sementara pemerintah menyatakan negara dalam kondisi terancam.

    Saat simulasi berlangsung, pasukan polisi bersenjata berpatroli di sebuah stasiun kereta, di mana televisi dan poster raksasa menyuarakan peringatan atas ancaman kelompok bersenjata.

    Sementara itu, para aktor teroris berpura-pura menyerang sebuah mal perbelanjaan. Pemandangan seperti ini belakangan menjadi rutin di Singapura, salah satu negara paling aman di dunia.

    Negara ini punya rekor nyaris sempurna dalam menangkal serangan teror dan berada di posisi kedua setelah Tokyo dalam Indeks Kota Teraman dari The Economist Intelligence Unit.

    Jelang pertemuan para menteri pertahanan dari sekitar Asia Tenggara pekan ini, Singapura memang punya alasan untuk memprioritaskan penangkalan teror. Namun, pemerintah menyatakan negaranya memang terus menghadapi ancaman dalam beberapa tahun belakangan.

    “Singapura terus dihadapkan pada ancaman keamanan serius, baik dari individu radikal dari dalam negeri maupun teroris asing yang terus memandang Singapura sebagai sasaran besar,” kata Kementerian Dalam Negeri kepada Reuters, Senin (5/2).

    Otoritas Singapura menyatakan telah menjadi incaran ekstremisme Islamis sejak 1990-an. Namun, upaya penangkalan teror terus ditingkatkan dalam beberapa tahun terakhir, menyusul serangkaian serangan di negara-negara Barat dan pendudukan ISIS di Marawi, Filipina.

    Meningkatkan kekhawatiran tersebut, seorang tentara Singapura kerap tampil dalam videovideo ISIS. Paling baru, dia disorot sedang mengeksekusi orang-orang bersama anggota kelompok bersenjata lainnya pada Desember lalu.

    Dalam Laporan Pemantauan Ancaman Terorisme tahunan yang dirilis tahun lalu, Kemendagri menyatakan ISIS telah menunjukkan bahwa Singapura “sangat diincar” dan ancaman berada di “titik tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.” Klaim itu didukung oleh para pengamat.

    “Singapura, dikenal sebagai tempat yang aman, menjadi sebuah sasaran,” kata Dan Bould, direktur manajemen krisis Asia di perusahaan jasa profesional Aon, sekaligus mantan kapten di angkatan bersenjata Inggris.

    “Jika ada serangan di Filipina, kejadian itu mungkin mendapatkan pemberitaan 30 menit dalam 24 jam. Serangan di Singapura, dengan individu multikultural yang beroperasi di sini, akan dibicarakan setidaknya selama beberapa hari.”

    Pengamanan Singapura semakin ditingkatkan, terutama setelah serangan ISIS di Marawi. (REUTERS/Stringer)

    Hanya soal Waktu

    Dalam laporan tahunan terkait terorisme dan kekerasan politik pada awal 2017 lalu, Aon meningkatkan status Singapura dari dapat diabaikan ke berisiko ringan.

    Nyatanya, Singapura sejauh ini masih bisa menghindari serangan-serangan yang belakangan melanda kota-kota besar seperti New York, London dan Berlin. Itulah mengapa negara tersebut berada di dasar Indeks Teror Global 2017, dengan nol laporan serangan teror setelah tragedi 11 September di AS.

    Namun, tiga dari empat warga Singapura meyakini serangan teror di negaranya pasti terjadi dan hanya soal waktu. Hal tersebut disimpulkan berdasarkan survei surat kabat lokal Sunday Times tahun lalu, dikutip Reuters.

    Simulasi serangan teror menjadi rutin di Singapura, termasuk yang digelar sepekan lalu saat sekelompok orang bersenjata berpura-pura menyerang pusat aktivitas anakanak di Sentosa.

    Bulan lalu, militer Singapura melakukan latihan mobilisasi terbesarnya dalam tiga dekade terakhir, termasuk latihan respons antarlembaga atas simulasi serangan kelompok bersenjata di stadion nasional, bulan lalu.

    Otoritas menyatakan tahun lalu ada informasi ISIS mempertimbangkan serangan ke Singapura. Namun, rencana di awal 2016 itu diklaim berhasil digagalkan.

    Pada Agustus 2016, enam tersangka teroris ditangkap di Indonesia karena diduga akan melakukan serangan roket ke hotel Marina Bay Sands Singapura.

    Indonesia dan Malaysia menyatakan banyak warganya yang berangkat ke Suriah dan bergabung dengan ISIS. Pejabat keamanan regional menyatakan banyak di antara mereka pulang ke negara masing-masing setelah kelompok teror itu dikalahkan di Timur Tengah.

    Hukum Keras

    Bilveer Singh, peneliti senior di Rajaratnam School of International Studies, menyarakan keberhasilan Singapura adalah berkat pendekatan garis keras terhadap tersangka radikal.

    Langkah paling kontroversialnya adalah Akta Keamanan Internasional, hukum dari era kolonial yang memungkinkan seorang tersangka ditahan dalam jangka waktu panjang tanpa persidangan.

    Kemendagri menyatakan saat ini ada 20 orang yang ditahan menggunakan akta tersebut karena “aktivitas terkait terorisme.” Sejak 2002, sudah ada 90 orang yang ditahan karena tuduhan serupa.

    Akta itu “adalah penangkal yang luar biasa, dan sejauh ini bekerja dengan baik,” kata Singh.

    Otoritas juga telah mendeportasi puluhan orang asing karena diduga radikal, beberapa tahun terakhir. Pada Oktober lalu, pemerintah menangkal dua pengkhotbah Muslim dari Zimbabwe dan Malaysia karena pandangannya dianggap memicu intoleransi dan mengganggu harmoni sosial.

    (cnn/cnn)



    Komentar Pembaca: