BI Catat Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp4.754 Triliun

    Senin, 19 Februari 2018 - 20:05 Editor : Redaksi Dibaca : 269 Views

    Menit.co.id – Bank Indonesia mencatat, total Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir tahun lalu sebesar US$352,2 miliar atau sekitar Rp4.754 triliun (kurs Rp13.500).

    Berdasarkan data ULN BI yang dirilis pada Senin (19/2), total ULN tersebut tumbuh 10,1 persen dibanding tahun sebelumnya (year on year/yoy).

    Peningkatan ULN terutama berasal dari utang pemerintah yang meningkat 29 persen dari 2016 sebesar US$137,4 miliar menjadi US$177,32 miliar.

    Sementara itu, ULN swasta atau korporasi baik bank maupun nonbank hanya naik tipis sebesar 6 persen dari US$161,72 miliar menjadi US$171,62 miliar.

    Peningkatan ULN terutama terjadi pada korporasi nonbank yang naik dari US$131,48 miliar menjadi US$141m38 miliar, sedangkan ULN bank tetap di kisaran US$30,2 miliar.

    “Perkembangan ULN ini terjadi, sejalan dengan kebutuhan pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur dan kegiatan produktif lainnya,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI dalam keterangan resmi.

    Berdasarkan jangka waktu, struktur ULN Indonesia pada akhir tahun lalu, menurut BI, terbilang aman. ULN tetap didominasi ULN berjangka panjang yang memiliki pangsa 86,1 persen dari total ULN.

    Kendati demikian, dari sisi pertumbuhan, ULN jangka pendek tertcatat tumbuh lebih kencang sebesar 20,7 persen (yoy).

    Menurut sektor ekonomi, posisi ULN swasta pada akhir tahun lalu, terutama dimiliki oleh sektor keuangan, industri pengolahan, listrik, gas, dan air bersih (LGA), serta pertambangan. Pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,9 persen.

    Bank Indonesia pun memandang perkembangan ULN pada akhir 2017 masih terkendali. Rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di akhir tahun lalu tercatat stabil di kisaran 34 persen.

    Selain itu, rasio utang jangka pendek terhadap total ULN juga relatif stabil di kisaran 13 persen. “Kedua rasio ULN tersebut masih lebih baik dibandingkan dengan beberapa negara peers,” terang Agusman.

    Bank Indonesia pun mengaku akan terus memantau perkembangan ULN dari waktu ke waktu untuk meyakinkan bahwa ULN berperan optimal dalam mendukung pembiayaan pembangunan, tanpa menimbulkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas makroekonomi.

    (cnn/cnn)



    Komentar Pembaca: