Garap IDD, ESDM Dorong Chevron Gunakan Fasilitas Milik Eni

    Jumat, 28 Juli 2017 - 08:48 Editor : Redaksi Dibaca : 164 Views

    Menit.co.id – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tetap berharap Chevron mau menggunakan fasilitas pemrosesan gas terapung (Floating Processing Unit/FPU) milik Eni di lapangan Jangkrik untuk memproses gas dari proyek laut dalam (Indonesia Deepwater Development/IDD) di lapangan Gehem dan Gendalo.

    Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengatakan, secara normalnya memang Eni memprioritaskan produksinya untuk diproses di fasilitas tersebut. Jika masih ada sisa, maka Chevron bisa menggunakannya.

    Selain itu, Chevron juga diarahkan untuk bisa menggunakan fasilitas itu jika nantinya produksi gas Jangkrik sudah mengalami penurunan. “Tentu, kalau secara normalnya Eni akan memprioritaskan produksi mereka dulu (ke fasilitas itu). Kalau turun, baru Chevron masuk,” jelas Arcandra di Kementerian ESDM, Kamis (27/7).

    Jika memang fasilitas Eni di Jangkrik tidak muat, maka pemerintah mengarahkannya untuk membangun fasilitas sendiri, sesuai rencana pengembangan (Plan of Development/PoD) sebelumnya. Namun, tentu saja ada kekhawatiran mengenai masalah biayanya.

    “Mungkin mereka (Chevron) bisa bikin fasilitas sendiri seperti rencana awal mereka. Tapi, biayanya ini (yang perlu dipikirkan),” ungkapnya.

    Adapun saat ini, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) masih membicarakan PoD dengan Chevron. Sayang, ia belum tahu perkembangan terakhir mengenai kemajuan PoD tersebut.

    “Yang jelas untuk IDD, Chevron sedang bicara dengan SKK Migas untuk memulainya. Silahkan berbicara business-to-business (B-to-B) dengan Eni untuk pemakaian fasilitasnya,” pungkas Arcandra.

    Sebelumnya, pemerintah mendorong Chevron untuk menggunakan fasilitas pemrosesan gas milik Eni di lapangan Jangkrik agar biaya pengembangan lapangan Gendalo-Gehem bisa lebih efisien.

    Pasalnya, hingga saat ini, PoD lapangan Gendalo dan Gehem belum bisa diserahkan ke pemerintah karena keekonomian proyeknya tidak sesuai yang diharapkan.

    Meski demikian, Chevron mengatakan bahwa fasilitas di Jangkrik tak mampu menampung gas yang diproduksi dua lapangannya. Adapun, kapasitas produksi FPU Jangkrik saat ini di angka 450 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) dan hanya bisa dimaksimalkan ke angka 800 MMSCFD.

    Namun rencananya, lapangan Gendalo akan menghasilkan gas sebanyak 700 juta kaki kubik per hari (MMSCFD), sementara itu lapangan Gehem bisa memproduksi gas sebanyak 420 MMSCFD. Apalagi, FPU Jangkrik akan semakin sesak karena produksi lapangan Marakes, yang juga dikelola Eni, juga akan diproses ke situ.

    Di sisi lain, pemerintah berharap proyek IDD bisa onstream di tahun 2022 setelah sebelumnya direncanakan tahun 2018.

    Sekadar informasi, Chevron sebelumnya sudah mengajukan PoD lapangan Gendalo dan Gehem di tahun 2008 dengan nilai investasi mencapai US$6,7 miliar.

    Lalu, nilai investasi tersebut kemudian direvisi kembali di tahun 2013 menjadi US$12,3 miliar. Namun, dua tahun kemudian, Chevron menyerahkan kembali PoD dengan nilai investasi yang meningkat, yaitu di kisaran US$9 miliar hingga US$10 miliar.

    (cnn/cnn)



    Komentar Pembaca: