Kalangan Pedagang Keluhkan Sulitnya Mendapatkan Stok Bawang Putih

    Selasa, 10 April 2018 - 21:36 Editor : Redaksi Dibaca : 760 Views

    Menit.co.id Pedagang bawang putih di sejumlah daerah mengeluhkan sulitnya mendapatkan bawang putih.

    “Sejak Januari makin ke sini makin sulit, katanya banyak barang tapi sudah tidak ada barang,” ujar Suparta, pedagang bawang putih di pasar induk Kemang, Bogor saat Rapat Dengan Pendapat dengan Komisi IV DPR RI, Selasa (10/4).

    Suparta bilang saat ini sudah tidak ada asupan bawang putih dari importir. Sebelumnya dalam waktu sebulan dapat terjadi pemasukan barang sebesar 3 kontainer hingga 4 kontainer.

    Satu kontainer dapat berisi 1.400 hingga 1.500 bal. Tip bal berisi bawang putih sebesar 20 kilogram (kg).

    Pasokan yang minim pun membuat harga bawang putih dari importir mengalami kenaikan. Suparta bilang harga bawang putih dari importir sebesar Rp 21.000 per kg hingga Rp 21.500 per kg.

    Kenaikan harga tersebut tidak dapat disertai dengan harga jual di pasar. Pedagang di pasar induk hanya menjual dengan selisih Rp 1.000 per kg.

    “Harga dari importir agak tinggi, kita jual tidak bisa tinggi,” terang Suparta.

    Suparta bilang terdapat penekanan harga. Hal itu diungkapkan Suparta melihat masih stabilnya harga meski pasokan minim.

    Minimnya pasokan juga terjadi di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta. “Terakhir jual bawang putih seminggu lalu, sekarang barangnya tidak ada,” jelas Siti Khairul pedagang bawang putih Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta.

    Siti bilang sempat masuk kontainer berisi bawang putih di Pasar Kramat Jati. Namun, pedagang tidak mendapat pasokan.

    Pedagang meminta ketersediaan bawang putih di pasar. Tidak hanya bawang putih impor, bawang putih lokal yang diungkapkan telah panen pun tidak sampai toko pedagang.

    “Informasi di Banyuwangi ada panen, tapi tidak pernah sampai ke pedagang,” ujar Siti.

    Produksi bawang putih lokal pun dinilai masih minim. Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P), Sudin bilang lahan bawang putih di Banyuwangi seluas 14 hektare (ha).

    Hasil wajib tanam untuk mendapatkan Rekomendasi Impor Produk Hortikuktura (RIPH) pun dinilai Sudin belum akan efektif. “Importir untuk dapat RIPH perlu wajib tanam dan itu pasti bohong,” ungkap Sudin.

    Sebelumnya Kementerian Pertanian (Kemtan) telah mengeluarkan RIPH bawang putih sebesar 400.000 ton. Berdasarkan data dari pedagang, Surat Persetujuan Impor (SPI) yang telah diterbitkan sebesar 125.984 ton untuk 13 perusahaan.

    Sementara realisasi impor bawang putih hingga 28 Maret 2018 diungkapkan baru sebesar 15,8%. Angka tersebut setara dengan 19.894 ton.

    Salah satu yang mendapatkan SPI adalah PT Pertani (Persero). Pertani mendapatkan SPI sebesar 30.000 ton.

    Namun, untuk realisasi impor Direktur Utama Pertani, Wahyu belum dapat mengungkapkan realisasi impor bawang putih. “Lupa saya angka realisasinya,” jawab Wahyu saat ditanya di Kementerian koordinator Bidang Perekonomian.

    Sumber: Kontan



    Komentar Pembaca: