Analisis

    Sentimen Positif Sentuh Saham CPO dan Perbankan

    Senin, 9 Oktober 2017 - 11:28 Editor : Redaksi Dibaca : 339 Views

    Menit.co.id Kenaikan harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) sepanjang pekan lalu membuat harga saham emiten sektor agribisnis diramalkan bergerak positif pekan ini.

    Analis Semesta Indovest Aditya Perdana Putra mengatakan, harga CPO pada akhir pekan lalu berakhir di level 2.720 ringgit per ton dari pekan sebelumnya di level 2.666 per ton. Artinya, ada kenaikan sebesar 2,02 persen dalam satu pekan.

    Aditya merekomendasikan beberapa saham yang berada dalam lima peringkat teratas di sektor perkebunan dari sisi nilai kapitalisasi pasar untuk dicermati oleh pelaku pasar.

    Misalnya saja, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), dan PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP).

    “Harga CPO terlihat cukup stabil, sudah naik dari dua bulan sebelumnya yang masih sekitar 2.300 ringgit per ton,” ujar Aditya kepada CNNIndonesia.com, akhir pekan lalu.

    Bila dilihat, ketiga harga saham tersebut bergerak bervariasi pada pekan lalu. Sebagai emiten yang menduduki peringkat pertama di sektor perkebunan, harga saham Astra Agro stagnan di level Rp14.975 per saham.

    Sementara itu, Sawit Sumbermas terkoreksi tipis 0,66 persen menjadi Rp1.495 per saham dari sebelumnya di level Rp1.505 per saham. Kemudian, harga saham PP London Sumatra melejit hingga ke level Rp1.470 per saham atau naik 4,25 persen dari Rp1.410 per saham.

    Setali tiga uang, analis Recapital Sekuritas Kiswoyo Adi Joe juga menempatkan emiten berbasis CPO pada posisi beli (buy) pekan ini. Rekomendasi buy ini khususnya ditujukan pada saham PP London Sumatra, PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT), dan PT Gozco Plantations Tbk (GZCO).

    “PP London Sumatra bisa ke arah Rp1.500 per saham kemudian naik lagi ke Rp1.600 per saham, kalau Eagle High menuju Rp260 per saham, dan Gozco Plantations bisalah ke level Rp75-Rp80 per saham,” papar Kiswoyo.

    Menurutnya, harga CPO tengah menuju ke level 2.900 hingga 3.000 ringgit per ton. Untuk itu, ia optimis target harga tersebut tercapai.

    Adapun, harga saham Eagle High pada pekan lalu parkir di level Rp252 per saham atau merosot 1,56 persen dari sebelumnya di level Rp256 per saham. Kemudian, harga saham Gozco Plantations bergerak stabil di level Rp72 per saham.

    “(Valuasi) masih murah semuanya,” kata Kiswoyo.

    Adanya berbagai prediksi positif untuk saham emiten CPO, maka bukan tidak mungkin indeks sektor perkebunan yang terpuruk pekan lalu bisa kembali terangkat.

    Sektor perkebunan tercatat terkoreksi 0,36 persen menjadi 1.780,257 dari pekan sebelumnya di level 1.768,465. Dengan kata lain, pelemahan sektor perkebunan telah terjadi dalam dua pekan berturut-turut.

    Rekomendasi Saham Keuangan

    Selain saham CPO, sejumlah analis juga menyarankan agar pelaku pasar melakukan aksi beli terhadap saham berbasis keuangan.

    Aditya menilai, harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) atau BTN bakal bergerak positif pekan ini.

    Terlebih lagi, posisi nilai kapitalisasi pasar BCA yang kini sudah menyalip PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) di posisi pertama di bursa saham menjadi nilai tambah bagi emiten di mata pelaku pasar.

    “Nilai kapitalisasi pasar sudah cukup tinggi, jadi menurut saya bagi yang punya saham BCA bisa hold juga,” kata Aditya.

    Pada Jumat (6/10), nilai kapitalisasi pasar BCA berada di posisi Rp499,14 triliun. Sementara, nilai kapitalisasi pasar BTN sebesar Rp31,55 triliun.

    Aditya menambahkan, penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebanyak dua kali berturut-turut menjadi 4,25 persen diprediksi membuat kinerja keuangan emiten perbankan semakin tumbuh.

    Di sisi lain, analis Oso Sekuritas Riska Afriani mengatakan, harga saham BTN sudah mendekati area jenuh jual (oversold) secara teknikal. Maka dari itu, terlihat ada potensi pembalikan arah positif.

    “Volume beli nya juga sudah terlihat semakin meningkat, jadi ada tren berbalik arah,” ucap Riska.

    Selanjutnya, Riska juga merekomendasikan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Sama halnya dengan BTN, harga saham Bank Mandiri berpeluang bangkit (rebound) pekan ini.

    Bila dirinci, mayoritas harga saham emiten perbankan yang direkomendasikan memang terpantau merosot sepanjang pekan lalu. Bank Mandiri terkoreksi cukup dalam hingga 1,49 persen menjadi Rp6.600 per saham dari sebelumnya Rp6.700 per saham.

    Selanjutnya, harga saham BTN ditutup di level Rp3.010 per saham atau turun 0,66 persen dari Rp3.030 per saham. Beruntung, saham BCA masih mencetak kinerja positif pekan lalu dengan kenaikan tipis 0,16 persen dari Rp20.325 per saham menjadi Rp20.450 per saham.

    Riska pun memberikan target harga sebesar Rp6.730 per saham untuk Bank Mandiri dan BTN sebesar Rp3.250 per saham.

    Saham Top Gainers Tak Direkomendasikan

    Adapun, tidak ada satu pun 10 saham top ten gainers atau 10 saham yang harga sahamnya meningkat tajam pekan lalu masuk dalam rekomendasi analis.

    Aditya berpendapat, seluruh saham yang masuk dalam top ten gainers pekan lalu tidak didasarkan pada kondisi fundamental emiten masing-masing. Selain itu, tidak ada satu saham pun yang berada di indeks LQ-45 atau saham lapis pertama (first liner).

    Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukan, 10 emiten yang masuk dalam top ten gainers pekan lalu, diantaranya PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS), PT Majapahit Inti Corpora Tbk (AKSI), PT Asuransi Jasa Tania Tbk (ASJT), PT Bumi Citra Permai Tbk (BCIP), dan PT Protech Mitra Perkasa Tbk (OASA).

    Selain itu, juga ada PT Arthavest Tbk (ARTA), PT Nusantara Infrastructure Tbk (META), PT Sat Nusapersada Tbk (PTSN), PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK), dan PT Indo-Rama Synthetics Tbk (INDR).

    “Top ten gainers tidak direkomendasikan semua karena banyak yang kurang liquid dan sentimen positifnya tidak jelas,” tutur Aditya.

    Terlebih lagi, rata-rata seluruh harga saham tersebut terbilang begitu mahal saat ini. Dengan demikian, Aditya menyatakan, 10 saham itu terlalu berisiko bagi pelaku pasar.

    “Saya lihat sudah tinggi (harga saham), kalau dibeli mahal merugikan pelaku pasar. Jadi baik pelaku pasar ritel dan institusi sebaiknya tidak beli,” papar Aditya.

    (cnn/cnn)



    Komentar Pembaca: