SKK Migas Akui Bisnis Gas Cair Skala Kecil Masih Stagnan

    Jumat, 2 November 2018 - 10:01 Editor : Redaksi Dibaca : 65 Views

    Menit.co.id – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengakui perkembangan bisnis penyaluran gas alam cair (Liquified Natural Gas/LNG) dalam skala kecil cenderung lambat. Kondisi ini dipengaruhi minimnya infrastruktur.

    Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi mengungkapkan kebutuhan LNG domestik mulai meningkat terutama sejak harga minyak mentah dunia naik pada 2008. Amien memaparkan 60 persen pasokan gas alam cair digunakan untuk kebutuhan domestik, sedangkan 40 persen alokasi LNG untuk kebutuhan pasar ekspor. Indonesia sudah menjadi eksportir LNG sejak tahun 1997.

    Artinya, banyak potensi pasar LNG dalam negeri yang bisa digarap pelaku bisnis. Sayangnya, untuk distribusi dalam skala kecil seperti hotel, apartemen, rumah sakit dan pusat perbelanjaan belum maksimal.

    “LNG identik dengan pasokan besar menggunakan kapal besar, padahal LNG bisa dimanfaatkan untuk besar kecil.” kata Amien di kantornya, Kamis (1/11).

    Amien melanjutkan dua produsen utama gas alam cair Indonesia adalah Badak LNG di Bontang, Kalimantan Timur dan LNG Tangguh di Teluk Bintuni, Papua. Sementara itu, kebutuhan gas alam cair dominan dari wilayah Indonesia barat, seperti Jawa dan Sumatera.

    Selain itu, LNG membutuhkan alat transportasi khusus baik kapal maupun kontainer LNG. Untuk itu, Amien mendorong pelaku bisnis untuk bersinergi dalam penyaluran gas alam cair bagi konsumen.

    “Mudah-mudahan kita bisa create (membuat) bisnis yang ujung awalnya adalah LNG. Create bisnis ini penting, karena kalau saya lihat potensi bisnisnya ada,” ujarnya.

    Harga LNG Skala Kecil Masih Mahal

    Dalam kesempatan yang sama, Andy Jaya Herawan, Direktur Utama PT Laras Ngarso Gede mengungkapkan harga gas alam cair dalam skala kecil terbilang mahal.

    PT Laras Ngarso Gede merupakan penyalur gas alam cair dalam skala kecil. Perusahaan membeli LNG dari Bontang kemudian mendistribusikannya kepada hotel-hotel di Pulau Jawa dan Bali.

    Andy mengatakan harga gas LNG yang sampai ke tangan konsumen US$20-US$21 per MMBTU. Sedangkan harga LNG dari hulu dipatok sebesar US$8-US$9 per MMBTU.

    “Memang harga yang ada di ujung saat ini masih terlalu mahal sehingga tidak banyak orang yang tertarik,” ujarnya.

    Andy tidak menampik, hanya hotel-hotel dengan jaringan besar yang memanfaatkan gas LNG dari penyalur langsung. Alasan mereka bertahan menggunakan gas alam cair dari penyalur langsung lantaran perhatian dengan isu ramah lingkungan. Untuk mendorong perkembangan bisnis penyaluran LNG dalam skala kecil ini, Andy bilang pemerintah perlu membedakan harga domestik dengan harga ekspor.

    “Ke depan LNG untuk domestik jangan ikut harga untuk ekspor, adalah harga untuk domestik, sehingga semua orang pindah dan mengurangi impor BBM untuk LPG,” kata Andy.

    (cnn/cnn)



    Komentar Pembaca: