Pernikahan Langka di Makam Keramat Habib Cikini

    Minggu, 14 Oktober 2018 - 17:40 Editor : Redaksi Dibaca : 102 Views

    Menit.co.id Ada yang menarik dari perayaan pernikahan tadi, Minggu pagi (14/10) yang digelar di Makam Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi, Cikini.

    Kebetulan, keluarga mempelai dari pihak laki-laki, Habib Muhdhor Al Habsyi adalah putra dari keluarga Khodimul Maqom (Pelayan makam), Al Habib Muhammad Amin Al Habsyi yang juga keturunan dari Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi, ayah dari Habib Ali Al Habsyi Kwitang.

    Mungkin tidak lazim, perayaan pernikahan digelar di makam keramat. Tapi menjadi lazim ketika perayaan itu dipoles dengan pembacaan ziarah di depan makam Al Habib Abdurrahman Al Habsyi yang dikenal dengan keramat air.

    Perayaan pernikahan juga dimeriahkan dengan pembacaan maulid Nabi Muhammad SAW dan kasidah-kasidah yang dibawakan secara merdu oleh ustaz Taufiq yang juga termasuk orang yang membaktikan dirinya kepada makam keramat Habib Abdurrahman. Acara pernikahan berlangsung penuh rasa cinta tanpa melalaikan aspek religius dan sakralitas makam keramat.

    Kata Habib Muhdhor Alatas, sengaja perayaan pernikahan keluarga Habib Amin digelar di makam Habib Abdurrahman Al Habsyi. Rencananya memang akad nikah mau digelar di makam ini dengan mendatangkan Habib Umar bin Hafidh, ulama kharismatik asal Hadhramout, Yaman, yang kebetulan lagi berada di Jakarta, dan tadi pagi ada di Kwitang.

    Tapi karena kondisi yang tak memungkinkan untuk menghadirkan Habib Umar bin Hafidh ke makam keramat Cikini, tempat berlangsungnya perayaan pernikahan, maka mempelai laki-laki pun didatangkan ke Kwitang dan akad pun dilangsungkan dengan pembacaan akad oleh Habib Umar bin Hafidh. Alhamdulillah.

    Terkait tempat makam keramat Cikini yang digunakan untuk perayaan pernikahan, Habib Muhdhor Alatas mempersilakan kepada masyarakat umum untuk menggunakan makam keramat Habib Cikini yang terawat dengan baik untuk acara akad nikah. Menurut Habib Muhdhor Alatas, makam keramat itu tempat suci, maka harus diisi dengan acara-acara sakral seperti pernikahan.

    “Kami yakin almarhum Habib Abdurrahman Al Habsyi di akhirat sangat senang dengan pemandangan sakral seperti ini. Kami meyakini sesuai dengan penjelasan ayat Al Quran, manusia-manusia seperti Habib Abdurrahman masih hidup bahkan mereka terus dilimpahkan rejeki,” jelas Habib Muhdhor Alatas yang bertanggung jawab penuh atas kondisi fisik makam keramat Cikini.

    Ketika ditanya terkait biaya pemakaian tempat keramat, Habib Muhdhor Alatas menjelaskan tidak ada pemungutan biaya. Habib Muhdhor pun sedikit bernada tinggi sambil mengatakan, tempat ini bukan milik pribadi tapi milik wakaf yang terlebih bersangkutan dengan makam keramat Habib Cikini. “Bila ada biaya masuk, langsung dialokasikan untuk biaya perawatan makam keramat Habib Cikini,” kata Habib Muhdhor Alatas.

    Tentu pengertian perayaan akad nikah bukan pesta pernikahan yang terkadang menabrak batasan-batasan agama. Yang dimaksud perayaan di sini adalah perayaan akad nikah yang melangsungkan ikatan suci yang dicintai oleh Allah SWT dan Rasul-Nya, bukan pesta pora.

    Perayaan yang digelar di makam keramat Habib Abdurrahman harus dipoles dengan pujian-pujian kepada Allah SWT dan manusia-manusia suci pilihan-Nya, terkhusus kepada Nabi Besar Muhammad SAW.

    Semoga kabar gembira bagi mempelai muda terkait memungkinkannya menggelar acara akad pernikahan di makam keramat Cikini menjadi spirit tersendiri dan awal keberkahan bagi pasangan mempelai untuk memulai hidup baru.

    Terlebih bagi pasangan dan keluarga yang meyakini, manusia-manusia yang meninggal di jalan Allah dan menjadi pelayan umat tidak lah mati sebagaimana yang disinggung dalam ayat Al Quran;

    “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Baqarah: 154)

    Sebagaimana sudah menjadi tradisi keagamaan di negeri ini, manusia-manusia keramat itu bisa menjadi perantara untuk dekat kepada Nabi SAW sebagai makhluk yang terdekat dengan Allah SWT. Tanpa melalui pintu Rasulullah Saw, seorang muslim tak bisa dekat dengan Allah SWT.

    Karena itu, umat Islam setiap hari mengucapkan salam secara langsung kepada Nabi Muhammad SAW secara langsung dalam salat lima waktu; salam kepadamu, wahai Rasulullah SAW atau Assalamu alaika ayyuhan Nabi SAW.

    Oleh: Alireza Alatas

    Penulis adalah pembela ulama dan NKRI serta Aktivis Silaturahmi Anak Bangsa -SILABNA-



    Komentar Pembaca: