Dosen UGM: Kemunculan Cacing Anisakis Dinilai Fenomena Alami

    Rabu, 4 April 2018 - 09:54 Editor : Redaksi Dibaca : 84 Views

    Menit.co.id – Temuan cacing anisakis dalam sejumlah merek produk ikan makarel kalengan belum lama ini menimbulkan keresahan bagi masyarakat. Namun, Dosen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Eko Setyobudi menilai, kemunculan anisakis di ikan laut merupakan hal biasa.

    “Keberadaan anisakis di ikan laut merupakan fenomena biasa yang terjadi secara alami,” kata Eko di Departemen Perikanan UGM, Selasa (3/4).

    Ia mengatakan, anisakis merupakan kelompok nematoda dari famili anisakidae yang umum ditemukan sebagai parasit pada berbagai jenis ikan laut di seluruh dunia. Sementara, penyebarannya melibatkan krustasea, ikan, cumi-cumi dan mamalia laut sebagai inang.

    Secara umum, siklus hidup anisakis dicirikan dengan empat kali moulting. Hanya stadia larva-2 yang bersifat hidup bebas dalam perairan dan akan berubah jadi larva-3 setelah masuk tubuh krustasea laut karena proses pemangsaan.

    Anisakis yang menginfeksi ikan atau cephalopoda berada dalam tahap larva-3 dengan ukuran kurang lebih 2-4 centimeter. Sedangkan, untuk tahap anisakis dewasa hanya ditemukan pada mamalia laut.

    Eko menjelaskan, infeksi anisakis dalam organisame laut telah diteliti beberapa studi dan sejumlah besar spesies ikan dan cephalopoda rentan terhadap infeksi nematoda. Sampai saat ini, tidak kurang 200 jenis ikan dan 25 jenis cephalopoda telah dilaporkan terinfeksi.

    Adapun jenis ikan yang banyak dilaporkan terinfeksi anisakis seperti atlantic mackerel, horse mackerel, blue mackerel, indian mackerel dan hering. Departemen Perikanan UGM sendiri telah melakukan penelitian terkait itu.

    “Hasil penelitian Departemen Perikanan UGM juga menunjukkan kalau beberapa spesies ikan di Samudera Hindia selatan Jawa juga terinfeksi oleh nematoda ini,” ujar Eko yang menekuni penelitian anisakis sejak 2006.

    Anisakis terdiri dari banyak spesies dan di antaranya diyakini hanya terdistribusi dalam area terbatas. Eko mencontohkan pada anisakis simplex, lebih banyak ditemukan di belahan bumi utara bagian barat serta timur Samudera Atlantik dan Pasifik.

    Namun, anisakis simplex kedang ditemukan di perairan barat Mediterania, khususnya dalam ikan pelagis yang melakukan migrasi dari Samudera Atlantik. Sedangkan, anisakis yang teridentifikasi di Samudera Hindia selatan Jawa merupakan anisakis typica.

    “Tingkat prevalensi dan intensitas infeksi anisakis sp terhadap suatu jenis ikan sangat dipengaruhi oleh wilayah geografis, habitat dan musim. Namun, ikan yang hidup atau migrasi ke daerah endemik anisakis berpeluang lebih besar terkena infeksi,” kata Eko.

    Prevalensi dan intensitas infeksi cenderung meningkat sejalan peningkatan ukuran atau usia ikan. Anisakis dapat hidup pada rongga perut, saluran pencernaan, organ tubuh bahkan dalam daging, dengan preferensi yang berbeda untuk tiap jenis inang.

    Eko mengungkapkan, di negara-negara maju seperti Kanada, ikan diketahui miliki prevalensi larva anisakis tinggi diperiksa keberadaan nematoda di pengolahan. Daging ikan terinfeksi berat dilakukan pemotongan bahkan dibuang, demi hindari kerugian dan mencegah ke manusia.

    Untuk mengurangi resiko keberadaan anisakis dalam industri pengolahan ikan, ia menekankan pentingnya memastikan ikan bahan baku yang diperoleh bukan berasal dari daerah dan musim-musim penangkapan yang bebas infeksi anisakis.

    Selain itu, perlu dilakukan sampling terhadap bahan baku akan kemungkinan infeksi nematoda dan melakukan prosedur standar operasional penanganan bahan baku yang dicurgiai terinfeksi dengan membuang bagian yang terinfeksi.



    Komentar Pembaca: