Cara Mengenali dan Membantu Anak Sensitif untuk Mengelola Emosi

    Senin, 2 April 2018 - 19:56 Editor : Redaksi Dibaca : 95 Views

    Menit.co.id Apakah Bunda melihat Anak sering menangis atau marah berlebihan saat mendengar perkataan orang lain saat bercanda? Atau, ia menangis kencang dan lama, hanya karena tidak mendapat balon merah seperti temannya. Ada kemungkinan anakanak dengan ciri tersebut, termasuk anak yang sensitif secara psikologis.

    Anakanak ini memang secara alami sering bereaksi berlebihan terhadap sesuatu yang sebenarnya biasa saja. Namun, sekitar 15-20% anak memang lahir dengan sistem saraf yang lebih waspada dan cepat bereaksi terhadap hal yang terjadi di sekitarnya. Tidak hanya pada tindakan atau kata-kata orang lain, tapi juga pada bau, suara, cahaya, bahkan mood orang-orang di sekitarnya. Balita yang cukup sensitif bahkan tidak jarang bisa membaca emosi orang tuanya lho, Bunda.

    Emosional dengan Empati Tinggi
    Menurut psikolog, pola pengasuhan orang tua terutama di usia dini, akan menentukan apakah sensitivitas ini akan menjadi sesuatu yang meresahkan dan menimbulkan kecemasan berkepanjangan atau justru sebuah kelebihan yang dimiliki anak. Bunda disarankan agar dapat mendampinginya dengan tepat, sehingga ia nanti mampu mengelola emosinya dengan baik dan positif.

    Menjadi orang tua dari anak yang terlalu sensitif memang dapat menjadi tantangan tersendiri. Anak-anak yang cepat tanggap ini sering merasa kewalahan jika berada dalam tekanan atau stres karena situasi baru, perubahan yang tiba-tiba, maupun keramaian.

    Selain itu, ia juga merasakan peristiwaperistiwa tertentu seperti kekalahan dan kritik secara mendalam. Ada anak yang dapat menangis hanya dengan mendengarkan musik. Ada juga yang tidak tahan melihat adegan kekerasan dalam film. Ini mengapa anak seperti ini sering diberi label anak emosional, pemarah, suka menangis atau anak pemalu.

    Padahal di sisi lain, anak yang sangat sensitif sebenarnya memiliki perhatian, kasih sayang, kelembutan, dan kreativitas tinggi. Misalnya ia bisa ikut merasakan apa yang dirasakan temannya yang sedang mengalami perundungan (bully).

    Tips Mendampingi Anak Sensitif
    Anak sensitif perlu pendampingan yang tepat dari orang tua agar sensitivitas yang dimiliki, dapat menjadi sarana kreativitas dan empati, sehingga ia mampu mengelola emosinya dan mempergunakannya untuk hal-hal yang positif. Berikut beberapa panduan bagi orangtua yang memiliki anak yang terlalu sensitif:

    Sensitivitas perlu dianggap sebagai sesuatu yang positif
    Orang tua ataupun psikolog tidak dapat mengubah anak sensitif menjadi anak yang lebih tidak sensitif atau menjadi cuek seperti anak lain. Yang bisa dilakukan adalah mengelola sensitivitas menjadi nilai lebih. Tidak mudah untuk tetap tenang saat si Kecil terus menerus menangis karena hal yang tidak penting. Tetapi sensitivitas juga adalah ciri yang dimiliki para seniman seperti musisi, pelukis, aktor. Oleh karenanya, jika diarahkan dengan tepat, anak yang sensitif dapat menuangkan emosinya untuk berkreasi seperti dalam gambar, musik, atau karya lain.

    Mendisiplinkan dengan cara khusus
    Mendisiplinkan anak sensitif dengan keras justru akan membuatnya semakin tertekan dan berisiko menimbulkan ledakan energi di satu waktu, seperti tantrum. Namun bukan juga berarti anak sensitif tidak boleh didisiplinkan. Bunda dapat membantunya menangani emosinya misalnya dengan melatih pernapasan saat marah. Bunda juga dapat membantu membuat keseharian anak lebih terstruktur dengan kalimat-kalimat yang lebih diplomatis seperti, “Nontonnya lima menit lagi ya. Sesuai janji, kita tidur jam 9 malam.” Ini lebih baik daripada tiba-tiba Bunda mematikan TV dan menyuruhnya tidur saat itu juga dengan suara kencang.

    Ajarkan anak untuk mengelola emosi
    Saat ia menangis, menyuruhnya untuk berhenti menangis mungkin justru akan membuat tangisnya makin kencang. Bunda dapat mencoba menghentikan tangisnya dengan bermain dan tiba-tiba berseru, “Jadi patung!” Jika berhasil, jeda ini memberi Bunda dan si Anak kesempatan untuk menarik napas panjang dan menenangkan diri. Bunda juga dapat mengalihkan perhatiannya. Misalnya,mengajak anak berhitung angka 1 sampai 10 dengan kencang.

    Minta anak menceritakan alasan tindakannya
    Jika ia sudah bisa menceritakan pengalamannya, ajak ia untuk bercerita alasan mengapa ia menangis, dan apa yang dapat dilakukan bersama untuk membuatnya merasa senang. Bunda juga dapat melontarkan ide seperti mengajak temannya untuk bermain di rumah, menggambar, atau bermain di taman.

    Mengubah momen buruk menjadi positif
    Jika anak menangis karena diejek, Bunda dapat mengubah momen ini menjadi waktu untuk berdialog. Ajak anak untuk memahami bahwa tidak apa-apa untuk berbeda, dan bahwa ia tidak perlu terlalu mendengarkan perkataan buruk orang lain. Mungkin ia tidak akan langsung memahami. Tetapi seiring waktu, kata-kata Bunda akan ia ingat dan membentuk kepercayaan dirinya.

    Berikan waktu menyendiri
    Anak yang terlalu sensitif cenderung mudah terpengaruh situasi di lingkungannya, termasuk di sekolah maupun di rumah. Sehingga memerlukan sebuah tempat atau aktivitas khusus yang membuatnya tenang. Bunda dapat memperhatikan di mana dan kapan ia merasa tenang, serta bagaimana kebutuhan ini dapat terpenuhi.

    Tugas Bunda mungkin jadi lebih menantang jika kondisi psikis yang terlalu sensitif terjadi pada anak laki-laki yang tidak umum untuk mudah menangis dan menunjukkan emosi. Dalam hal ini, Bunda perlu menerima dan mengapresiasi si Kecil, termasuk perasaannya yang dalam dan responsnya yang berbeda dari anak-anak lain. Anak yang lebih dewasa cenderung untuk tidak menampakkan perasaannya dan menekan sensitivitasnya. Tetapi ia perlu belajar untuk mencintai diri sendiri dan tahu kapan saat ia tidak perlu terlalu memikirkan orang lain.

    Selain hal-hal di atas, sensitivitas juga dapat diperburuk oleh kondisi lain seperti kurang tidur atau pola makan tidak teratur. Juga dapat dipicu perubahan besar seperti kelahiran adik baru atau kelas dengan teman-teman baru. Jika ini yang terjadi, Bunda dapat membantu si Kecil untuk belajar beradaptasi.

    Bila anak tampak terlalu sensitif secara berlebihan hingga mengganggu keseharian dan prestasinya, ada baiknya bila Bunda mengonsultasikannya pada psikolog anak. Pada akhirnya, anak sensitif perlu panutan agar ia dapat menggunakan “kelebihannya” di tengah dunia yang sering menganggap sensitivitas sebagai kekurangan. Menjadi orang tua yang dapat mengelola emosi, bukan menekan atau membiarkannya lepas kendali, adalah hal penting yang akan ia ingat untuk dijadikan sebagai teladan. Dikutip dari alodokter.com.

    (zik/zik)



    Komentar Pembaca: