Dedi Rusdi ST

    Luruskan Niat Majukan Dumai Timur-Medang Kampai

    Rabu, 14 November 2018 - 11:35 Editor : Redaksi Dibaca : 84 Views

    Menit.co.id SEGALA perbuatan diawali dengan niat. Bila diawali dengan niat baik, maka akan mendatangkan kebaikan. Namun sebaliknya, bila diawali dengan niat yang tidak baik, maka niscaya tidak akan membuahkan keberkahan.

    Prinsip ini dipegang teguh Dedi Rusdi ST. Pria keturunan Sumatera Barat yang beragama Islam ini memandang bahwa untuk memajukan Dumai Timur dan Medang Kampai harus diawali dengan niat yang baik dari penyelenggara pemerintahan.

    Baik itu di lembaga DPRD, maupun di pihak eksekutif sendiri. Tanpa itu, diyakininya tidak akan mendapat ridho Allah SWT. Alhasil, bakal terjadi berbagai ketimpangan.

    Beranjak dari niat baik itu dan rasa keprihatinan terhadap kondisi daerah dan berbagai fenomena yang terjadi di tengah masyarakat, Dedi terpanggil untuk ikut berkecimpung dalam kegiatan politik praktis.

    Bagi pria kelahiran Dumai, 18 Mei 1982 lalu itu, bila tidak masuk dalam dunia politik, tentu dirinya tak akan bisa berbuat banyak dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat dan tak bisa berkontribusi lebih banyak dalam memajukan daerah.

    Karena itulah, dia merasa perlu masuk ke dalam sistem pemerintahan. Apalagi, di daerah ini sudah banyak persoalan yang masih menuntut penyelesaian. Yang kini menjadi Pekerjaan Rumah (PR) semua pihak.

    Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) menjadi pilihan Dedi Rusdi ini sebagai wadah perjuangannya untuk kepentingan masyarakat dan daerah. Pilihannya itu bukan tanpa alasan yang kuat.

    Partai besutan Prabowo Subianto itu dinilainya cocok sebagai wadah untuk berjuang memajukan masyarakat dan daerah. “Partai Gerindra tidak hanya merupakan partai yang bersifat nasional, tapi berasas Pancasila,” katanya.

    Dirinya bersama timnya pun telah melakukan sosialisasi ke wilayah dapil 2 yang meliputi Kecamatan Dumai Timur-Medang Kampai, yang terdiri 9 Kelurahan, yakni Jaya Mukti, Teluk Binjai, Buluh Kasap, Bukit Batrem, Tanjung Palas, Mundam, Teluk Makmur, Guntung, dan Pelintung.

    Bahkan, menurutnya, pendiri-pendiri dan tokoh-tokoh partai Gerindra sangat getol dalam pembelaannya terhadap ummat, tanpa memandang suku dan agama. Makanya Gerinda punya motto menjadi parpol yang mampu menciptakan kesejahteraan rakyat, keadilan sosial dan tatanan politik negara yang melandaskan diri pada nilai-nilai nasionalisme dan religiusitas.

    Bersama partai berlambang burung Garuda itu, dia bertekad akan berjuang untuk mencarikan solusi dalam mengatasi berbagai persoalan daerah dan masyarakat, yang dinilainya saat ini dalam kondisi memprihatinkan.

    Karena itulah dirinya ikut serta mendaftar sebagai Calon Anggota Legislatif (Caleg) DPRD Kota Dumai pada Pemilu 2019 nanti. Peraih gelar S1 ini menyorot tentang program pembangunan yang tidak merata, terutama di daerah pinggiran.

    Sebagaimana yang dapat diperhatikan sehari-hari tentang pembangunan infrastruktur jalan, parit, listrik, dan lainnya, yang masih terbatas di daerah pinggiran terutama di Kecamatan Dumai Timur dan Medang Kampai.

    Begitu pula tentang para pelajar yang lebih selesa menghabiskan waktu di depan warnet. Bahkan, hingga subuh hari tanpa batasan waktu yang jelas. Persoalan dekadensi moral generasi muda daerah ini yang sangat mengkhawatirkan.

    Persoalan anak daerah yang tak terserap lapangan kerja, padahal Dumai merupakan kota industri. Selain itu, juga persoalan ekonomi masyarakat yang tak luput dari perhatiannya, terutama masyarakat yang terjerat rentenir dalam mengatasi kesulitan ekonominya.

    Yang paling krusial baginya adalah di bidang pendidikan. Dimana pelajaran agama yang sangat sedikit didapat anakanak di sekolah. Padahal, dengan pelajaran agama itu sangat menentukan moral generasi muda bangsa ini.

    “Persoalan-persoalan yang dialami masyarakat itu tentunya harus diperjuangkan di DPRD untuk mendapatkan solusinya. Selama ini masyarakat sangat mengeluhkan bahwa aspirasi mereka tidak diakomodir dengan baik,” ucapnya.

    Begitu pula dalam bidang pendidikan. Pendidikan agama sebagai mata pelajaran wajib juga harus ditambahkan yang setara dengan pendidikan agama untuk dijadikan muatan lokal dalam pendidikan rohani sesuai dengan agama masing-masing.

    Dengan demikian anakanak generasi muda harapan bangsa akan memiliki moral yang lebih baik. Sehingga kekhawatiran terhadap akan terjadinya dekadensi moral dapat diantisipasi sedini mungkin.

    Sementara untuk mengatasi masyarakat agar tak terjerat rentenir, maka perlu membentuk lembaga ekonomi yang bisa memberikan pinjaman tanpa bunga. Misalnya dengan membentuk wadah koperasi madani. Menghimpun dana zakat mal untuk kegiatan ekonomi produktif masyarakat.

    Hal itu adalah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. “Untuk masalah tenaga kerja, maka pihak Disnaker harus mengaktifkan BLK untuk memberikan pelatihan keterampilan kerja sesuai dengan kebutuhan perusahaan di daerah ini,” katanya.

    Dengan demikian, lanjutnya, tak ada lagi alasan bahwa tenaga kerja lokal tidak punya kemampuan. Begitu pula harus menggalakkan pelatihan wira usaha, sehingga anak-anak daerah ini siap untuk masuk dalam dunia usaha.

    Apapun persoalan yang terjadi di tengah masyarakat, maka perlu segera disikapi dengan bijak dan harus diperjuangkan untuk dicarikan solusinya. Karena itulah anak H Ambo (alm) pemilik Travel Karya Maju, itu bertekad akan fokus menyerap aspirasi masyarakat, bila dirinya kelak dipercaya masyarakat untuk duduk di DPRD Kota Dumai.

    Dedi Rusdi tidak canggung masuk ke dalam dunia politik. Selain berbekal pendidikan sarjana, dia pun telah ditempa dalam berbagai kegiatan organisasi di tengah masyarakat. Bahkan, dipercaya mengemban berbagai jabatan.

    Apapun keputusan masyarakat pada Pemilu tahun 2019 nanti, bagi Dedi Rusdi hal itu adalah ketentuan Allah SWT. Namun, dia berharap agar masyarakat jeli dalam memilih calon anggota legislatif sebagai wakil rakyat dan calon pemimpin masa depan, yang lebih baik dan berkwalitas, serta pro dengan masyakat kecil.

    (Raudhah Tussofa)



    Komentar Pembaca: