Sosok Pilot Lion Air JT-610 Bhavya Suneja di Mata Keluarga

    Rabu, 31 Oktober 2018 - 14:33 Editor : Redaksi Dibaca : 105 Views

    Menit.co.id Pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkalpinang yang jatuh di Karawang, Jawa Barat, membawa 189 orang. Salah satu pilotnya, Bhavya Suneja.

    Bhavya diketahui berniat pulang ke New Delhi pada awal November ini dan teman-temannya di India menjadi korban meninggal dalam peristiwa ini, Bun.

    Bhavya Suneja merupakan warga negara India. Beberapa waktu lalu, dilaporkan keluarga telah menantikan kedatangannya untuk merayakan Karva Chauth. Namun, takdir berkata lain.

    Bhavya menjadi korban dalam peristiwa jatuhnya pesawat Lion Air Jt 610. Diketahui, Bhavya menikah dengan wanita bernama Garima Sethi pada 2016 dan keduanya tinggal di Jakarta, Indonesia.

    “Baru dua hari yang lalu Garima berbagi kegembiraannya untuk mengenakan kain sari untuk suaminya pertama kali di perayaan Karva Chauth. Bagaimana mungkin berita ini menjadi kenyataan?” kata Manvi Dua, teman dekat Garima seperti dilansir The Indian Express.

    Sekadar info nih, Bun, Karva Chauth adalah festival 1 hari di mana wanita beragama Hindu yang sudah menikah melakukan puasa untuk mendoakan keselamatan dan umur panjanh suaminya.

    Bhavya diketahui berniat pulang ke New Delhi pada awal November ini dan teman-temannya di India menjadi korban meninggal dalam peristiwa ini, Bun.

    Sebelum ikut suami bekerja di Indonesia, Garima sempat bekerja di The Indian Express sebagai finance manager. Manvi yang merupakan teman dekat pasangan ini tak kalah terguncang mendengar Bhavya Suneja telah pergi selamanya.

    “Bhavya telah meminta saya bersiap-siap datang ke pesta. Dia seharusnya datang ke Delhi pada 5 November. Ini benar-benar tidak bisa dipercaya,” tambah Manvi.

    Teman dekat lain, Rohit Singh, mengatakan, Bhavya dan Garima sebenarnya sudah merencanakan perjalanan ke Maneshwar di Uttarakhand setelah bertemu di India nanti. Karena hobi pasangan ini adalah berkendara jauh.

    “Garima dan saya sudah berteman selama bertahun-tahun. Hubungan saya dengan suaminya juga sama kuatnya. Tahun lalu, dia memberi saya hadiah drum saat berulang tahun. Dia baik sekali,” kata Rohit.

    Tetangga Bhavya Suneja, Anil Gupta mengatakan, ia dan keluarganya mengenal Bhavya sejak kecil. Setiap bertemu, Bhavya selalu menyapa, ‘Hai apa kabar om?’.

    Rencananya, Bhavya akan merayakan Diwali pada tanggal 7 November. Dia juga sudah ditunggu orang tua dan adik perempuannya. Kabar meninggalnya Bhavya pastinya mengguncang keluarga.

    “Seluruh keluarga sedang berduka saat ini dan tidak seorang pun siap mengatakan apapun. Semuanya akan ke Indonesia. Apa yang akan terjadi selanjutnya bergantung kepada apa yang dialami di sana,” kata Paman Bhavya seperti dikutip dari BBC Indonesia.

    Keluarga Bhavya Suneja sudah tinggal di India selama hampir 30 tahun. Mereka ramah dan dikenal semua orang. Bhavya bersekolah di Alcon School sampai tahun ke-12, kemudian dia memulai pelatihan menjadi pilot.

    “Ayah Suneja, Gulshan Suneja sangat gembira ketika anak laki-lakinya jadi pilot. Kami biasanya mengunjungi rumahnya. Anakanak ini biasa bermain di pangkuan kami,” kata KS Chauhan, teman dari keluarga Bhavya.

    Bhavya Suneja (31) menjadi pilot Lion Air sejak tahun 2011. Ia diketahui tinggal di Jakarta bersama istrinya, Garima Sethi. Bhavya mendapatkan lisensi pilotnya dari Bel Air International pada 2009.

    Kehilangan pasangan atau salah satu anggota keluarga pastilah sangat berat bagi pihak yang kehilangan. Nah, ketika seseorang berkabung karena kehilangan pasangan atau orang yang dicintai, ada 5 fase yang dialami. Fase ini disebut DABDA (Denial, Anger, Bargaining, Depression, Acceptance) yang dikenalkan pertama kali oleh psikiater Swiss, Kubler-Ross.

    Gejala yang muncul dalam fase ini seperti dilansir Psycom adalah, menangis, sakit kepala, sulit tidur, mempertanyakan tujuan hidup dan keyakinan spiritual, mengisolasi diri, khawatir, gelisah, frustasi, marah, kehilangan selera makan dan tertekan.

    Tips menghadapi gejala ini agar tak berlarut adalah melakukan konseling ke ahlinya yang bisa jadi pendekatan yang solid untuk membantu mengurangi kesedihan yang belum terselesaikan. Jika Bunda atau orang terdekat mengalami kesulitan dalam menghadapi peristiwa duka, carilah perawatan dari penyedia kesehatan profesional atau kesehatan mental.

    Hubungi dokter segera jika orang tersebut atau kita sampai punya pikiran bunuh diri, perasaan tidak berguna selama lebih dari dua minggu, mengalami perubahan perilaku mendadak, atau merasa depresi.

    Sumber: Hai Bunda



    Komentar Pembaca: