Cara Meluruskan dan Merapatkan Shaf Sholat yang Tepat

    Rabu, 9 Januari 2019 - 22:37 Editor : Redaksi Dibaca : 42 Views

    Para ulama punya banyak pandangan mengenai hal ini.

    Menit.co.id Setiap kali sholat berjemaah, imam sering mengingatkan agar makmum meluruskan dan merapatkan shaf. Ini karena lurus dan rapatnya shaf merupakan keutamaan sholat berjemaah.

    Sementara, banyak di antara kita memahami lurus dan rapatnya shaf diukur dari menempelnya jari kaki makmum satu dengan lainnya. Dengan begitu, tidak ada ruang kosong di antara para makmum.

    Tetapi, seringkali jari kaki makmum justru menindih jari makmum lainnya. Sehingga makmum tersebut sedikit risih.

    Tentu hal ini dapat menganggu kekusyukan sholat orang lain. Lantas, bagaimana cara meluruskan dan merapatkan shaf yang tepat?

    Tidak Ada Celah Kosong
    Dikutip dari bincangsyariah, beberapa ulama yang menjelaskan ketentuan shaf sholat diantaranya Imam An Nawawi dalam kitab Al Majmu’.

    Menurut Imam Nawawi, lurusnya shaf yaitu dengan memenuhi shaf pertama lebih dulu dan disambung dengan shaf berikutnya. Juga menutup celah kosong yang ada pada shaf.

    Hal ini termasuk pula menyejajarkan barisan diukur dari lurusnya dada makmum. Tidak ada yang lebih ke depan maupun ke belakang.

    Pun demikian dengan tumitnya. Seluruhnya rata dan tidak ada yang menjorok ke belakang.

    Menempel Rapat Bisa Menyakiti Makmum Lain
    Syeikh Zainuddin Al Malibari dalam Fathul Mu’in menjelaskan lurusnya shaf berarti kesejajaran bahu dan tumit antar makmum, bukan ujung jarinya kakinya. Karena jari kaki seseorang bisa berbeda panjangnya dengan orang lain.

    Sedangkan kerapatan shaf diukur dari ada tidaknya celah kosong di antara makmum. Pandangan ini juga dipegang para ulama dalam kitab Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah.

    Abu An Naja Musa ibn Ahmad ibn Musa Al Hijawi, ulama Mazhab Hambali, juga membahas hal ini dalam kitabnya Zac Al Mustaqni’ fi Ikhtishar Al Muqni. Bahkan kitab ini disebut sebagai kitab kecil yang kandungannya padat dan lengkap oleh Syeikh Muhammad ibn Sholeh Al ‘Utsaimin, mantan Mufti Kerajaan Arab Saudi.

    Dalam kitab tersebut, Abu An Naja mengatakan yang dimaksud rapatnya shaf bukanlah berdesak-desakan atau menempelnya makmum satu dengan lainnya secara ketat. Justru hal ini dapat menyakiti makmum lainnya.

    Sumber: Bincangsyariah.com



    Komentar Pembaca: