Kisah Jemaah Haji Indonesia Tertua dan Kerinduan Melihat Kabah

    Selasa, 29 Agustus 2017 - 08:48 Editor : Redaksi Dibaca : 106 Views

    Menit.co.id – Raut bahagia terpancar dari wajah Baiq Mariah, jemaah haji tertua di dunia yang berusia 104 tahun. Dia berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat, atau NTB.

    Kedatangan Nenek Mariah mendapat perhatian media internasional. Termasuk juga Pemerintah Arab Saudi. Sambutan meriah digelar, saat Baiq Mariah tiba di Bandara Jeddah beberapa hari lalu.

    Nenek yang berasal dari Desa Mambalang, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat, sempat bertanya-tanya, kenapa banyak kamera diarahkan kepadanya. Dia merasa kaget, apa salahnya sehingga banyak wartawan yang mengikutinya.

    Kepada Rahmi dan Burhanunddin, pasangan suami-istri yang bersedia mendampinginya, Baiq Mariah bertanya apa salahnya. Kenapa dia diperlakukan seperti ini. “Salah saya apa, kok saya seperti orang jahat?” kata Baiq Mariah dalam bahasa Lombok.

    “Bukan, ini orang senang sama Ibu, karena Ibu jemaah tertua dari seluruh dunia,” ujar Rahmi menjawab pertanyaan Baiq Mariah.

    Rasa bersalah rupanya melekat dalam diri Baiq Mariah. Sampai tiba di hotel, dia justru menunjukkan perilaku yang tak wajar. Nenek Baiq tidak mau diajak bicara. Dia juga tidak mau didekati saat tim Media Center Haji (MCH) datang.

    Tetapi, perlahan dengan pendekatan, kondisi Nenek Baiq mulai normal. Dia mulai tersenyum lagi. Bahkan, saat akan diajak umrah wajib dan melihat kabah, dia senang sekali.

    Tak sabar lihat Kabah

    Saat ditemui di Hotel Barkah Burhan, Senin 28 Agustus 2017, senyum bahagia terpancar dari wajah Baiq Mariah. Dia tak lagi takut dengan kamera. Tawanya lepas saat diajak berbincang. Dia bilang sudah tak sabar ingin segera melihat kabah.

    Berkali-kali, dia mengajak Rahmi untuk bergegas ke Masjidil Haram dan melihat kabah. Dari Rahmi, tim MCH mendapat banyak cerita tentang Nenek Mariah.

    “Nenek Mariah senang katanya sudah di Mekah. Dia mau buru-buru lihat kabah,” kata Rahmi, menerjemahkan perkataan Baiq Mariah dalam bahasa Lombok.

    Rahmi menceritakan, saat di Tanah Air nenek Mariah tidak pernah absen ikut bimbingan manasik. Dia sangat semangat sekali dan tidak menggunakan kursi roda.

    Begitu juga saat melempar jumrah dilalui dengan semangat. “Dibantu enggak mau. Jalan saja karena kuat dan sehat,” kata Rahmi.

    Menurut Rahmi, pertemuan dengan Nenek Mariah tak sengaja. Saat ada pembagian kelompok di Indonesia, kebetulan Nenek Mariah dimasukkan dalam kelompoknya. “Saya yakin sama Allah dan akan menjaga Ibu Mariah. Saya dan suami sudah sepakat menemani nenek,” ujarnya.

    Sementara itu, Ketua Sektor 3, Noor Hamid, membenarkan kalau Nenek Mariah sempat aneh perilakunya. Tetapi, hari ini dia sudah ceria lagi. Karena menjadi haji tertua saat ini, dia akan mendapatkan perlakuan khusus.

    Saat melakukan umrah, Nenek Mariah akan didampingi satu pembimbing ibadah. Termasuk nanti saat puncak haji di Armina.

    “Kondisinya sempat drop saat baru tiba. Karena dari perjalanan jauh. Lalu, kami berusaha menenangkan dan akhirnya bisa sehat kembali,” katanya.

    (vvc/vvc)



    Komentar Pembaca: