Mantan Menperin Menilai Aksi Pembantaian Etnis Rohingya Sangat Kejam

    Sabtu, 2 September 2017 - 20:14 Editor : Redaksi Dibaca : 394 Views

    Menit.co.id – Massa aksi yang mengatasnamakan Masyarakat Profesional Bagi Kemanusiaan Rohingya melakukan aksi di depan Kedutan Besar Myanmar, Sabtu (2/9).

    Aksi itu dilakukan sebagai bentuk solidaritas atas perlakuan rezim militer dan sipil Myanmar terhadap kaum muslim Rohingya. Sekitar 3000 etnis Rohingya harus melarikan diri ke perbatasan Bangladesh menghindari penyiksaan yang dilakukan rezim militer.

    Mantan Menteri Perindustrian (Menperin) Fahmi Idris terlihat hadir dalam aksi di depan Kedubes Myanmar. Dia mengecam keras pembantaian terhadap muslim Rohingya. Dalam pembantaian itu, banyak masyarakat Rohingya yang tak berdosa menjadi korban kekejian rezim militer dan sipil Myanmar.

    Anak kecil dibakar dan perempuan dibantai, terjadi pembunuhan etnis yang sangat kejam,” kata Fahmi di depan gedung Dubes Myanmar, Jakarta Pusat, Sabtu (2/9).

    Fahmi meminta pemerintahan Indonesia segera mengirimkan surat terhadap pemerintah Myanmar untuk menghentikan segala kekejaman terhadap Rohingya.

    Pembantaian kemanusiaan itu adalah cara biadab yang telah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). “Karena kalau dibiarkan begitu saja, akan terus melanjutkan aksinya,” ujarnya.

    Dalam aksi tersebut, terlihat beberapa massa aksi melakukan pembakaran terhadap beberapa poster bergambar Aung San Suu Kyi. Mereka mendesak pencabutan Nobel Perdamaian yang diterima Suu Kyi pada 1991.

    “Ini aksi biadab tidak bisa dibiarkan, ini saudara muslim. Harus dilawan. Bakar-bakar ayo bakar,” teriak salah seorang peserta aksi sambil membakar poster foto Aung.

    ‎Diketahui, Negara Bagian Rakhine adalah tempat bermukim sekitar 1,1 juta etnis Rohingya. Mereka hidup dalam kondisi miskin dan selalu dipinggirkan oleh penduduk mayoritas.

    Myanmar enggan mengakui mereka sebagai warga negara, sedangkan negara tetangga seperti Bangladesh menganggap mereka pendatang ilegal.

    PBB meyakini tindakan pasukan Myanmar sama saja dengan pembantaian etnis. Namun, Suu Kyi masih berkeras menyangkal tudingan itu.

    Bentrokan Rohingya menjadi eskalasi terbaru dari kekerasan yang telah melanda Rakhine sejak Oktober lalu. Saat itu, militer Myanmar menuding Rohingya menyerang pos keamanan di perbatasan di Rakhine sehingga menewaskan sekitar sembilan polisi.

    Dalam operasi balasan atas serangan tersebut, aparat keamanan Myanmar diduga menyiksa hingga membunuh warga Rohingya secara membabi-buta hingga menewaskan sedikitnya 80 orang dan memaksa sekitar 87 ribu Rohingya mengungsi ke luar Myanmar.

    Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa juga telah memberi kesimpulan bahwa militer Myanmar melakukan penyiksaan hingga pemerkosaan terhadap warga Rohingya di sana.

    Situasi di Rakhine kembali memburuk sekitar awal Agustus ketika tentara kembali memulai operasi yang mengakibatkan ketegangan bergeser ke kota Rathetaung, di mana masyarakat Buddha dan Rohingya tinggal berdampingan.

    (mdk/mdk)



    Komentar Pembaca: