Insiden Lion Air JT610, Keselamatan Penerbangan Dalam Tanda Tanya

    Senin, 5 November 2018 - 10:55 Editor : Redaksi Dibaca : 97 Views

    Menit.co.id Ada tiga hal yang perlu menjadi perhatian terkait kecelakaan yang dialami oleh pesawat Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT610.

    Pertama, penyelidikan terhadap penyebab kecelakaan. Kedua, penanganan keresahan publik atas keselamatan penerbangan kita. Ketiga, pencarian jenazah korban.

    Berkat kerja keras berbagai pihak, ada sejumlah kemajuan dalam pencarian bagian-bagian pesawat, yang sangat berguna bagi penyelidikan kecelakaan tersebut.

    Jumat (2/11/2018) siang tadi, misal, roda pesawat tersebut berhasil diangkat dari dasar laut. Sementara bagian mesin dan ekor pesawat yang sudah ditemukan kemarin, sampai siang tadi belum diangkat.

    Selain bagian-bagian badan dan mesin pesawat, Kamis (1/11/2018) kemarin satu bagian kotak hitam pesawat Boeing 737 Max 8 juga sudah ditemukan.

    Sertu Hendra, penyelam Batalyon Intai Amfibi dari Tim SAR TNI Angkatan Laut yang merupakan bagian dari tim SAR gabungan, menemukan satu bagian kotak hitam itu di lokasi sekitar 500 meter dari titik jatuhnya pesawat pada kedalaman 30 meter.

    Kotak hitam terdiri dari dua bagian. Pertama, Flight Data Recorder (FDR), yang berisikan data penerbangan. Kedua, Cockpit Voice Recorder (CVR), yang berisikan data percakapan di dalam cockpit pesawat. Keduanya sangat vital dalam penyelidikan suatu kecelakaan penerbangan.

    Bagian kotak hitam yang telah ditemukan itu sempat disebut-sebut sebagai FDR. Namun kemudian dinyatakan bahwa bagian kotak hitam yang ditemukan itu belum bisa dipastikan jenisnya.

    Apapun itu, publik pasti berharap bagian lain kotak hitam segera ditemukan agar penyelidikan atas kecelakaan tersebut bisa segera mendapatkan bahan yang komprehensif.

    Data-data dalam kotak hitam dapat diunduh relatif cepat. Ada yang menyatakan, bisa diunduh dalam hitungan jam. Ada juga yang mengatakan, data bisa diunduh dari kotak hitam dalam hitungan satu dua minggu saja.

    Proses unduh data bisa relatif secepat itu. Namun proses analisis atas data tersebut bisa memakan waktu tahunan. Artinya, penyelidikan bisa jadi memang akan menghabiskan waktu yang cukup lama.

    Untuk mendapatkan kejelasan ihwal kecelakaan itu, semua pihak memang harus menunggu hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Tak bisa ditawar.

    Namun ada hal lain yang perlu direspons cepat: keresahan publik atas keselamatan penerbangan kita. Itu sebabnya, sebaiknya respons tersebut dipisahkan dari proses penyelidikan kecelakaan agar bisa dilakukan lebih cepat.

    Kecelakaan Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT610 telah menggiring publik kepada sejumlah pertanyaan kritis di seputar keselamatan penerbangan yang tidak melulu terkait dengan aspek teknis; melainkan juga kaitannya dengan kedisiplinan dalam menerapkan prosedur keselamatan penerbangan, latar belakang sosial ekonomi pilot yang boleh jadi mempengaruhi kinerjanya –yang pada gilirannya bersinggungan dengan kepekaan terhadap keselamatan penerbangan, bahkan pengaruh harga tiket pesawat terhadap keselamatan penerbangan.

    Ada pertanyaan yang mungkin sudah sering muncul sebelumnya, yang menandakan bahwa publik belum sungguh teryakinkan oleh jawaban-jawaban yang pernah disampaikan sebelumnya. Ada juga pertanyaan yang muncul seiring dengan informasi awal yang diketahui publik.

    Misal, apakah pesawat Lion Air PK-LQP itu sudah melewati prosedur yang memastikannya layak terbang?

    Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memang sudah memastikan bahwa pesawat tersebut layak terbang. Hal itu didasarkan kepada dokumen-dokumen terkait persyaratan keselamatan penerbangan pesawat tersebut masih valid.

    Namun publik terlanjur tahu bahwa Boeing 737 Max 8 Lion Air tiba di Indonesia pada 15 Agustus 2018 dan langsung beroperasi pada 18 Agustus 2018. Bagi publik yang awam, jarak antara waktu kedatangan dengan waktu mulai beroperasi terasa sangat pendek.

    Apakah seluruh prosedur untuk memastikan kelayakan terbang dan keselamatan penerbangan telah dipenuhi dalam tempo pendek itu?

    Publik bisa membandingkannya dengan pesawat serupa milik Garuda. Boeing 737 Max 8 Garuda tiba di Indonesia pada 26 Desember 2017, dan mulai beroperasi pada 7 Januari 2018.

    Kepada publik yang awam, pemerintah perlu menjelaskan secara transparan mengapa ada perbedaan waktu jeda antara kedatangan dan mulai beroperasinya pesawat baru di kedua maskapai itu.

    Publik juga menyoroti informasi terkait gaji pilot Lion Air. Pilot Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT610 yang mengalami kecelakaan itu, seperti dikatakan oleh Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan (BPJSTK) Agus Susanto, bergaji Rp3,7 juta per bulan.

    Jika benar bergaji hanya Rp3,7 juta saja, bisakah seorang pilot dengan tanggung jawab yang sangat besar bekerja secara optimal? Publik wajar meragukannya.

    Banyak pihak meragukan bahwa gaji pilot tersebut hanya Rp3,7 juta. Jika gaji sesungguhnya pilot tersebut jauh lebih besar, apa itikad perusahaan di balik pelaporan gaji pilot yang kecil itu?

    Apapun itikad itu sebetulnya, sangatlah wajar jika kemudian publik meragukan integritas perusahaan dalam menjalankan bisnisnya –termasuk memastikan keselamatan penerbangan yang juga menjadi tanggung jawabnya.

    Karena informasi terkait gaji pilot yang jumlahnya kecil itu terlanjur disampaikan ke publik, pemerintah harus segera melakukan penyelidikan terkait integritas pengelolaan bisnis maskapai penerbangan itu –yang jelas mempengaruhi kepentingan publik.

    Pemerintah, sebagai regulator, juga seharusnya tidak hanya berhenti sampai pada pernyataan bahwa, dalam layanan penerbangan yang berbiaya murah (Low Cost Carrier/LCC) pun, aspek keselamatan penerbangan tetap dijaga.

    Pemerintah, bukan hanya memberi pernyataan, harus memperlihatkan kepada publik bahwa pelaksanaan prosedur keselamatan penerbangan sungguh diawasi.

    Hal itu diperlukan untuk meredakan kecemasan publik, yang menganggap LCC lebih longgar terhadap prosedur keselamatan.

    Terkait kecelakaan Lion Air JT610, hendaknya pemerintah tidak menghentikan pencarian jenazah korban dalam waktu dekat ini. Kalaupun kelak akan menghentikannya karena alasan-alasan yang terukur, pemerintah perlu mengkomunikasikannya secara bijak dengan keluarga korban.

    (Beritagar)



    Komentar Pembaca: