Kala Pembalak Liar Bakar Pondok Petani Penjaga Hutan Bukit Betabuh

    Kamis, 8 November 2018 - 11:32 Editor : Redaksi Dibaca : 47 Views

    Menit.co.id Pondok milik Kelompok Tani Hutan (KTH) Bukik Ijau, penjaga hutan lindung Bukit Betabuh, Riau, dibakar orang tak dikenal akhir Oktober.

    Peristiwa ini merupakan ancaman kesekian kali yang mereka terima dari pembalak liar. Petani dari Desa Air Buluh ini tetap semangat terus menanam jernang dan menjaga hutan.

    Ardian, Kepala Desa Air Buluh, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi, mengatakan, laporan kebakaran itu diterima Kamis sore (1/11/18).

    Guna memastikan, sejumlah anggota petani KTH Bukik Ijau mengecek lokasi yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari desa atau satu setengah jam jalan kaki dari desa.

    “Pondok sudah habis. (Tim) sampai sana sudah hancur. Entah dua hari, kejadiannya ndak tau. Api sudah padam (Jumat). Kemungkinan dalam tiga hari (lalu),” katanya kepada Mongabay, Jumat (2/11/18) malam di Pekanbaru.

    Pondok kayu itu dibangun swadaya oleh anggota KTH Bukik Ijau pertengahan 2017. Saat perayaan Hari Menanam Pohon Indonesia, Direktur Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Bagus Herudoyo berkunjung ke pondok ini.

    Total kerugian karena kebakaran sekitar Rp50 juta, termasuk seperangkat solar panel dan beberapa perkakas dapur juga jadi arang. “Bahkan bibit jernang dicincang,” katanya.

    Yang tersisa hanya bangku panjang. Pada sandaran bangku, tertulis kata-kata yang dinilai Ardian, ancaman bagi kelompok. Bukan saja itu, bendera merah putih pun tak luput terbakar.

    “Saya sebagai pemerintah mengharapkan perlindungan hukum bagi kelompok tani. (Karena) tujuan kelompok tani ini jelas menjaga hutan. Sekarang (kepada) Kehutanan, gimana tindakan ke depannya.”

    Aliasmi, Ketua Pelaksana Kelompok Jernang KTH Bukik Ijau mengatakan, kelompok mereka sering mendapat ancaman dari pembalak liar. Bahkan, ada beberapa oknum warga meminta kelompok tani hutan ini dibubarkan.

    Alasannya, petani hutan ini merugikan desa. Yang terjadi, katanya, justru sebaliknya, kelompok tani hutan memberi manfaat banyak bagi warga, baik mata pencaharian tambahan sekaligus melindungi hutan.

    “Kelompok ini sudah berjalan dua tahun, aman-aman saja. Orang yang iri, diajak ke kelompok, tak mau. Ada memang orang itu yang ingin membubarkan kelompok. Ada dulu pengaduan orang tu sampai ke bupati,” kata Asmi kepada Mongabay,

    Manfaat kelompok tani hutan ini diperjelas oleh Kepala Desa, Ardian. “Tujuan kelompok tani ini menjaga hutan. Hutan diserobot. Illegal logging terjadi. Jadi tindakan petani ini membantu masyarakat, hutan terjaga, ekonomi masyarakat bagus,” katanya.

    Pembalakan liar di Bukit Betabuh, sudah berlangsung bertahun-tahun. Saya menyaksikan penghancuran hutan itu. Saya sudah dua kali ke jantung Bukit Betabuh dan berkunjung ke pondok KTH Bukik Ijau, akhir 2017 dan Juli 2018.

    Saya menyaksikan kayu-kayu besar ditebang para pembalak liar berserakan di sejumlah titik. Mereka dari Sumatera Barat. Agustus lalu, dari pondok itu, saya masih mendengar jelas deru mesin-mesin pembalakan liar.

    Kondisi ini juga dibenarkan Kepala UPT KPH Singingi, Erwin Kesuma. “Sejauh yang kita lihat dan kita dengar, memang iya (ada pembalakan liar). Ke dinas (Kehutanan provinsi) kita lapor. Karena yang punya personil polhut banyak itu di dinas. Laporan kita sudah ditindaklanjuti,” katanya, Senin (5/11/18).

    Dia berharap, pembakaran pondok ini jadi momentum penegakan hukum di Bukit Betabuh. Atas nama Kepala UPT KPH Singingi, Erwin melaporkan pembakaran pondok petani hutan ini kepada Polres Kuantan Singingi, Selasa (6/11/18) siang.

    “Mudah-mudahan dengan kejadian ini akan terungkap, siapa-siapa di balik ini. Para pemain tingkat operator saya yakin ada nama-namanya itu.”

    Erwin merasakan manfaat pondok KTH Bukik Ijau. Anggota KTH yang berpatroli biasa memanfaatkan pondok sebagai tempat istirahat. Selain itu, petani hutan juga membantu menghambat pergerakan pembalak liar yang terus merangsek ke kawasan inti Bukit Betabuh.

    “Bagi KPH, ini pondok kerja, pos pengamanan. Kalau patroli, itu tempat istirahat. Habis zuhur kita lapor ke Polres Kuansing. Yang jelas, pos kita terbakar, pondok kerja, dan perusakan tanaman.”

    Hutan Lindung Bukit Betabuh, adalah hutan di antara perbatasan Riau dan Sumatera Barat, tepatnya di Kabupaten Kuantan Singingi dan Dharmasraya. Kawasan inti Bukit Betabuh berada di Indragiri Hulu dan Kuantan Singingi.

    Pondok kerja KTH Bukik Ijau di jantung Hutan Lindung Bukit Betabuh, Juli 2018. Foto: Zamzami/ Mongabay Indonesia

    Hutan ini habitat penting harimau Sumatera, rusa sambar dan kuau raja. Di kawasan ini juga tumbuh pohon bernilai tinggi seperti kayu seminai, ulin dan beberapa jenis meranti.

    Satu dekade lalu, banyak warga Desa Air Buluh menebang hutan Bukit Betabuh. Tiga tahun terakhir sebagian warga mulai sadar bahkan beralih jadi pelindung hutan.

    Mereka tergabung dalam KTH Bukit Ijau beranggotakan 26 orang dibentuk akhir 2016. Hampir semua anggota mantan pembalak liar. Sejak itu, mereka menanam jernang dan memanfaatkan hasil hutan bukan kayu.

    Tahun 2018, kegiatan menanam pohon jernang kelompok KTH menginspirasi lebih banyak warga. Kini, sudah ada enam KTH terbentuk. Mereka juga akan menanam jernang. Jernang, adalah buah rotan dengan getah dan cangkang untuk bahan baku kosmetik dan lain-lain.

    “KTH Bukik Ijau sudah menanam 40 hektar. Ini bibit jernang ditanam dalam kawasan hutan lindung Bukit Betabuh. Total areal akan ditanami sesuai rencana pada 2019 mencapai 1.500 hektar,” kata Melki Rumania, Direktur Program LSM Hutanriau yang selama ini mendampingi petani sejak awal.

    Pembakaran itu tak menyurutkan semangat para petani hutan dan pihak-pihak yang mendukung perlindungan Bukit Betabuh. Bagi Aliansmi, juga mantan pembalak liar kini aktif di KTH Bukik Ijau, bersama anggota lain akan terus berusaha melindungi hutan.

    “Hutan ini tempat kita berusaha. Mana yang rusak, kami akan bangun pondok balik. Pondok itu tempat berteduh. Mana yang dicincang-cincang itu, kami ganti,” katanya.

    (Mongabay)



    Komentar Pembaca: