KPK Periksa Petinggi Tower Bersama Group sebagai Tersangka

    Rabu, 7 November 2018 - 11:36 Editor : Redaksi Dibaca : 57 Views

    Menit.co.idTim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali mengusut kasus dugaan suap pengurusan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) atas pembangunan menara telekomunikasi di Kabupaten Mojokerto tahun 2015.

    Pengusutan tersebut ditandai dengan pemeriksaan Permit dan Regulatory Head Tower Bersama Group, Ockyanto serta Direktur Operasi PT Profesiona‎l Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) Onggo Wijaya sebagai tersangka.

    “Keduanya diperiksa dalam kapasitasnya sebagai tersangka,” kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Rabu (7/11/2018).

    Belakangan, KPK ‎diketahui sedang mendalami keterlibatan sejumlah korporasi di kasus suap yang menyeret Bupati Mojokerto, Mustofa Kamal Pasa. Sebab, kasus suap Mustofa erat kaitannya dengan sejumlah korporasi.

    Sejumlah korporasi yang tengah dibidik penyidik lembaga antirasuah yakni, PT Tower Bersama dan anak usaha PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT Profesional Telekomumikasi Indonesia (Protelindo). ‎

    KPK pun telah memanggil petinggi dari dua korporasi itu untuk mendalami andilnya dalam kasus suap Mustofa.

    Tim penyidik KPK sendiri telah ‎mengantongi sejumlah alat bukti terkait keterlibatan sejumlah pihak termasuk korporasi usai menggeledah PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) dan PT Tower Bersama Infrastructure, Tbk (TBIG) yang berada di Jakarta, beberapa waktu lalu.

    Dalam perkara ini, KPK telah menjerat Permit and Regulatory Division Head PT Tower Bersama Infrastructure (Tower Bersama Grup) Ockyanto; Direktur Operasi PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) Onggo Wijaya dan Bupati Mojokerto, Mustofa Kamal Pasa sebagai tersangka.

    Mustofa ditetapkan sebagai tersangka lantaran diduga menerima suap senilai Rp2,7 miliar dari Ockyanto dan Onggo. Suap tersebut berkaitan dengan pengurusan izin prinsip pemanfaatan ruang (IPPR) dan Izin mendirikan bangunan (IMB) atas pembangunan menara ‎telekomunikasi di Mojokerto.

    Sebelumnya, KPK juga telah menyita sejumlah dokumen terkait dengan izin pembangunan menara telekomunikasi. Sejumlah menara itu tersebar di berbagai lokasi di Mojokerto. Dokumen itu disita setelah penyidik menggeledah sejumlah tempat.

    Di antaranya, di kantor Regional Office Tower Bersama Grup (TBG) di Surabaya, kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Mojokerto, dan kantor Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Mojokerto.

    Selain kasus suap, Mustofa juga dijerat dengan sangkaan lain oleh KPK. Mustofa diduga menerima gratifikasi atas proyek-proyek di lingkungan Pemkab Mojokerto senilai Rp 3,7 miliar.‎

    Dalam kasus gratifikasi, Mustofa bersama Zainal Abidin selaku Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Mojokerto periode 2010-2015.

    KPK menduga gratifikasi itu ‎melibatkan keluarga Mustofa dengan menggunakan sarana perbankan.‎ ‎Dalam proses penyidikan kasus itu, KPK melakukan serangkaian penggeledahan di sejumlah lokasi.

    Dari penggeledahan itu, ‎tim penyidik KPK telah menyita uang senilai Rp4 miliar. Dari uang Rp4 miliar yang disita, terdapat Rp3,7 miliar yang ditemukan tim penyidik di rumah orangtuanya Mustofa. Uang tersebut disimpan di lemari di sebuah kamar.

    (Okezone)



    Komentar Pembaca: