Melihat Kesemrawutan Penanganan Bencana Tsunami di Pandeglang

    Jumat, 28 Desember 2018 - 14:11 Editor : Redaksi Dibaca : 115 Views

    Menit.co.id – Sabtu malam, 22 Desember 2018, tsunami menerjang Selat Sunda. Sejumlah daerah di Banten dan Lampung terkena dampaknya, bangunan-bangunan rusak, pohon-pohon tumbang, manusia terombang-ambing. Untuk wilayah Banten sendiri, salah satu daerah yang terkena dampak paling parah adalah Kabupaten Pandeglang.

    Sebagai putra asli Pandeglang, teman saya Ahmad Emil Mujamil, merasa terketuk pintu hatinya untuk turun langsung ke lokasi yang terkena dampak tsunami. Memang, keluarga dan kerabat dekatnya selamat dari tsunami lantaran kampung halamannya jauh dari pantai. Akan tetapi, bagi pria yang akrab disapa Emil itu, semua orang Pandeglang sudah seperti keluarga baginya.

    Ia menolak diam saja kala melihat tanah kelahirannya porak poranda diterjang tsunami. Emil lalu mencari informasi dari berbagai sumber, baik dari keluarga maupun teman-temannya yang berada di Pandeglang dan Banten, perihal daerahdaerah mana saja yang terkena dampak tsunami. Daerahdaerah tersebut adalah Anyer, Labuan, Carita, Tanjung Lesung, Citeureup, Panimbang, Taman Jaya, hingga Sumur.

    23 Desember 2018, Emil dan kawan-kawannya berangkat menyusuri satu demi satu beberapa daerah yang terkena dampak tsunami. Berdasarkan pengamatan matanya, daerah yang menurutnya paling parah terkena dampak tsunami adalah Tanjung Lesung, yang terletak di kawasan Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, dan di Carita, Kecamatan Carita.

    Ya, itu adalah dua lokasi yang ramai oleh wisatawan karena ada berbagai acara dan event di sana. Acara gathering karyawan PLN yang menampilkan aksi dari band Seventeen dan duo Jigo juga di Tanjung Lesung.

    Namun, ia menyayangkan, media terlalu sering mengekspos Tanjung Lesung, Carita, dan Anyer, yang notabene daerah wisata, sehingga bantuan lebih terpusat ke sana. Padahal, ada daerah lain yang tak kalah parah terkena dampak tsunami. Salah satunya adalah Kecamatan Sumur, khususnya Desa Taman Jaya, banyak warga setempat yang menjadi korban, baik korban jiwa maupun korban luka dan rumah rusak, tetapi bantuan ke sana justru lama dan telat sampai.

    Kondisi porak poranda di Pandeglang, tetapi masih ada bangunan yang berdiri, di antaranya masjid. (Foto: Dok. Pribadi Ahmad Emil Mujamil)

    Itulah yang menginisiasi Emil dan kawan-kawannya untuk fokus membantu di daerah Sumur, yang memakan waktu perjalanan 3-4 jam dari Tanjung Lesung. Meskipun tidak ada pohon tumbang, faktor jalanan rusak menyebabkan akses ke Sumur menjadi sulit dilalui. Inilah yang menyebabkan buruknya koordinasi tanggap bencana di Kecamatan Sumur. Pada H+1 bencana tsunami, ia tidak melihat ada satu pun posko yang berdiri.

    Sepanjang perjalanan, ia melihat mayat-mayat masih bergelimpangan di pinggir jalan, di bawah reruntuhan rumah, di mana-mana, belum ada evakuasi (kondisi 23 Desember malam). Rumah-rumah yang berjarak satu kilometer dari pantai rata tersapu tsunami.

    Ya, begitulah kondisinya, bahkan di Sumur yang sudah setingkat kecamatan. Hingga dua hari kemudian Emil dan kawan-kawannya tinggal di sana, beberapa desa belum mendapatkan bantuan evakuasi.

    Berdasarkan informasi yang Emil dapatkan dari warga sekitar, tsunami di daerah Sumur terjadi sekitar pukul 21.30 WIB. Menurut penuturan warga, tsunami tidak langsung deras menghantam daerah tersebut, melainkan didahului oleh banjir genangan air yang tenang. Seolah, tidak ada tanda-tanda akan terjadinya tsunami.

    “Semua orang menganggap bahwa pada bulan Desember, apalagi ada terang bulan, dianggapnya biasa jika air pasang. Namun, tiba-tiba muncul gelombang besar, dan yang gelombang keduanya (pada malam yang sama) lebih besar,” tutur Emil.

    Untungnya, kata Emil, di sana sedang ada pasar malam. Biasanya, jika sedang tidak ada hiburan rakyat seperti itu, warga sekitar sudah tidur sejak pukul 21.00 WIB. Pasar malam membuat banyak warga masih terjaga dan mampu menyadari, juga memperingati tsunami yang menerjang daerah tersebut.

    “Untung ada pasar malam. Kalau enggak, mungkin korban akan lebih banyak lagi,” kata Emil.

    Masyarakat pun berlarian ke berbagai penjuru. Mereka lari ke hutan, ke gunung, ke masjid, pokoknya daerah-daerah yang tinggi.

    “Bahkan sedihnya, setelah gue tanya-tanya itu ada ibu hamil, ibu-ibu yang gendong anak. Mereka itu gedor-gedor rumah siapa pun, bahkan ada yang mengungsi di saung-saung, di tengah sawah, ada juga yang menginap di hutan hanya bermodalkan terpal dengan bayi-bayinya. Secara akses, memang sulit untuk ke sana,” ujarnya.

    Para pengungsi mencari barang-barang mereka. (Foto: Dok. Pribadi Ahmad Emil Mujamil)

    Emil mendengarkan kisah dari warga-warga yang selamat. Kebanyakan dari korban tewas yang gagal menyelamatkan diri adalah karena kondisi jalanan yang licin, banyak yang terpeleset, jatuh, dan lantas tersapu air.

    “Menurut penuturan warga juga, mereka itu digulung-gulung ombak. Atas mereka itu lumpur, pasir, kayu, besi, sehingga sulit mau berenang juga. Ada juga yang awalnya pingsan akibat terbentur sesuatu, lalu tenggelam,” lanjutnya.

    Emil juga bercerita tentang sejumlah pemuda yang tersapu tsunami kala tengah berkemah di Pulau Badul, masih di wilayah Kecamatan Sumur. Setengah jam sebelum kejadian, mayoritas orang yang berkemah sudah tidur, menyisakan dua orang yang masih terjaga.

    Menurut kesaksian, mereka melihat ombak setinggi pohon kelapa datang menerjang. Ketika ombak menerjang, dua orang itu berpegangan erat pada bagang ikan, dan nyawa mereka terselamatkan, sedangkan teman-teman mereka yang lain, tidur selamanya di dalam gulungan ombak.
    “Gue sempat ikut evakuasi jenazah dari Pulau Badul itu. Posisinya lagi telungkup gitu, lagi tidur,” kata Emil.

    Ia menceritakan pula kisah pilunya kala mencoba mengevakuasi satu keluarga di Desa Taman Jaya pada 24 Desember 2018. Jenazah mereka tertimpa reruntuhan beton.

    “Ada keluarga, bapak, ibu, sama anaknya yang tertimpa beton dan masih belum bisa dievakuasi,” ceritanya berdasarkan informasi warga sekitar.

    Kemudian, ia juga bercerita terkait semrawutnya penyaluran bantuan di sana. Bantuan logistik yang melimpah kadang malah bingung untuk diapakan. Banyak orang yang menyumbang sembako tapi ketiadaan dapur umum menyebabkan makanan tersebut tidak dapat diolah.

    Sumbangan pakaian yang ada pun kebanyakan untuk ibu-ibu, untuk anakanak dan bapak-bapak kurang. Kebutuhan-kebutuhan nonpangan lainnya pun sangat kurang. Intinya, menurut pengamatan teman saya itu di lapangan, banyak yang menyumbang tapi tidak memerhatikan apa yang mereka sumbang.

    “Kalau untuk makanan, gue lebih mikirnya mereka perlu makanan cepat saji, seperti roti dan biskuit. Di sini juga perlu suplemen untuk ibu hamil, popok untuk bayi, selimut, minyak telon, minyak kayu putih, dan barang-barang lainnya. Enggak banyak yang aware. Pokoknya, yang penting bantuan dikasih, foto dokumentasi untuk pertanggungjawaban, terus udah,” keluh Emil.

    Kemudian, barang-barang lain yang menurutnya diperlukan para pengungsi adalah pembalut, selimut, pakaian dalam, pakaian hangat untuk bayi dan balita, serta perlengkapan mandi. Makanan dan susu khusus balita, susu khusus ibu hamil, dan air mineral juga sangat diperlukan.

    Menurutnya, pemerintah di Pandeglang tidak siap menghadapi bencana ini. Padahal, masih menurut Emil, mereka sudah tahu bahwa Gunung Krakatau pernah mengalami erupsi yang dahsyat pada 1883, bahkan Gunung Anak Krakatau pun dikenal sebagai gunung api yang aktif.

    “Hal yang gue sayangkan adalah stakeholder terkait, mereka yang punya kewenangan, pejabat-pejabat di Kabupaten Pandeglang, malah bilang bahwa kawasan Gunung Anak Krakatau itu aman, bahkan bisa menjadi potensi wisata,” ungkapnya.

    Padahal, kawasan tersebut justru lebih berpotensi mengalami longsor dan tsunami. Namun sayangnya, tidak ada mitigasi terhadap bencana.
    “Mereka enggak mikirin gitu lho bahwa jika terjadi erupsi, terus bisa menghasilkan longsoran dan berdampak kepada tsunami. Literasi tsunami di daerah gue masih buruk banget,” lanjutnya.

    Pendataan distribusi korban bencana, bagi Emil, sangatlah penting. Ia menilai, pemerintah dan pejabat terkait di Pandeglang juga tidak siap akan hal itu. Padahal, bupati dan BNPB sudah sempat turun untuk meninjau daerah tersebut pasca-tsunami. Namun kenyataannya, pendistribusian bantuan masih tak merata.

    “Sehingga relawan-relawan yang datang ke sana juga pada bingung mau ngebantuin ke mana karena fungsi-fungsi itu belum ada poskonya, sporadis, tersebar ke mana-mana, tidak tahu harus menghubungi siapa terkait evakuasi dan pengiriman bantuan,” jelas Emil.

    Walaupun sekarang posko-posko telah didirikan oleh pihak BNPB dan pemerintah, tetapi pendistribusian bantuan dari posko yang ada belum efektif karena pengungsi tersebar beberapa titik. Oleh karena distribusinya belum efektif, akhirnya bantuan menumpuk di posko-posko tertentu saja. Tidak merata.

    “Bagus sih sebenarnya niat mereka (BNPB dan pemerintah), tetapi menurut gua masih kurang efektif karena data dan komunikasi yang kurang,” kata Emil.

    Harusnya, menurut Emil, pemerintah dan BNPB lebih siap melakukan pendataan. Adapun itu terkait sebaran wilayah pengungsi, maupun jumlah pengungsi di setiap titik, secara spesifik jumlah lansia, anak-anak, dan orang dewasa. Lalu, terkait alur distribusi bantuan, harusnya juga ada informasi yang jelas mengenai bantuan dapat dikirimkan ke mana.

    Itu semua adalah hal pertama yang paling penting harus dilakukan agar penanganan bencana berjalan efektif dan merata dengan komando dan komunikasi yang terpusat.

    “Parahnya lagi, ada juga masyarakat yang rakus, mengaku belum mendapat bantuan, padahal sudah. Akibatnya, ada masyarakat yang memang sama sekali belum dapat bantuan, terutama yang di hutan-hutan. Enggak merata,” pungkasnya.

    (Kumparan)



    Komentar Pembaca: