Mensos Idrus Marham Beberkan Keterkaitannya dengan Kasus Suap PLTU Riau-1

    Kamis, 16 Agustus 2018 - 12:07 Editor : Redaksi Dibaca : 112 Views

    Menit.co.id Menteri Sosial (Mensos) Idrus Marham tak membantah memiliki keterkaitan dengan kasus dugaan suap proyek PLTU Riau-1 yang menjerat Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih dan pemegang saham Blackgold Natural Limited Johannes B Kotjo. Idrus mengaku sudah membeberkan keterkaitannya dengan proyek senilai US$ 900 juta tersebut kepada penyidik KPK yang memeriksanya pada Rabu (15/8).

    “Pokoknya saya katakan semua yang terkait yang saya ketahui sudah saya jelaskan semuanya” kata Idrus usai diperiksa penyidik di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (15/8) malam.

    Idrus diduga mengetahui banyak hal mengenai sengkarut kasus ini. Dugaan keterlibatan Idrus dalam kasus ini menguat lantaran penyidik berulang kali memeriksa mantan Sekjen Partai Golkar tersebut. Pemeriksaan pada Rabu (15/8) merupakan pemeriksaan ketiga kalinya yang dijalani Idrus terkait kasus ini.

    Idrus diduga turut hadir atau mengetahui adanya pertemuan yang dilakukan Eni dan Kotjo dengan sejumlah pihak termasuk Dirut PLN Sofyan Basir untuk membahas proyek ini. Pertemuan tersebut terungkap dari rekaman CCTV yang disita tim penyidik saat menggeledah rumah dan kantor Sofyan beberapa waktu lalu.

    Idrus tak membantah rekaman CCTV itu menjadi salah satu materi yang dicecar tim penyidik. Idrus meminta awak media untuk mengonfirmasi mengenai materi tersebut kepada KPK.

    “Saya katakan semua yang terkait dan sudah saya jelaskan semua jadi rinciannya ya tidak etis kalau saya jelaskan semua nanti dianggap malah enggak bagus,” katanya.

    Idrus tak mengelak adanya pertemuan dengan pihak-pihak terkait proyek ini. Namun, Idrus enggan mengungkap secara rinci pertemuan tersebut. Yang pasti, Idrus mengaku sudah menyampaikan seluruh hal yang diketahuinya terkait kasus ini.

    “Sudahlah saya katakan tadi saya sudah jelaskan ya,” katanya.

    Jubir KPK, Febri Diansyah mengakui pertemuan-pertemuan tersebut menjadi salah satu materi yang digali tim penyidik dalam pemeriksaan terhadap Idrus. Dikatakan, tim penyidik perlu memeriksa Idrus untuk memperdalam materi yang dibahas dalam pertemuan tersebut.

    “Apa yang perlu digali dari saksi Idrus Marham misalnya salah satunya adalah apakah saksi pernah melakukan pertemuan dengan para tersangka baik sendiri sendiri misalnya salah satu tersangka saja atau kedua tersangka atau bersama pihak lain itu yang sedang dialami lebih lanjut oleh KPK,” kata Febri saat dikonfirmasi.

    Diduga, pertemuan itu terjadi di luar agenda formal atau rapat pembahasan proyek PLTU Riau-I. Bahkan, Lembaga Antirasuah mengendus pertemuan itu terjadi di luar kantor dengan agenda memuluskan Blackgold sebagai konsorsium penggarap proyek yang masuk dalam program listrik 35.000 MW tersebut.

    “Kalau formal tentu dilakukan di kantor misalnya dalam rapat-rapat resmi atau ada pertemuan informal dan apa yang dibicarakan di sana,” jelas Febri.

    Febri mengatakan, pertemuan-pertemuan ini menjadi penting dalam membangun konstruksi kasus suap proyek PLTU Riau-1. Hal ini lantaran penunjukkan Blackgold Natural Limited sebagai salah satu penggarap proyek tidak begitu saja terjadi. Terdapat rangkaian hingga terjadinya kesepakatan kerja sama tersebut. Bahkan, untuk memuluskan penunjukan Blackgold, Eni diduga telah menerima suap sebesar Rp 4,8 miliar dari Kotjo.

    “Jadi kami terus menggali untuk mengetahui sebenarnya bagaimana proses persetujuan atau proses sampai dengan rencana penandatanganan kerja sama dalam proyek PLTU Riau-1 ini. Diduga sudah terjadi transaksi sekitar setidaknya Rp 4,8 Miliar untuk memuluskan proses itu. Itu yang kami kali lebih jauh,” jelasnya.

    Dalam kasus ini, Eni diduga menerima suap sebesar Rp 4,8 miliar dari pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited, Johannes B. Kotjo.

    Eni diduga berperan sebagai pihak yang memuluskan jalan perusahaan Blackgold Natural Resources Limited, milik Johannes untuk menggarap proyek pembangunan PLTU Riau-1. Proyek ini digarap oleh PT Pembangkitan Jawa-Bali dan PT PLN Batubara dengan mitra kerja konsorsium yang terdiri dari BlackGold, dan China Huadian Engineering Co., Ltd. (CHEC).

    KPK sudah memeriksa sejumlah saksi dalam kasus dugaan suap ini, seperti Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir, Direktur Utama PT Pembangkitan Jawa-Bali Investasi Gunawan Y Hariyanto, Direktur Utama PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) Iwan Agung Firstantara dan Direktur Utama PT Samantaka Batubara Rudi Herlambang.

     

    Sumber: Suara Pembaruan



    Komentar Pembaca: