Polisi Ciduk Warga Rohingya Penyelundup Imigran Gelap

    Jumat, 8 September 2017 - 19:48 Editor : Redaksi Dibaca : 278 Views

    Menit.co.id – Maung Tin alias Shadiq, warga Rohingya, Myanmar, akhirnya berhasil diringkus setelah masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) Satuan Unit People Smuggling

    Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur. Pelaku diringkus oleh Satgas TPPO Bareskrim Polri di Kalideres, Jakarta Barat dan langsung diantar ke Kupang guna menjalani pemeriksaan.

    Dia terlibat dalam jaringan penyelundupan imigran gelap. Kapal yang dipakai tersangka untuk mengangkut imigran sudah diamankan untuk dijadikan alat bukti.

    Dalam keterangan pers, Jumat (9/9), Kasubdit IV Ranakta Polda NTT Kompol Rudy Ledo mengatakan, pelaku membawa 23 imigran asal Bangladesh, 1 orang asal Pakistan dan 1 imigran lain dari Myanmar. Mereka dibawa dari Binjai, Sulawesi Selatan menggunakan kapal untuk mencari suaka politik ke negara Australia.

    “Jadi untuk tersangka MT ini alias S berkewarganegaraan Myanmar setelah itu proses untuk pengiriman imigran ini berasal dari 23 orang dari Bangladesh, 1 orang dari Pakistan dan 1 lagi dari Myanmar,” ujar Rudy.

    Para imigran ingin keluar dari negara mereka karena terus dilanda konflik. Sedangkan tersangka sudah lama menetap di Indonesia dan mempersunting wanita asal Jawa.

    “Sebenarnya mereka ingin keluar dari daerah asalnya, pelaku berasal dari Myanmar (Rohingya). Alasan mereka keluar sama yakni karena kondisi negara yang tidak stabil,” ucapnya.

    Untuk mencapai Australia melalui Pulau Pasir (Christmast Island), puluhan imigran gelap ini membayar kepada tersangka MT alias Shadiq uang sebesar Rp 250 Juta.

    Namun mereka diadang Kapal Patroli Angkatan Laut Australia, lalu dipulangkan ke perairan Indonesia dan akhirnya diamankan polisi ketika terdampar di Pantai Tablolong, Kabupaten Kupang.

    Dua orang rekan tersangka yang menyediakan perahu untuk para imigran, terlebih dahulu diringkus sehingga sudah menjalani masa penahanan di Lembaga Pemasyarakatan Penfui Kupang.

    Tersangka dijerat dengan pasal 120 ayat 1 uu no 16 tahun 2011 tentang keimigrasian dengan ancaman hukuman penjara maksimal 15 tahun.

    (mdk/mdk)



    Komentar Pembaca: