Tiga Produk Ikan Kaleng Impor Mengandung Cacing di Riau

    Kamis, 22 Maret 2018 - 14:33 Editor : Redaksi Dibaca : 82 Views

    Menit.co.id Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Kota Pekanbaru mengungkap hasil uji laboratorium bahwa ada tiga produk impor ikan mackarel kaleng yang terbukti mengandung cacing yaitu merek IO, Farmer Jack, dan HOKI.

    Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Kota Pekanbaru, Muhammad Kashuri mengatakan kasus pertama mencuat di Kota Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, dan kemudian menyusul kasus serupa di Kota Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti.

    “Artinya, terkonfirmasi memang benar ada sejenis cacing, tapi bukan cacing pita seperti yang viral di media sosial. Jadi ada cacing Anisakis species,” kata Kashuri, seperti dilansir dari Antara, Rabu (21/3).

    Cacing Anisakis sp adalah parasit yang dapat menimbulkan masalah pada ikan hingga pada manusia, sehingga bila dikonsumsi tanpa dimasak, atau dalam keadaan setengah masak, akan mengakibatkan penyakit.

    Kini pihaknya sudah melakukan penelusuran untuk menarik semua ikan kaleng dengan tiga merek tersebut di Riau.

    Sementara itu, izin untuk perusahaan importir ikan makarel kaleng, yang terbukti mengandung cacing Anisakis sp. tersebut juga terancam dicabut oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan. Apabila ketiga perusahaan tidak serius mengindahkan perintah untuk menarik semua produk asal China yang bermasalah tersebut dari pasar Indonesia.

    “Sanksi peringatan keras, sanksi administratif yang mendekati level mau dicabut izinnya. Bisa dicabut kalau dia tidak konsisten melakukan penarikan, itu bisa terancam dicabut,” tegas Kashuri.

    BBPOM Kota Pekanbaru mengungkap ketiga perusahaan importir merek IO, Farmer Jack, dan HOKI tersebut berlokasi di Jakarta dan Batam. Kashuri menyayangkan sikap produsen dan importir yang lalai sehingga insiden ikan bercacing itu terjadi.

    Menurut dia, pada saat pertama kali mengajukan izin edar produk impor atau dengan kode “ML” kepada BPOM, perusahaan sudah menyampaikan hasil uji yang setelah dievaluasi tidak bermasalah.

    “Sepanjang memasukannya ini, jadi tanggung jawab produsen. Mereka harus pastikan sendiri bahwa produknya ini aman. Kita tak mungkin mengawal terus setiap masuk,” ujarnya.

    Menurut dia, BBPOM tetap melakukan pengawasan namun mengambil sampel secara acak di pasar.

    “Kami himbau produsen juga harus komitmen dan konsisten bahwa produk ini tetap aman dan bermutu. Jangan saat pendaftaran saja, tapi pada saat izin edar sudah ada tetap harus dijaga mutu dan keamanannya,” kata Kashuri.

    Ia mengatakan pihaknya telah mengeluarkan surat peringatan keras dan sanksi ke importir tiga merk tersebut. Importir harus melakukan penarikan terhadap produk yang masih beredar di pasar, dan akan terus diawasi oleh lembaga di bawah BPOM tersebut.

    Pihaknya sudah berkoordinasi dengan Balai POM Kota Batam untuk melakukan penelusuran dan melakukan pengamaman terkait produk bermasalah itu agar tidak beredar. Menurut dia, perusahaan importir di Jakarta sudah melakukan penarikan sendiri.

    “Pada Senin lalu, importir dari merek HOKI melaporkan sudah melakukan penarikan secara mandiri, sebelum surat perintah penarikan dikeluarkan. Tapi, dia tetap dapat sanksi terkait mutu produk yag diduga tidak aman,” tegasnya.

    Cacing tersebut ditemukan di dalam kaleng ikan makarel sudah dalam kondisi mati, jadi bukan akibat kerusakan kemasan maupun akibat kedaluwarsa. Kemungkinan muncul cacing itu karena pengolahan tidak higienis.

    “Keberadaan cacing tersebut, setelah saya baca beberapa literatur, itu ada sejak awal karena jenis makarel itu kalau pencucian tidak bersih, maka di dalam perutnya kemungkinan ada jenis cacing,” ujarnya.

    Terkait dampaknya, ia menjelaskan cacing merupakan salah satu sumber makanan sumber protein, yang tentunya bisa sebagai zat alergen atau mengakibatkan alergi kalau dikonsumsi.

    “Karenanya, pada orang-orang tertentu yang tidak tahan dengan reaksi alergi, kemungkinan menimbulkan alergi bisa mulai gatal-gatal pada kulit. Ini bahayanya kalau yang konsumsi orang yang punya riwayat sakit asma, bisa sesak nafas,” katanya.

    Menurut dia, penyebaran produk tersebut di Riau sejauh ini baru terdeteksi di Kota Tembilahan untuk merek IO, dan Kota Selatpanjang untuk merek Farmer Jack. Namun, hingga kini BBPOM Pekanbaru tidak mengetahui perusahaan distributor tiga merek tersebut di Provinsi Riau.

    “Di Pekanbaru setelah kita telusuri dari Kamis pekan lalu sampai sekarang, merek itu belum kita temukan. Jadi kita tidak tahu apa masih ada. Kalau ada akan kita amankan,” katanya.

    Sumber: Antara



    Komentar Pembaca: