Akun Media Sosial Anonim di Tengah Pertarungan Pilpres 2019

    Rabu, 15 Agustus 2018 - 12:24 Editor : Redaksi Dibaca : 58 Views

    Menit.co.id Perang tanda pagar menjelang Pemilu Presiden 2019 sudah lama dihelat di lini masa sosial media. Pendukung Joko Widodo dan Prabowo Subianto sudah sejak lama bertengkar di dunia maya, jauh sebelum keduanya mendeklarasikan dan mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum sebagai calon presiden 2019.

    Di tengah keriuhan itu, akun anonim ikut bermain. Masing-masing akun berperan memainkan dan menggiring opini publik sehingga menjadi perhatian warganet. Salah satu cara menggiring isu dan opini yang kerap dilakukan adalah dengan menggelar polling di twitter atau memainkan isu politik.

    Beberapa akun anonim yang kerap memainkan isu-isu politik di antaranya @kakekdetektif dan @maspiyuuu. Kedua akun ini aktif di Twitter. Akun @kakekdetektif kerap memainkan isu-isu yang pro-Jokowi, sementara @maspiyuuu bertendensi mendukung kubu oposisi pemerintahan.

    Keberadaan akun anonim tak bisa dipandang sebelah mata. Analis media sosial sekaligus pendiri Drone Emprit Ismail Fahmi mengatakan akun anonim punya pengaruh dalam menggiring opini publik. “Apalagi ketika followers-nya tinggi dan konsisten ngetwit pro-oposisi atau pemerintah,” kata Ismail kepada Tirto, Selasa (14/8/2018).

    Situasi ini, kata Ismail, tak jarang menjadikan pemilik akun anonim dengan jumlah followers sebagai pelapak isu. Kondisi ini dimungkinkan lantaran isi cuitan atau isu yang dimainkan cenderung lebih bebas dibanding pengguna robot atau orang yang memakai identitas asli. Pergerakan akun anonim pemain isu ini pun tak mudah dilacak.

    “Seandainya ada orang yang followers-nya banyak, misal 1 juta, nah itu sudah siap,” tutur Ismail.

    Namun, dalam praktiknya, lanjut Ismail, jual beli isu yang dilakukan akun anonim ini seperti pasar gelap. Harga isu yang dimainkan akun-akun anonim bisa bernilai fantastis karena bisa memberi dampak signifikan. Nilai transaksinya bahkan mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah.

    “Ada seharga Toyota Fortuner, Honda Jazz, dan bisa lebih mahal lagi. Ada sampai Rp 1 miliar saya pernah dengar. Bisnis media sosial itu mahal,” kata Ismail.

    Tergantung Pengikut

    Harga fantastis itu tak berlaku untuk semua akun anonim. Ismail berujar hal ini tergantung dengan karakteristik followers. Ia mencontohkan akun @mafiawasit yang tak akan laku dibeli untuk menggiring isu politik di pemilu 2019. Alasannya, pengikut akun itu kebanyakan adalah pemerhati atau orang-orang yang menaruh minat terhadap sepakbola.

    “Kalau pun dia ngetwit soal golput atau raja kardus, isinya ya lucu-lucuan saja dan yang me-retweet user penyuka bola, bukan politik. Akun begini tidak bisa dipakai untuk main politik,” ujar Ismail.

    Selain soal karakteristik followers, jumlah pengikut sekali lagi menjadi hal yang menentukan. Jumlah ini terkait dengan dampak dan kecepatan penggiringan opini. Semakin banyak pengikut, diprediksi jumlah retweet dari cuitan akun anonim semakin tinggi. Banyaknya jumlah retweet dapat memicu masuknya sebuah tagar atau isu dalam trending topic.

    Dalam proses penggiringan isu ini, Ismail menjelaskan, akun anonim biasanya bergerak dengan cara me-retweet pembahasan isu-isu yang dikehendaki atau aktif mengomentari sejumlah isu agar bisa di-retweet pengikutnya. Untuk akun anonim baru, biasanya akan dibantu akun robot yang diprogram untuk otomatis me-retweet.

    “Tapi kalau sudah punya network besar, mereka tidak perlu memakai robot. Orang di sekitarnya akan membantu membuat ramai [pembicaraan sebuah isu],” kata Ismail.

    Untuk membedakan isu yang digoreng akun anonim dan akun bot, Ismail memberi sedikit bocoran. “Kalau murni pakai robot, itu hanya bisa naik popularitasnya sehari. Sehabis itu hilang. Tapi kalau naik terus popularitasnya, berarti itu natural. Karena kalau sudah viral orang akan dengar senang share dan tingkat share itu tinggi,” katanya.

    Selain meminta penjelasan dari Ismail, Tirto sebenarnya juga mencoba menghubungi sejumlah akun anonim yang biasa menjual isu. Akan tetapi, tak ada satu pun penyedia jasa yang memberi informasi. Rata-rata para penyedia jasa di twitter hanya membuka layanan jual-beli pengikut.

    Tanggapan Politikus yang Aktif di Medsos

    Keberadaan akun anonim penggiring opini dinilai Kepala Divisi Humas dan Advokasi Hukum DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean sebagai wujud politik penuh kebohongan. Ia menyebut, akun anonim dan bot hanya untuk membentuk opini dan persepsi publik ihwal suatu isu dengan membawa kabar bohong.

    “Saya pikir ini harus dihentikan. Media sosial kita makin brutal menyerang dan memfitnah. Saya mendesak pihak Twitter, Facebook dan Instagram agar menertibkan akun-akun palsu yang tidak jelas identitasnya,” tutur Ferdinand kepada Tirto.

    Pemilik akun twitter @LawanPoLitikJKW ini mengakui dampak keberadaan dan aktivitas akun anonim terhadap opini publik atas suatu isu. Menurut Ferdinand, masyarakat yang tak gemar melakukan validasi akan mudah percaya informasi dari akun-akun anonim ini.

    Senada dengan Ferdinand Hutahaean, Ketua DPP PSI Tsamara Amany pun menilai akun anonim sebagai hal yang mengganggu karena hanya digunakan untuk membentuk opini alih-alih membuka diskursus masyarakat. Meski begitu, pemilik akun @TsamaraDKI itu punya penilaian lain soal penertiban akun.

    Menurutnya, akun jenis itu tak masalah digunakan jika sekedar sebagai wadah orang yang takut ketahuan identitasnya berpendapat di media sosial. “Kalau anonim dibuat bukan untuk dimobilisasi, tapi karena ada seseorang ingin berpendapat namun tak ingin diketahui identitasnya, tidak apa-apa,” katanya.

    Sumber: Tirto



    Komentar Pembaca: