Dhani, Neno Warisman & Deklarasi 2019GantiPresiden yang Ditolak Berkali-kali

    Senin, 27 Agustus 2018 - 12:26 Editor : Redaksi Dibaca : 173 Views

    Menit.co.id Ahmad Dhani Prasetyo dan Neno Warisman termasuk yang paling getol mengkampanyekan #2019GantiPresiden, gerakan yang diinisiasi kader PKS Mardani Ali Sera sejak beberapa bulan lalu. Berkali-kali mereka berkampanye di banyak tempat, berkali-kali pula mendapat penolakan.

    Dua penyanyi ini melambung namanya sebagai oposisi seiring dengan maraknya aksi-aksi menentang bekas Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang dituduh menistakan agama. Pihak yang mengkampanyekan #2019GantiPresiden sama dengan mereka yang mendemo Ahok pada 2016-2017.

    Penolakan terakhir keduanya terjadi dalam waktu hampir bersamaan. Neno Warisman pada Sabtu (25/8/2018) kemarin, dan Ahmad Dhani hari ini (26/8/2018).

    Neno tak bisa keluar dari Bandara Sultan Syarif Kasim Pekanbaru, Riau, kemarin. Ia rencananya akan mendeklarasikan gerakan #2019GantiPresiden hari ini, namun pada Sabtu siang hingga sore, sejumlah orang menolak kedatangannya. Spanduk dibentangkan. Polisi dan TNI menutup akses bandara dengan pagar.

    Dilaporkan Antara, hingga pukul 17.00 massa masih berdemo menolak Neno. Pada saat itu datanglah massa dari pihak pro Neno, atau ingin Neno diperbolehkan keluar bandara.

    Sempat terjadi kericuhan antara dua kelompok ini, hingga akhirnya Neno dipulangkan lewat proses negosiasi yang lama, seperti yang disampaikan oleh Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto dengan alasan agar situasi kondusif.

    “Saya salat sebelum dilakukan pemulangan… dipaksa pulang tepatnya. Sekarang saya menuju dalam pesawat,” kata Neno lewat video yang tersebar ke grup WhatsApp. Pada video lainnya terlihat Neno dikawal petugas bersenjata ketika naik mobil di apron (tempat parkir pesawat).

    “Kalau saya bertahan di sini pasti mereka akan melakukan satu hal, ya, kekerasan,” katanya.

    Penolakan Neno di Riau sebetulnya telah diumumkan jauh-jauh hari. Pemuda Pancasila Riau mengancam akan menyegel bandara pada Selasa (21/8/2018).

    “Kami minta polisi tidak berikan izin. Apabila diberikan, bandara akan kami segel, akan kami tutup,” kata perwakilan Pemuda Pancasila Riau, Renaldi, di Mapolda Riau, Pekanbaru, dikutip dari Antara.

    Fahri Hamzah, politikus dari PKS cum Wakil Ketua DPR RI menyesali penghadangan yang dialami Neno. Dalam keterangan kepada sejumlah wartawan, Minggu (26/8/2018), ia mengatakan apa yang dialami Neno adalah “pertunjukan kedunguan dalam mengelola perbedaan pendapat.”

    “Masa melawan ibu Neno saja musti menggunakan perangkat aparatur negara?” katanya.

    Sementara Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Markas Besar Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto dalam keterangan tertulisnya mengatakan pembubaran acara seperti ini disebabkan karena polisi ingin menjaga kondusivitas di tengah masyarakat. Ia mengklaim polisi memang melarang Neno karena latar itu.

    “Sebagian besar masyarakat menolak karena belum masuk masa kampanye. Banyak gelombang penolakan tersebut dapat mengakibatkan konflik yang merupakan gangguan terhadap ketertiban umum dan memecah persatuan,” katanya.

    Apa yang terjadi Sabtu (25/8) sama persis dengan yang dialami Neno satu bulan lalu. Pada Sabtu, 28 Juli, Neno dilarang keluar Bandara Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau.

    Dia tiba pukul 17.00 dan langsung diinterogasi pihak bandara dan otoritas terkait hingga tengah malam. Polisi menurunkan hingga 700 personel untuk mengamankan lingkungan bandara. Acara ini pun resmi dibatalkan.

    Sementara Ahmad Dhani menyelenggarakan deklarasi #2019GantiPresiden di Surabaya. Sejak pagi tadi massa telah berdemo di Hotel Majapahit, tempat Ahmad Dhani menginap. Sementara massa yang hendak berdeklarasi, yang berkumpul di sekitar Tugu Pahlawan, dibubarkan polisi karena tidak mengantongi izin.

    Ahmad Dhani dan gerakan #2019GantiPresiden juga pernah ditolak di Serang, Banten. Pihak yang menolaknya adalah keluarga besar keturunan Sultan Maulana Yusuf.

    Mereka menolak karena acara diselenggarakan di halaman parkir pemakanan sultan. Mereka menganggap tak elok deklarasi politik seperti ini di area religi. Masyarakat pun ikut serta menolak.

    Deklarasi memang tetap berjalan, tapi pindah tempat ke kawasan Banten Lama, Kasunyatan, Serang, pada Jumat 10 Agustus 2018 pukul 13.00.

    Di Bandung, Jawa Barat, deklarasi ditolak oleh kelompok orang yang menamakan diri Forum Pasundan Bergerak. Mereka menyampaikan aspirasinya di Taman Vanda, Selasa 7 Agustus 2018. Deklarasi pun akhirnya diundur.

    Di samping penolakan dan bahkan batalnya deklarasi, toh ada pula yang sukses diselenggarakan, termasuk di Jakarta pada 6 Mei dan Solo pada 1 Juli.

    Untuk yang disebutkan terakhir malah sempat ramai dibicarakan karena massa disebut-sebut mendemo warung Markobar, usaha anak Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka, meski sebetulnya tidak demikian.

    Sumber: Tirto.id



    Komentar Pembaca: