Djarot Sebut Ancaman ke Ahok Disebar Lewat Telegram

    Rabu, 19 Juli 2017 - 11:05 Editor : Redaksi Dibaca : 172 Views

    Menit.co.id Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengatakan sempat mendapat informasi ancaman terhadap Ahok disebar melalui aplikasi pesan instan Telegram.

    “Ancaman ini sebenarnya sudah ada lama, bahkan sebelum beredar lewat Telegram saya juga sudah pernah dengar ancaman seperti itu. Makanya saya sampaikan waktu itu, saya memaksa jangan dipindah ke Cipinang,” kata Darot di Jakarta, Rabu (19/7), merujuk pada keputusan tidak memindahkan Ahok ke LP Cipinang.

    Terkait dengan itu, Djarot mendukung langkah pemerintah untuk memblokir situs Telegram karena semua layanan aplikasi pesan singkat harus dikendalikan oleh pemerintah.

    Djarot mengatakan layanan telegram yang bisa bertukar pesan tanpa bisa diketahui oleh pihak lain meningkatkan potensi aksi terorisme yang dikhawatirkan pemerintah meningkat.

    Sebelumnya, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly menyatakan, jajarannya dan aparat tak mau mengambil risiko memindahkan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ke Lembaga Pemasyarakatan Cipinang.

    Yasonna mengatakan, kehadiran Ahok di lapas Cipinang berpotensi menimbulkan keributan karena penghuni lapas saat ini masih terbagi dua bagian yakni pendukung dan bukan pendukung Ahok.

    Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) secara resmi mengumumkan telah meminta Internet Service Provider (ISP) untuk memblokir sebelas Domain Name System (DNS) Telegram per 14 Juli 2014.

    Kominfo mengkonfirmasi bahwa alasan penutupan aplikasi perpesanan instan ini karena layanan tersebut diyakini bermuatan propaganda.

    “Pemblokiran ini harus dilakukan karena banyak sekali kanal yang ada di layanan tersebut bermuatan propaganda radikalisme, terorisme, paham kebencian, ajakan atau cara merakit bom, cara melakukan penyerangan, disturbing images, dan lain-lain yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia,” demikian seperti tertulis pada siaran pers Kominfo.

    Kominfo menilai bahwa layanan ini bisa membahayakan negara karena tidak menyediakan SOP dalam penanganan kasus terorisme.

    Lebih lanjut, Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Semuel A. Pangerapan menegaskan bahwa pihaknya kini juga tengah menyiapkan proses penutupan aplikasi Telegram di Tanah Air.

    “Saat ini kami juga sedang menyiapkan proses penutupan aplikasi Telegram secara menyeluruh di Indonesia apabila Telegram tidak menyiapkan Standard Operating Procedure (SOP) penanganan konten-konten yang melanggar hukum dalam aplikasi mereka. Langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)” terang pria yang disapa Sammy ini.

    Telegram merupakan aplikasi layanan instan buatan Pavel Durov asal Rusia. Telegram dikenal sebagai layanan pesan instan dengan tingkat keamanan yang tinggi.

    Aplikasi ini adalah salah satu layanan yang memakai sistem enkripsi untuk percakapannya. Hingga saat ini, aplikasi Telegram memiliki pengguna aktif lebih 100 juta di seluruh dunia.

    Sumber: CNN Indonesia



    Komentar Pembaca: