Mempertanyakan Kesiapan Era Sepeda Motor Listrik di Indonesia

    Kamis, 2 November 2017 - 10:49 Editor : Redaksi Dibaca : 194 Views

    Menit.co.id – Meski sudah mengenalkan skuter listriknya ke dalam negeri, Yamaha belum berniat melakukan penjualan dalam waktu dekat.

    Ada berbagai alasan yang melatari keraguan perusahaan manufaktur kendaraan bermotor itu menjual kendaraan listrik di Indonesia.

    Padahal, pabrik Yamaha di tanah air sebenarnya sudah mampu melakukan perakitan motor listrik.

    “Menjadi electric vehicle itu tidak sulit dari sisi teknologi maupun manufacturing,” kata Executive Vice President Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) Dyonisius Beti, di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (1/11).

    Menurut Yamaha, meski pihaknya sudah memproduksi Fino yang ditenagai listrik di Indonesia, namun pabrikan itu belum berani untuk langsung memasarkannya.

    Menurutnya, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan sebelum menjual kendaraan listrik, misalnya terkait situasi kota yang kerap banjir, budaya berkendara, dan buruknya pemrosesan limbah.

    “Motor bensin lewat situasi itu (banjir) masalahnya paling mogok. Kalau motor ini (listrik) bisa nyetrum, dan cukup berbahaya. Jadi kami tidak berani gegabah menyangkut keselamatan pengendara,” ujar dia.

    Terkait budaya berkendara, Beti menilai masih banyak pengendara, maupun pejalan kaki tidak mentaati peraturan. Hal ini dinilai membahayakan, sebab motor listrik tidak mengeluarkan bunyi seperti kendaraan konvensional.

    “Di Indonesia motor yang enggak ada suara bisa banyak sekali accident, jadi faktor ini juga yang Yamaha pertimbangkan. Culture berkendara di Indonesia berbeda dengan Jepang ataupun negara di Eropa, yang sangat taat peraturan,” ujarnya.

    Selain itu, Beti juga menyoroti soal pencemaran lingkungan dari baterai kendaraan listrik. Sebab, di Indonesia belum ada pengolahan limbah khusus baterai.

    “Di Indonesia batu baterai kecil saja habis pakai langsung buang begitu saja. Nah, kalau baterai motor ini dibuang gitu saja akan mencemarkan air dan tanah, dampaknya berbahaya,” ujarnya.

    Menurut Beti perlu dibuat sistem pembuangan untuk baterai motor. Beti mencontohkan seperti yang terjadi pada aki kendaraan. Saat ini, aki tidak bisa sembarang dibuang saat sudah habis masa pakainya.

    Sehingga, diterapkan sistem tukar tambah saat pemilik kendaraan berniat menggantinya dengan yang baru. “Baterai ini tidak gampang di-recycle. Ini menyangkut masa depan, racun kan berbahaya makanya dipertimbangkan,” tandasnya.

    Sumber: CNN Indonesia



    Komentar Pembaca: