Anne Boleyn: Wanita Berpengaruh yang Jatuh Karena Tuduhan Rekayasa Politik?

Anne Boleyn
Anne Boleyn.(Wikimedia Commons)

MENIT.CO.ID – Sebagai istri kedua Raja Henry VIII, Anne Boleyn adalah salah satu wanita paling berpengaruh di abad ke-16. Namun, nasibnya berakhir tragis dengan tuduhan perzinahan dan pengkhianatan yang mengguncang sejarah Inggris. Apakah tuduhan itu benar atau hanya rekayasa politik?

Keinginan Henry untuk membatalkan pernikahannya dengan Catherine dari Aragon demi menikahi Anne Boleyn menjadi penyebab utama perpecahan Inggris dengan Gereja Katolik Roma pada tahun 1533. Namun, pernikahan Anne berakhir tragis seperti pendahulunya. Tuduhan perzinahan dan pengkhianatan menodai namanya sepanjang sejarah.

Anne Boleyn sering digambarkan sebagai wanita ambisius yang menggunakan pesonanya untuk memikat raja. Bahkan, ada deskripsi yang menyebutnya sebagai penyihir dengan enam jari. Namun, sejarawan seperti Hayley Nolan mempertanyakan kebenaran tuduhan ini. Dalam bukunya “Anne Boleyn: 500 Years of Lies”, Nolan mengkritik sumber-sumber konvensional yang mendiskreditkan Anne. Ia menyoroti kontribusi Anne dalam kemanusiaan, agama, dan politik, serta menyatakan bahwa banyak tuduhan mungkin dibuat-buat oleh Thomas Cromwell, penasihat Henry yang merasa terancam oleh kekuasaan Anne.

Anne Boleyn dieksekusi bersama lima pria yang dituduh berselingkuh dengannya, termasuk saudara laki-lakinya sendiri. Tuduhan ini mencakup perzinahan, inses, dan pengkhianatan tingkat tinggi. Namun, pada saat yang sama, Henry sudah terpikat oleh Jane Seymour, yang bertunangan dengannya sehari setelah eksekusi Anne.

Nolan mengemukakan bahwa Anne Boleyn sulit berselingkuh karena ketatnya pengawasan dan keyakinan agamanya yang kuat. Ia juga menyoroti kontribusi Anne dalam pengesahan Hukum Miskin, yang menyaingi kekuasaan Cromwell. Hal ini memberikan alasan mengapa Cromwell merasa terancam dan mungkin berkontribusi pada jatuhnya Anne.

Penafsiran sejarah tradisional tentang Anne Boleyn sering kali mengandalkan sumber-sumber yang tidak netral, seperti Duta Besar Spanyol Eustace Chapuys, yang mendukung Catherine dari Aragon. Catatan sejarah ini cenderung berasal dari perspektif laki-laki, yang memperkuat narasi bahwa perempuan hanya bisa mencapai kekuasaan melalui “penipuan.”

Nolan berpendapat bahwa mengoreksi cerita Anne Boleyn memiliki implikasi lebih luas terhadap cara perempuan diceritakan dalam sejarah. “Kami mengirimkan pesan berbahaya kepada dunia bahwa perempuan hanya menginginkan kekuasaan untuk alasan egois dan tidak penting,” katanya.

Mengkaji ulang sejarah Anne Boleyn, menurut Nolan, penting agar ketidakadilan serupa tidak terulang di masa kini. Sejarah Anne Boleyn tidak hanya tentang kehidupan seorang ratu yang jatuh, tetapi juga tentang bagaimana narasi perempuan sering kali dibentuk oleh kekuatan politik dan misogini.

Apakah Anne Boleyn benar-benar seorang pezina dan pengkhianat, ataukah ia korban dari permainan kekuasaan yang kejam? Kisahnya tetap menjadi misteri yang menggugah pikiran dan hati.