Benjamin Netanyahu Tegaskan Tidak Akan Ada Gencatan Senjata Permanen di Gaza

Benjamin Netanyahu Tegaskan Tidak Akan Ada Gencatan Senjata Permanen di Gaza
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam Sidang ke-78 Majelis Umum PBB di New York, AS, Jumat (22/9/2023). ANTARA/HO-UN Photo.

MENIT.CO.ID – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan pada Sabtu, 1 Juni 2024, bahwa tidak akan ada gencatan senjata permanen di Gaza sampai Hamas dan kemampuannya untuk memerintah di wilayah tersebut dihancurkan.

Pernyataan Benjamin Netanyahu ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengungkapkan bahwa Israel telah mengusulkan tiga tahap kesepakatan untuk gencatan senjata di Gaza yang akan ditukar dengan pembebasan sandera warga negara Israel.

“Syarat Israel untuk mengakhiri perang di Gaza tidak berubah. Yaitu, menghancurkan Hamas dan kemampuan mereka untuk mengendalikan pemerintahan di Gaza, membebaskan para sandera, serta memastikan Gaza tidak lagi menjadi ancaman bagi Israel,” kata Netanyahu dikutip dari Reuters.

Netanyahu menambahkan bahwa Israel akan terus menekankan tiga hal tersebut jika ingin mencapai gencatan senjata permanen. Israel tidak akan menyetujui gencatan senjata jika syarat-syarat ini tidak dipenuhi.

Jumlah korban tewas di Gaza akibat serangan Israel terus meningkat, lebih dari enam bulan sejak dimulainya agresi militer di wilayah tersebut. Data Kementerian Kesehatan Gaza pada April 2024 menyebutkan sedikitnya 34.049 warga Palestina tewas dan 76.901 orang terluka sejak serangan 7 Oktober 2023.

Serangan Israel ke Gaza dilancarkan setelah kelompok Hamas meluncurkan serangan pada 7 Oktober 2023, yang menurut klaim Israel, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 250 orang.

Tim mediator perang Gaza pada Sabtu, 1 Juni 2024, mendesak Israel dan Hamas untuk memfinalisasi gencatan senjata dan membebaskan para sandera seperti yang diusulkan oleh Presiden Amerika Serikat Joe Biden, yang menyatakan bahwa Amerika Serikat akan segera meredakan serangan di Gaza dan memulangkan para sandera kepada keluarga mereka.

Amerika Serikat, Mesir, dan Qatar telah berbulan-bulan berupaya memediasi untuk mengakhiri perang di Gaza, namun kesepakatan sulit tercapai.

Proposal yang diajukan Biden juga menawarkan sebuah masa depan yang lebih baik di Gaza tanpa kekuasaan Hamas. Namun, Biden tidak menjelaskan secara rinci bagaimana hal itu bisa dicapai. Hamas, yang diyakini didukung oleh Iran, belum menunjukkan tanda-tanda akan mundur dari kekuasaan di Gaza atau menyerahkan senjata mereka secara sukarela.