Mantan Presiden AS Barack Obama Kembali Naik Panggung Kampanye

Pertama kalinya sejak lengser, Barack Obama akhirnya naik ke panggung kampanye untuk mendukung Partai Demokrat dalam rangkaian pemilu beberapa bulan ke depan. (Spencer Platt/Getty Images/AFP)

Menit.co.id – Untuk pertama kalinya sejak lengser, mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, akhirnya naik ke panggung kampanye untuk mendukung kandidat Partai Demokrat dalam rangkaian pemilihan umum beberapa bulan ke depan.

Panggung pertama yang diinjak oleh Obama pada Kamis (19/10) adalah pentas kampanye di New Jersey, di mana ia menyampaikan pesan kuat mengenai politik perpecahan yang kian mengkhawatirkan di AS.

Tanpa menyebut nama Presiden Donald Trump, Obama mengatakan, “Kita tidak bisa menerima cara usang dengan politik perpecahan yang sering kita lihat dahulu, jauh beberapa abad lalu.”

Melanjutkan pernyataannya, Obama kemudian berkata,” Beberapa politik yang kita lihat sekarang, kita kira itu seharusnya sudah tak ada. Orang-orang itu seperti 50 tahun lalu. Ini abad 21, bukan abad 19.”

Dari New Jersey, Obama bertolak ke Richmond, Virginia. Di sana, ia kembali menyerukan kampanye yang terkesan menyindir Trump.

“Kita sudah melihat ada orang-orang yang mencoba membuat orang lain marah, memperburuk citra orang yang memiliki gagasan berbeda, membuat kekacauan karena itu dapat memberikan keuntungan sesaat. Terkadang, itu semua membuat frustrasi,” ucap Obama, sebagaimana dilansir Reuters.

Dengan kampanye ini, Obama diharapkan dapat memperkuat perolehan suara Partai Demokrat terutama dari kaum muda dan minoritas di New Jersey dan Virginia, dua negara bagian yang akan menggelar pemilu gubernur pada tahun ini.

Di Virginia, jajak pendapat menunjukkan persaingan ketat antara kandidat Partai Demokrat, Ralph Northam yang kini menjabat sebagai gubernur letnan, dan Ed Gillespie, mantan Ketua Komite Nasional Partai Republik dengan dukungan Trump.

Partai Demokrat cukup optimistis di Virgina dan New Jersey setelah Obama memenangkan suara di kedua negara bagian ini pada pemilu 2008 dan 2012.

Pada pemilu presiden 2016 lalu, kandidat Partai Demokrat, Hillary Clinton, juga mengalahkan Trump dengan perolehan suara 5 persen lebih tinggi di dua negara bagian ini.

Sumber: Reuters