Bank Riau Kepri Terapkan Sistem Pengamanan Berlapis

  • Bagikan
Bank Riau Kepri Terapkan Sistem Pengamanan Berlapis

Menit.co.id – PT Bank Riau Kepri saat ini telah menerapkan sistem pengamanan berlapis untuk mengantisipasi tindakan fraud yang berpotensi dilakukan oleh pegawai perseroan.

Direktur Utama Bank Riau Kepri Andi Buchari menjelaskan saat ini pihaknya sudah memiliki divisi internal audit dan ditambah dengan divisi anti-fraud.

“Setelah terjadinya kasus pencurian dana nasabah beberapa tahun lalu, kini kami meningkatkan sistem keamanan dana nasabah dengan divisi internal audit. Kemudian sekarang ditambah dengan divisi anti-fraud,” ujarnya dalam konpers Rabu (31/3/2021).

BACA : Cara Licik Teller Bank Riau Kepri Bobol Rekening Nasabah Rp1,3 Miliar

Menurut Andi, tindakan fraud yang dilakukan oleh pegawai, lambat laun akan tetap ketahuan karena secara periodik dilakukan pemeriksaan serta audit keuangan yang ketat.

Andi mengingatkan pihaknya tidak akan mendiamkan setiap kasus pencurian atau penggelapan dana nasabah dan akan memberikan efek jera dengan cara melaporkan kasus tersebut kepada kepolisian.

“Kami berkomitmen untuk menekan supaya niat fraud dari pegawai dapat dimatikan sejak awal. Jadi, pada saat ada kejadian akan langsung ditindak tegas,” katanya.

Kemudian PT Bank Riau Kepri juga berkomitmen melaksanakan tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG) dan tidak akan berkompromi dengan pelanggaran hukum sekecil apapun.

Hal ini menyusul terungkapnya kasus pembobolan dana nasabah Rp 1,3 miliar yang diduga dilakukan oleh mantan teller Bank Riau Kepri Cabang Pasir Pengaraian.

“Kami Bank Riau Kepri telah berinisiatif sebelumnya dalam membuat laporan dugaan tindak pidana perbankan yang diduga dilakukan oleh mantan teller Bank Riau Kepri Cabang Pasir Pengaraian ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Riau,” ujar Dwi Harsadi Putra, Pimpinan Bagian Komunikasi Korporasi Bank Riau Kepri nya dalam konferensi pers, Rabu, 31 Maret 2021.

Direktur Utama Bank Riau Kepri, Andi Buchari, menyatakan tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance akan dilakukan dengan membuat sistem pengamanan berlapis. Hal ini disiapkan untuk mencegah fraud oleh pegawai bank.

Untuk mencegah kecurangan, Andi menyatakan, pihaknya membentuk 2 divisi yakni divisi internal audit dan divisi anti-fraud.

Kasus pencurian dana nasabah yang belakangan muncul ini sebetulnya terjadi dalam kurun waktu 2010-2015. Hal ini terungkap setelah korban melaporkan adanya kekurangan jumlah tabungan pada rekening tiga nasabah dan hanya tersisa Rp 9,7 juta.

Padahal nasabah tersebut mengaku tidak pernah mengusik uang dalam tabungan tersebut sejak tahun 2005.

Setelah melakukan pemeriksaan dan investigasi menyeluruh, polisi menetapkan dua orang sebagai tersangka dan menangkapnya. Kedua tersangka itu adalah NH yang sebelumnya menjadi teller bank dan AS yang menjabat sebagai head teller.

Penetapan itu dilakukan setelah polisi memeriksa dan menemukan bukti slip penarikan uang yang berjumlah 135 slip transaksi di Bank Riau Kepri tersebut. Modus yang dilakukan tersangka dalam membobol rekening dengan memalsukan tanda tangan nasabah.

Respons Bank Riau Kepri

Pimpinan Bagian Komunikasi Korporasi Bank Riau Kepri Dwi Harsadi Putra menjelaskan tanggapan perseroan dari hasil pemaparan kasus pembobolan rekening nasabah atau tindakan fraud oleh oknum mantan pegawai perseroan yang dilaksanakan Polda Riau baru-baru ini.

“Kami Bank Riau Kepri telah berinisiatif sebelumnya dalam membuat laporan dugaan tindak pidana perbankan yang diduga dilakukan oleh mantan teller Bank Riau Kepri Cabang Pasir Pengaraian ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Riau dengan Laporan Polisi No. LP/102/III/2021/SPKT/RIAU tanggal 12 Maret 2021, di mana diduga mantan teller Bank Riau Kepri tersebut telah melakukan penarikan terhadap 3 rekening nasabah secara tidak sah pada kurun waktu 2010-2015 lalu,” ujarnya Rabu (31/3/2021).

Dari laporan tersebut, penyidik Ditreskrimsus polda Riau telah melakukan pemeriksaan dan meminta keterangan terhadap beberapa orang saksi dari internal Bank Riau Kepri dan nasabah, serta meminta beberapa dokumen yang diperlukan untuk kepentingan perkara.

Selasa (30/3/2021) lalu, penyidik telah menetapkan status tersangka terhadap mantan teller dimaksud dan terhadap mantan Pimpinan Divisi Pelayanan Nasabah selaku atasan ybs (mantan teller), karena kelalaiannya dalam prosedur penarikan dana nasabah yang dilakukan oleh mantan teller tersebut.

Menyikapi persoalan ini, Bank Riau Kepri telah mengambil tindakan tegas terhadap oknum tersebut dengan tidak memperpanjang kontrak dan memberhentikan oknum teller bersangkutan, sedangkan oknum Pinsi Pelnas telah mengambil langkah resign dari Bank Riau Kepri.

Terhadap perbuatan kedua mantan pegawai tersebut, perseroan menyatakan para pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, serta harus menjalani proses hukum sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Bank Riau Kepri juga mengapresiasi langkah pihak Kepolisian yang telah memproses tindak pidana perbankan yang dilakukan oleh kedua oknum mantan pegawai tersebut, dan ini menjadi pelajaran untuk seluruh insan Bank Riau Kepri agar bekerja secara jujur dan tidak menyalahi aturan yang telah ditentukan.

“Untuk kelancaran proses penyidikan ini, Bank Riau Kepri menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian untuk mengusut kasus tersebut sampai tuntas. Perseroan berkomitmen untuk tidak berkompromi pelanggaran hukum yang dilakukan pegawai, sekecil apapun,” ujarnya.

Kemudian kepada para nasabah, Bank Riau Kepri mengimbau agar tidak perlu khawatir dengan keamanan dana yang diamanahkan kepada perseroan.

Perseroan berkomitmen untuk tetap menjalankan tata kelola perusahaan yang baik dan senantiasa berupaya mengantisipasi hal serupa agar tidak terjadi lagi di masa yang akan datang.

Adapun, sebelumnya dua mantan teller Bank Riau Kepri bernisial NH dan AS, ditangkap karena diduga membobol uang nasabah dengan nilai sekitar Rp1,3 miliar.

Kabid Humas Polda Riau, Kombes Pol Sunarto mengatakan aksi keduanya terungkap saat tiga nasabah melaporkan uang tabungan yang disimpan di bank tersebut berkurang, saat nasabah mengaku tidak pernah melakukan penarikan dana di rekening terkait.

“Dari hasil pemeriksaan, modus kedua tersangka membobol rekening dengan memalsukan tanda tangan ketiga nasabah,” ujarnya Selasa (30/3/2021).

Dari keduanya, polisi mengamankan barang bukti 135 slip transaksi penarikan uang dan buku tabungan. Akibat pembobolan rekening tersebut, kerugian yang dialami para nasabah mencapai Rp1,3 miliar.

Saat ini keduanya ditahan di Mapolda Riau, untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. Kedua tersangka akan dijerat dengan UU Perbankan, dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara, atau denda senilai Rp5 miliar.

  • Bagikan