Harga Minyak Dunia Terus Turun, Bagaimana Nasib Arab Saudi?

    Rabu, 28 November 2018 - 12:32 Editor : Redaksi Dibaca : 157 Views

    Menit.co.id Harga minyak dunia tercatat terus turun. Hanya dalam hitungan minggu harga minyak bisa merosot hingga 30%, namun kondisi Arab Saudi sebagai negara penghasil minyak masih tetap kondusif, tak ada masalah berarti.

    Mengutip CNN Business negara anggota OPEC menginginkan harga minyak bisa lebih tinggi, namun mereka juga berinisiatif untuk menurunkan produksi pada akhir bulan ini.

    Dengan kondisi ekonomi dunia yang tidak stabil seperti ini, Arab Saudi memang menanggung harga yang lebih rendah. Ini karena negara tersebut masih senang bersahabat dengan Amerika Serikat (AS) khususnya dengan sang Presiden, Donald Trump.

    Saat ini harga minyak mentah AS diperdagangkan di kisaran harga US$ 51 per barel. Sebelumnya awal Oktober 2018 harga minyak sempat bertengger di posisi US$ 76 per barel.

    Sementara itu untuk minyak Brent saat ini dijual US$ 60 per barel dari sebelumnya US$ 86. “Bahkan jika harga minyak Brent jatuh ke posisi US$ 40- US$ 50 per barel maka akan mengganggu dan menimbulkan masalah,” tulis laporan dari Capital Economics, Rabu (28/11/2018).

    Laporan tersebut juga memprediksikan harga minyak bisa terus merosot ke posisi US$ 30 per barel. Arab Saudi tetap diprediksi mampu mempertahankan diri dengan membiayai transaksi ekspor impor karena cadangan devisanya yang sangat besar dalam satu dekade.

    Analis juga memproyeksikan penurunan harga minyak itu akan menekan anggaran perusahaan atau negara-negara minyak tersebut.

    Memang untuk anggaran Negara 2018 ini Saudi mematok harga yang konservatif di kisaran US$ 50 – US$ 55 per barel. Sedangkan untuk biaya operasional untuk satu barel minyak di Saudi kurang dari US$ 10 pada 2015 lalu.

    Satu tahun lalu, Saudi menunda rencana penyeimbangan Anggaran untuk memacu pertumbuhan, yang tadinya 2020 menjadi 2023. Ini karena harga minyak yang lebih tinggi pada awal tahun 2018.

    Harga minyak dunia juga sempat jatuh pada periode 2014-2015. Ini menyebabkan pihak kerajaan Saudi memutar otak untuk memperbaiki kondisi keuangan negara.

    Kala itu defisit anggaran tercatat US$ 100 miliar atau sekitar 15% dari PDB. Dana Moneter Internasional saat itu telah memperingatkan jika hal tersebut terus terjadi maka negara bisa kehabisan anggaran.

    Hal tersebut membuat Saudi memangkas subsidi, menarik pajak penjualan hingga masuk ke pasar obligasi global.

    (dtc/cnn)



    Komentar Pembaca: