Kronologi Naiknya Harga Tiket Pesawat hingga Akhirnya Diturunkan Kembali

    Senin, 14 Januari 2019 - 19:32 Editor : Redaksi Dibaca : 260 Views

    Menit.co.id Industri penerbangan Indonesia kembali mendapat sorotan publik. Namun, bukan karena prestasi atau pelayanan yang baik, tapi peningkatan tarif secara signifikan.

    Pada awal 2019 seluruh maskapai penerbangan dalam kategori low-cost carrier di Indonesia, tidak lagi menggratiskan bagasi untuk penumpang. Kemudian publik menyoroti maskapai yang tidak kunjung menurunkan harga tiket penerbangan dalam negeri. Padahal, peak season sudah berakhir.

    Setelah mendapat tekanan dari publik, mulai keluhan di media sosial hingga petisi online, perusahaan penerbangan mulai buka suara soal kebijakan mereka yang menurunkan harga tiket. Beberapa perusahaan mengatakan, saat ini mereka sedang punya masalah keuangan.

    Keluhan masyarakat ini kemudian ditanggapi pemerintah. Kementerian Perhubungan mengumpulkan perwakilan perusahaan penerbangan. Hasilnya, harga tiket penerbangan domestik dijanjikan turun segera.

    Berikut rentetan kejadian mulai tidak gratisnya lagi bagasi untuk penumpang hingga tekanan publik yang membuat maskapai penerbangan mau menurunkan harga tiket:

    5 Januari 2019
    Lion Group (Lion Air dan Wings Air) mengumumkan kebijakan baru. Bagasi untuk penumpang yang biasanya gratis hingga 20 kilogram, tidak lagi berlaku. Penumpang Lion Air yang ingin membawa bagasi kini harus membawa biaya tambahan.

    Peraturan ini berlaku mulai 8 Januari 2019. Tidak dijelaskan sebab aturan ini diterapkan.

    10 Januari 2019
    Aturan yang baru diberlakukan Lion Group juga diberlakukan Citilink. Maskapai berbiaya hemat anak perusahaan Garuda Indonesia ini meniadakan fasilitas gratis bagasi 10 kilogram yang sebelumnya diberikan kepada penumpang. Dengan kebijakan baru dari Citilink maka seluruh LCC di Indonesia tidak lagi memberikan bagasi gratis ke penumpang.

    Meski ada tarif baru yang dibebankan ke penumpang, harga tiket pesawat tidak semakin murah. Pada awal 2019, harga tiket transportasi massal udara ini tidak kunjung turun, meski peak season libur akhir tahun telah usai.

    Masyarakat sampai berang. Bahkan ada yang membuat petisi untuk meminta pemerintah menurunkan harga tiket pesawat.
    Mahalnya harga tiket pesawat yang dianggap terlampau tinggi, sempat ditanggapi beberapa pejabat maskapai penerbangan.

    Direktur Utama Sriwijaya Air Joseph Adrian Saul misalnya. Dia mengatakan, harga tiket pesawat yang ditetapkan oleh maskapai ini jauh lebih murah ketimbang naik taksi online.

    “Masih lebih murah ya kalau dibandingkan per kilometer dengan taksi. Misalnya ke Jogja (Yogyakarta), jaraknya sekitar 579 kilometer. Kalau naik taksi online kan per kilometer Rp 6.000, jadi total kalau naik taksi Rp 3,5 juta. Naik pesawat Rp 700 ribu paling mahal Rp 1 juta. Harga jual itu juga terjadi tergantung permintaan penawaran,” katanya saat dihubungi kumparan.

    Sedangkan Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia Ikhsan Rosan mengakui, harga tiket maskapai pelat merah tersebut mengalami kenaikan. Namun kenaikan itu masih sesuai aturan yang ditetapkan oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

    “Iya, tapi harga tiket saat ini masih sesuai dengan koridornya. Kalau di atas ketentuan, kami kena semprit,” ujarnya kepada kumparan, Kamis (10/1).

    Dia pun mengungkapkan, sebagian besar tarif yang diberlakukan sebelum libur Natal dan Tahun Baru adalah tarif promosi. Saat ini, menurutnya, tarif yang dikenakan ke masyarakat adalah harga riil tiket yang semestinya dikenakan.

    “Dulu kami bermain harga promo untuk meningkatkan jumlah penumpang. Sekarang kami close harga promo, harga riil,” beber Ikhsan.

    Namun, belum turunnya harga tiket setelah peak season berakhir bukan tanpa alasan. Beberapa faktor penyebabnya ialah pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS, serta tingginya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk pesawat, Avtur.
    Full service airline dalam negeri, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), misalnya.

    Hingga akhir kuartal III 2017, maskapai pelat merah itu mencatatkan kerugian USD 110,2 juta, atau sekitar Rp 1,55 triliun (kurs Rp 14.093).

    Adapun kerugian itu disebabkan total biaya maskapai itu hingga kuartal III 2018 sebesar USD 3,29 miliar. Rinciannya yakni dari bahan bakar berkontribusi sebesar USD 1,01 miliar, sewa pesawat USD 811 juta, dan biaya lain USD 1,46 miliar.

    Sementara pendapatan pada periode itu hanya USD 3,22 miliar. Pendapatan itu berasal dari penerbangan berjadwal USD 2,56 miliar, pendapatan penerbangan tidak berjadwal sebesar USD 254,8 juta, dan pendapatan lain sebesar USD 398 juta.

    Selain Garuda Indonesia, low cost airline yang beroperasi di dalam negeri, PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) juga mengalami kinerja buruk serupa. Di kuartal III 2018, AirAsia menderita kerugian Rp 639,16 miliar, atau membengkak 45 persen year on year (yoy).

    11 Januari 2019
    Tingginya harga tiket pesawat mulai dikhawatirkan berdampak ke inflasi. Pada Desember 2018, kenaikan harga tiket pesawat menjadi penyebab utama inflasi.

    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Desember 2018 sebesar 0,62 persen secara bulanan (mtm). Tarif angkutan udara menyumbang inflasi 0,10 persen karena adanya hari libur Natal dan Tahun Baru.

    “Inflasi Januari kita lihat nanti andil transportasi jadi salah satu yang paling besar. Faktor utama dongkrak inflasi Januari ini tarif angkutan udara, ini masih mahal usai peak season kemarin,” ujar Peneliti Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira kepada kumparan, Jumat (11/1).

    Tak hanya itu, Bhima juga memprediksi tarif angkutan udara akan kembali masuk dalam sepuluh besar komoditas penyumbang inflasi sepanjang tahun ini.

    Pada 2018, tarif angkutan udara menduduki posisi ke-6 penyumbang inflasi dengan andil 0,1 persen. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan 2017 yang hanya menduduki posisi ke-16 dengan andil 0,02 persen.

    Selain itu, Association of Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) menilai harga tiket pesawat mahal, khususnya untuk penerbangan domestik, di luar periode peak season akan mengancam pertumbuhan pariwisata nasional.

    Ketua Umum ASITA, Asnawi Bahar, mengungkapkan kenaikan harga tiket pesawat full service domestik seperti Garuda Indonesia saat ini mencapai 100 persen, sementara harga tiket pesawat low cost carrier seperti Lion Air mencapai 50 persen.

    “Ke depan (kenaikan harga tiket pesawat) mengancam pariwisata nasional. Apabila airline harga tiketnya seperti ini, pariwisata domestik akan hancur,” kata Asnawi kepada kumparan, Jumat (11/1).

    Menurut dia, industri pariwisata terdiri dari 3A, yakni Aksesibilitas, Amenitas, dan Atraksi. Jika harga tiket pesawat naik yang merupakan komponen aksesibilitas, maka akan berdampak negatif kepada aspek amenitas dan atraksi.

    Jika harga tiket naik, masyarakat akan memperpendek tinggal di daerah wisata karena biaya travelling-nya telah banyak tersedot untuk membeli tiket. Adapun lama tinggal atau hotel yang ditempati merupakan bagian dari amenitas.

    Sedangkan konsumen yang mendapati kenyataan harga tiket penerbangan domestik yang terlampau tinggi, mulai putar otak. Rute memutar dengan penerbangan internasional dijadikan opsi.

    Cara ini dipakai sejumlah warga Aceh yang ingin terbang ke Jakarta. Mereka memilih penerbangan yang transit ke Kuala Lumpur karena selisih harga yang cukup besar.

    12 Januari 2019
    Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mulai berbicara soal tiket pesawat yang masih mahal. Dia sempat menduga tingginya tarif akibat karena selama ini maskapai penerbangan menerapkan harga tiket murah karena adanya perang tarif.

    “Memang selama ini mereka perang tarif. Begitu harganya normal seolah-olah tinggi. Namun demikian, saya memang ajak mereka untuk secara bijaksana melakukan kenaikan itu secara bertahap. Kami lagi bicara,” ungkap Budi Karya di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Sabtu (12/1).

    13 Januari 2019
    Budi Karya Sumadi mengumpulkan para direktur utama maskapai penerbangan di rumah dinasnya, Jalan Widya Chandra IV Nomor 19, Jakarta Selatan Dia ingin meminta harga tiket pesawat diturunkan.

    “Saya hari ini jam 11 memanggil semua direktur utama (maskapai). Saya akan pertanyakan mengapa Anda menaikkan? Dan beberapa hari yang lalu saya sudah minta kepada mereka untuk menurunkan tarif-tarif itu,” kata Budi Karya seusai kegiatan olahraga bersama di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, Minggu (13/1).

    Selepas pertemuan, Budi Karya mengatakan, masalah tiket pesawat bakal selesai paling lama dua hari.
    Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia atau Indonesia National Air Carriers Association (INACA), Tengku Burhanuddin, menegaskan faktor bisnis dan keselamatan penerbangan akan tetap terjaga meskipun harga tiket pesawat turun.

    “Enggak karena biayanya kan dr mereka (AP I, AP II, dan Airnav). Misalnya biaya navigasi tadinya naik, jadi enggak naik dulu. AP I dan AP II yang tadinya sudah ditetapkan akan kasih penurunan (biaya layanan bandara). Enggak masalah,” kata Burhanuddin saat ditemui kepada kumparan usai rapat di rumah dinas Menhub, Jalan Widya Chandra IV Nomor 19, Jakarta Selatan, Minggu (13/1).

    Menurut Burhanuddin, berdasarkan hasil rapat antara direksi maskapai, otoritas penerbangan, dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, ditetapkan skema agar harga tiket bisa lebih murah.

    Keputusan untuk menekan biaya operasional maskapai tersebut antara lain pemberian potongan harga dari Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II selaku pengelola bandara. Selain itu, Airnav, sebagai penyelenggara layanan navigasi juga tidak akan menaikkan tarif terlebih dahulu.

    Dia menjelaskan, salah satu rute penerbangan yang akan turun ke dalam waktu dekat misalnya Banda Aceh-Jakarta dari Garuda Indonesia. Penurunannya bisa mencapai 50 persen.

    “Contohnya. Banda Aceh-Jakarta tadinya Garuda jual Rp 3,2 juta. Keliatannya Garuda akan jual Rp 1,6 juta,” kata dia dalam konferensi pers di kawasan SCBD, Jakarta, Minggu (13/1).

    Sementara untuk maskapai Batik pada rute yang sama juga kemungkinan akan turun dari Rp 2,8 juta menjadi Rp 1,5 juta.

    Untuk rute Jakarta-Jayapura yang tadinya dijual Rp 5,4 juta kemungkinan bakal dijual Rp 3 juta. Sementara Batik untuk rute Jakarta-Bali bakal turun dari Rp 2,9 juta menjadi Rp 1,9 juta.

    (Kumparan)



    Komentar Pembaca: