Ramadan dan Idul Fitri 2021 Diprediksi Daya Beli akan Sepi

  • Bagikan
Ramadan daya beli sepi

Menit.co.id – Ramadan dan Idul Fitri semakin dekat, tapi para pelaku usaha ritel masih menunggu program vaksinasi dan pelonggaran kegiatan masyarakat.

Para pedagang masih berhitung untuk menambah stok karena persediaan tahun lalu masih tersisa. Pengusaha khawatir tren konsumsi pada Lebaran nanti tak banyak beda dengan tahun lalu.

Menurut Ketua Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah, sebulan menjelang ramadan dan Idulfitri nanti, pengusaha berencana menambah stok barang. Namun, penambahan tersebut akan tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya karena masih ada sisa stok tahun lalu.

BACA : Lima Bisnis Paling Menguntungkan Selama Bulan Puasa Ramadan

“Kalau sebelum ada Covid-19, kita bisa bisa menaikkan stok 2-3 kali lipat dari penjualan pada hari-hari biasa, tapi sekarang ini mungkin hanya sekitar 50-60 persen saja karena masih ada sisa stok tahun lalu,” kata Budihardjo, Rabu (10/3/2021).

Budihardjo mengatakan, penyesuaian kapasitas ekspansi dilakukan lantaran pengusaha juga masih memantau perkembangan situasi pandemi Covid-19. Perhatian pengusaha terutama kepada pelaksanaan pembatasan kegiatan di sejumlah daerah.

Selain itu, lanjut dia, pengusaha juga berharap besar kepada program vaksinasi virus korona. Percepatan program tersebut diyakini akan menumbuhkan rasa aman masyarakat untuk kembali beraktivitas di luar rumah. Hal ini diharapkan akan berdampak positif terhadap kinerja perusahaan ritel.

Menurut Budihardjo, pengusaha antusias mendukung program vaksinasi pemerintah dengan memberikan sejumlah bantuan. Bantuan pengusaha ini diberikan dengan menyediakan tempat vaksinasi di sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta.

“Saran kami kepada pemerintah agar pegawai mal dan lansia bisa divaksinasi di mal kami. Kami para tenant juga akan mendukung dengan menawarkan potongan harga bagi mereka yang telah divaksinasi,” katanya.

Kepada Lokadata.id, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Solihin menambahkan, pengusaha masih khawatir pola konsumsi masyarakat menjelang Ramadan 2021 ini sedikit banyak akan sama dengan tahun lalu. Masyarakat diyakini masih akan membatasi aktivitasnya ke luar rumah.

Pada ramadan dan Idulfitri tahun lalu, kata Budihardjo, penjualan ritel cukup terdampak, terutama barang-barang fesyen dan kebutuhan pokok. Padahal, di waktu normal sebelum pandemi, capaian penjualan saat hari raya umat Islam ini kenaikannya bisa mencapai 2 hingga 3 kali lipat dari bulan-bulan lainnya.

“Sadar nggak sadar, orang masih takut keluar rumah. Selain itu, penjualan sekarang turun karena kemampuan daya beli masyarakat sekarang ini masih belum stabil,” kata Solihin kepada Lokadata.id.

Senada dengan Budiharjo, Solihin berharap agar program vaksinasi Covid-19 bisa menjangkau seluruh masyarakat secara luas. Bila program vaksinasi berjalan sesuai target, hal itu dapat mendongkrak keyakinan masyarakat dan aktivitas ekonomi pun dapat bergerak kembali.

Kunjungan mal naik, dipengaruhi stimulus

Harapan akan keberhasilan program vaksinasi Covid-19 dan pelonggaran pembatasan juga disampaikan pelaku usaha pusat perbelanjaan/mal.

Menurut Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan Indonesia (Appbi), Alphonzus Widjaja, kedua faktor ini merupakan penentu utama kenaikan kunjungan dan penjualan pada Ramadan dan Idulfitri nanti.

Alphonzus mencatat, pada awal 2021 ini tingkat kunjungan di pusat perbelanjaan seluruh pulau Jawa sempat anjlok menjadi rata-rata 20 persen sejalan dengan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Angka ini kemudian membaik pada pelaksanaan PPKM mikro menjadi rata-rata 50 persen. “Tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan menjelang dan pada saat Idulfitri diperkirakan akan ada penambahan sekitar 30-40 persen lagi,” kata Alphonzus kepada Lokadata.id.

Survei Bank Indonesia (BI) sebelumnya memprediksi, penjualan eceran pada tiga bulan ke depan akan turun. Hal itu terindikasi dari indeks ekspektasi penjualan (IEP) sebesar 150,4, turun dari bulan sebelumnya 152,5. Survei yang sama memperkirakan, ada tekanan inflasi pada 3 bulan mendatang (April 2021), sementara 6 bulan mendatang akan menurun (Juli 2021).

“Responden menyatakan hal tersebut antara lain karena kelancaran distribusi dan pasokan,” demikian dikutip dari situs Bank Indonesia.

Menurut Kepala Ekonom bank Permata, Josua Pardede, prediksi BI dalam survei agak mengejutkan lantaran biasanya penjualan barang ritel akan meningkat saat momen hari raya besar keagamaan. Kondisi ini misalnya terjadi pada Natal dan Tahun Baru 2020 lalu.

Josua menduga, prediksi penurunan ini muncul karena survei dilakukan sebelum pemerintah mengeluarkan sejumlah stimulus, seperti: relaksasi pajak dan DP nol persen untuk mobil baru dan rumah.

Pelbagai insentif ini, katanya, diprediksi akan meningkatkan gairah warga berbelanja dan pada gilirannya berdampak ke penjualan ritel.

“Tren dari penjualan (eceran) ini akan terus membaik dengan catatan tadi ada kebijakan pemerintah yang diharapkan bisa menggerakkan spending. Kalau spending masyarakat ini meningkat maka akan terefleksi juga dalam produktivitas penjualan,” kata Josua.

Survei BI mencatat, indeks penjualan riil secara bulanan pada Januari lalu terkontraksi 4,3 persen, turun dari Desember 2020 yang tumbuh positif 4,8 persen. Bank sentral memperkirakan, penjualan eceran pada Februari membaik menjadi minus 0,7 persen.

  • Bagikan