Sektor Agribisnis Kerap Menjadi Ketel Pengaman Ekonomi Indonesia

  • Bagikan
Industri Minyak Sawit Indonesia Sektor Ekonomi yang Ekstraktif

Menit.co.id – Sektor agribisnis masih memberikan pertumbuhan yang relatif positif dan menjadi ketel pengaman ekonomi Indonesia.

Selama masa pandemi Covid-19 perekonomian Indonesia tercatat mengalami penurunan, kondisi demikain juga dialami semua negara-negara lainnya di dunia.

Hanya saja dikatakan Menteri Pertanian periode 2000 – 2004, Bungaran saragih, untuk sektor agribisnis masih memberikan pertumbuhan yang relatif positif.

Lebih lanjut kata Bungaran, dalam banyak krisis yang dialami Indonesia, sektor agribisnis utamanya yang di on farm, selalu memberikan petumbuhan yang positf.

BACA : Pelabuhan Kijing Segera Beroperasi Demi Genjot Pendapatan Sawit

“Dalam banyak krisis yang pernah dialami Indonesia, sisitem agrisbisnis khususnya on farm selalu menjadi ketel pengaman bagi perekonomian kita, bahkan pada 1998 lalu disaat perekonomian kita mengalami krisis justru agribisnis booming. Sekarang tidak booming tetapi tidak negatif pertumbuhannya,” kata Bungaran dalam Sambutannya pada acara Agrina Agribusiness Outlook “Prospek Agribisnis Indonesia 2021”, yang dihadiri InfoSAWIT, Rabu (10/3/2021)

Lantas bagaimana di 2021? Kata Bungaran, masih ada optimisme bagi pengembangan agribisnis di Indonesia, lantaran produk-produk agribisnis diprediksi akan lebih meningkat, kendati belum sebaik seperti tahun 2020 lalu. “ Tetapi akan lebih baik dari tahun lalu,” katanya.

Hanya saja sektor agribisnis bukannya tanpa tantangn di 2021, menurut pengamatan Bungaran, terdapat dua tantangan yang akan dihadapi, pertama, sistem agrinibisnis yang masih terkotak-kotak antara on farm dan off farm, sebab itu pengembangan sektor agribisnis bisa mencontoh komoditas minyak kelapa sawit yang relatif sudah terintegrasi dengan baik.

“Sektor sawit telah menjadi sektor agirbisnis yang penting bagi Indonesia, selain telah mengantarkan Indonesia sebagai produsen utama minyak sawit, komoditas ini juga telah tersebar dan menguasai dunia,” katanya.

Untuk komoditas-komoditas lain seperti kopi, karet, kakao dan lainnya bisa melihat model agribisnis yang relatif lebih terkoordinasi seperti komoditas kelapa sawit, bila sudah dilakukan secara terkoordinasi dengan baik maka harapannya pengembangan sektor agribisnis akan lebih baik.

Kedua, sistem on farm yang masih menerapkan sistem gurem, tidak terorganisasi dengan baik, dan terdapat sekat antara on farm dan off farm. Sebab itu pengembangan kedepan mesti ditekankan pada level mikro, menengah dan besar.

“untuk level mikro ini mesti menggerakan koperasi, ini tantangan yang mesti dihadapi, yakni penguatan kerjasama antara petani dan pegusaha, serta mengubah sistem gurem,” tandas Bungran.

  • Bagikan