Sriwijaya Travel Pass, Kini

    Selasa, 8 Januari 2019 - 20:50 Editor : Redaksi Dibaca : 131 Views

    Menit.co.id Sriwijaya Travel Pass (SJTP) pertama kali dikenalkan ke publik pada pertengahan tahun 2018. SJTP adalah sebuah program yang dikeluarkan oleh maskapai Sriwijaya Air, yang penjualannya juga terbatas.

    Masa berlaku program ini adalah selama setahun semenjak tanggal pembelian. Penjualan program keanggotaan SJTP telah berlangsung sebelumnya pada 9 April 2018 hingga 9 Juni 2018.

    Program yang ditawarkan sejatinya sangat menarik, yaitu terbang sepuasnya selama setahun untuk semua rute domestik menggunakan pesawat yang berada di bawah naungan Sriwijaya Grup (Sriwijaya dan Nam Air).

    Harga yang perlu dibayar untuk dapat mengikuti program ini dengan menjadi anggota juga relatif murah, yaitu Rp 12 juta untuk keanggotaan selama setahun.

    Pada satu konferensi pers di tahun 2018, Direktur Komersil Sriwijaya Air, Toto Nursatyo, menuturkan bahwa dengan membayar sebesar Rp 12 juta, kamu menjadi member Sriwijaya dan dapat keliling Indonesia tanpa batasan dan tanpa blackout date.

    Produk ini bahkan dapat kamu gunakan saat peak season, asalkan seat untuk penerbangan yang kamu tuju masih tersedia. Kira-kira seperti itu pernyataan yang sempat disampaikan pada waktu itu.

    Beberapa bulan berlalu, program ini berjalan dengan lancar dan sangat baik. Saya sendiri turut membeli program promo ini dan menjadi member pada Juni 2018. Namun, perubahan mulai terasa pada Oktober 2018.

    Sebuah pesan melalui surat elektronik dari Sriwijaya menyatakan, mulai 22 Oktober 2018 pembatasan kuota bagi para anggota SJTP akan efektif diberlakukan, dengan alasan pertimbangan atas kondisi bisnis penerbangan.

    Sriwijaya Travel Pass (Foto: member.sriwijayaair.co.id)

    Menurut saya, baik, hal ini masih dapat saya terima. Pembatasan kuota bagi anggota SJTP dalam setiap jenis pesawat yang akan digunakan menurut saya masih dalam angka yang wajar.

    Sebagai contoh, berikut ini saya kutip isi keterangan dari email yang dikirimkan oleh pihak Sriwijaya:

    – Penerbangan dengan pesawat Boeing 737-800 atau Boeing 737-900; alokasi 75 seat.
    – Penerbangan dengan pesawat Boeing 737-300 atau Boeing 737-500; alokasi 35 seat.
    – Penerbangan dengan type pesawat ATR 72-600; alokasi 15 seat.

    Setelah mendapatkan informasi seperti yang tertera di atas, saya pun merasa program ini masih berjalan dengan cukup baik. Hingga akhirnya sebuah keanehan besar mencuat pada 5 Desember 2018.

    Hampir semua rute penerbangan jika dibeli menggunakan keanggotaan SJTP dinyatakan sold out. Beberapa rute bahkan dinyatakan sold out hingga berbulan-bulan ke depan di tahun 2019.

    Tidak pandang bulu, tiket habis ini tidak hanya terjadi di saat akhir minggu saja, namun juga terjadi pada hari kerja biasa. Ajaibnya, jika kita membeli tiket tidak menggunakan keanggotaan SJTP, tiket-tiket tersebut tersedia dengan cantik di berbagai platform penjualan online, baik dari laman web Sriwijaya sendiri, ataupun dari laman web pihak ketiga.

    Awalnya saya berfikir apakah ini sebuah kesalahan? Mungkin server-nya sedang dalam perawatan rutin? Atau mungkin sedang ada peningkatan performa program pada teknologi aplikasi Sriwijaya? Apakah hanya saya sendiri yang mengalaminya? Berbagai kemungkinan saya coba pertimbangkan.

    Beberapa hal juga saya coba lakukan, mulai dengan me-reset aplikasi, ataupun laman web Sriwijaya. Namun, tidak ada perubahan. Kemudian informasi terkait permasalahan ini berdatangan dengan cepat ke dalam sebuah grup WhatsApp.

    Tidak hanya saya yang mengalami masalah tersebut, semua anggota yang ada di dalam grup chat tersebut juga mengalami masalah yang saya alami. Setelah menunggu beberapa waktu, ternyata tidak juga ada perubahan, hingga memasuki bulan Januari 2019.

    Oh ya, kami para anggota SJTP, tergabung dalam beberapa grup WhatsApp (WA) ataupun aplikasi lainnya seperti Line dan Telegram. Berapa besar jumlah anggota di dalam satu grup? Cukup besar. Di dalam grup WA yang saya ikuti saja, setidaknya terdapat lebih dari 280 anggota, belum lagi dari grup lain yang saya tidak ikuti.

    Dari beberapa informasi yang sempat saya terima, jumlah member SJTP keseluruhan berada di kisaran 6.000 – 10.000 orang (namun tentunya hal ini perlu dikonfirmasi dengan pihak Sriwijaya sendiri).

    Namun, memandang jumlah angka yang tidak sedikit tersebut, saya kembali terbayang pada jumlah uang yang telah diterima pihak Sriwijaya secara keseluruhan dari program ini. 12 juta dikali 6.000, 7.000, 8.000, atau berapapun angka pastinya itu. Angka yang besar tentunya.

    Tidak terima dengan hal ini, kami pun mulai melakukan berbagai cara, mulai dari menelpon pihak layanan konsumen Sriwijaya, mengirim email keluhan, petisi terhadap Sriwijaya Air, hingga juga banyak teman-teman yang telah mendatangi langsung kantor Sriwijaya Air, baik kantor pusat maupun kantor perwakilannya di daerahdaerah.

    Tak lupa pada saat check-in kami juga menyampaikan keluhan kami dengan petugas check-in dan ground handling. Namun, tentunya para pertugas tersebut tidak dapat memberikan solusi atas keluhan kami, yang mereka dapat lakukan hanya menerima keluh kesah kami dan menjawab bahwa hal ini akan disampaikan ke pihak manajemen.

    Mungkin sebagian anda yang membaca artikel ini menganggap, bisa jadi memang pesawatnya penuh. Atau mungkin ada juga yang bertanya, bagaimana dengan kondisi riil di lapangan? Jangan khawatir, keluhan kami ini juga tentunya melihat fakta yang ada di lapangan.

    Untuk penerbangan yang dinyatakan habis untuk member, ternyata pada faktanya masih menyisakan banyak kursi kosong di dalam pesawat. Banyak penerbangan Sriwijaya yang sempat difoto dan divideokan oleh member yang telah melakukan pembelian tiket sebelum 5 Desember 2018.

    Foto dan video tersebut memperlihatkan kondisi kursi kosong yang banyak. Ada yang 30% kosong, bahkan ada yang 70%-80% kosong. Sementara jika kita periksa di laman web pembelian tiket untuk anggota SJTP, dinyatakan SOLD OUT. Tentunya kami selaku konsumen yang telah memenuhi kewajiban merasa dikhianati.

    Beberapa dari kami yang ikut membeli program SJTP ini bertujuan untuk dapat berkumpul dengan keluarga, karena dipisahkan oleh lokasi pekerjaan yang jauh di berbagai penjuru Indonesia.

    Namun, semenjak pembatasan sepihak oleh pihak Sriwijaya ini, tentunya banyak keluarga, istri, anak, suami, ataupun orang tua yang merasakan kehilangan kesempatan untuk berkumpul lebih sering seperti sedia kala sebelum program ini dengan sengaja dibatasi dengan jumlah yang tidak transparan.

    Belum lagi pihak lain yang menggunakannya untuk keperluan usaha, tentu hal ini sangat merugikan. Ya, ribuan member SJTP telah dikhianati dengan keadaan ini.

    Kami para anggota juga telah menyampaikan keluhan ini kepada Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Namun, hingga saat ini, dari pihak Sriwijaya sendiri masih belum melakukan respons yang berarti.

    Semua keluhan dan kekecewaan kami hanya ditanggapi dengan respons yang bersifat normatif, dan terkesan seperti jawaban yang sudah disiapkan dengan template.

    Demikian kondisi ini saya sampaikan, besar harapan kami para anggota SJTP, agar pihak Sriwijaya segera merespons kami, dan mengembalikan keadaan penerbangan bagi anggota SJTP ini seperti sedia kala.

    Jika memang akan melakukan pembatasan kuota, kami harapkan hal tersebut dapat dilakukan dengan transparan. Tidak masalah jika memang benar pesawatnya ternyata penuh. Tentunya akan menjadi sangat menyakitkan bila melihat kursi pesawat banyak yang kosong, namun dinyatakan habis terjual bagi anggota SJTP.

    (Kumparan)



    Komentar Pembaca: