Apa Itu Kampung Mati Semarang? Kampung Ditinggal Pergi Penghuninya

Kampung Mati Semarang

MENIT.CO.IDKampung mati Semarang, mendadak jadi topik perbincangan hangat para pengguna internet. Ini kisah dan ulasannya tentang Kampung Mati Semarang.

Sebuah area di Semarang disebut sebagai ‘kampung terlantar’ setelah ditinggalkan oleh penduduknya.

Kampung terlantar ini terletak di Cepoko, Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah, dan tiba-tiba menjadi perbincangan luas di media sosial karena banyak informasi yang beredar.

Sejumlah video menunjukkan banyak rumah yang dibiarkan terbengkalai di RT 4 RW 1 kelurahan Cepoko.

Dikarenakan suasana kampung yang dibiarkan terbengkalai dan sepi, beredar cerita bahwa ada unsur mistis di kawasan tersebut.

Dilaporkan bahwa beberapa warga sekitar telah mengalami pengalaman mistis di lokasi tersebut.

Namun, Sesepuh Kelurahan Cepoko, Suharno, menegaskan bahwa lokasi tersebut bukanlah ‘kampung terlantar’ seperti yang dikabarkan.

Suharno membantah klaim bahwa kawasan tersebut memiliki elemen mistis.

Menurutnya, ia tidak pernah menerima laporan dari warga mengenai insiden-insiden mistis di sana.

“Saya telah menjadi RW sejak sekitar 11 tahun, kurang lebih pada tahun 90-an. Saya belum pernah mendengar laporan mengenai hal-hal mistis,” katanya.

Suharno menjelaskan bahwa pengosongan rumah-rumah di kawasan tersebut terjadi karena masalah keamanan, bukan karena alasan mistis.

Ia mengungkapkan bahwa pencurian yang sering terjadi membuat penduduk setempat merasa tidak nyaman.

“Masalahnya adalah keamanan, bukan karena alasan mistis menurut saya. Pencurian sering terjadi, ada yang dicuri. Lama kelamaan, penduduknya tidak betah, sehingga mereka meninggalkan rumah-rumah tersebut,” tambahnya.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh seorang warga Cepoko Raya, Eri.

Menurut Eri, kawasan tersebut bukanlah ‘kampung terlantar’ seperti yang diberitakan dalam beberapa video.

Eri menjelaskan bahwa pada masa lalu, lokasi tersebut digunakan untuk bisnis properti.

Namun, serangkaian insiden pencurian telah membuat pemilik rumah meninggalkan kawasan tersebut.

Musanusi, seorang penduduk setempat, mengatakan bahwa lokasi ini dahulu merupakan kompleks perumahan bagi golongan menengah.

Rumah-rumah tersebut dibangun pada sekitar tahun 1980-an.

Namun, karena situasi di Kelurahan Cepoko yang dulu sepi, tingkat keamanan di perumahan tersebut menjadi minim.

Pada awalnya, hanya terdapat 2-3 rumah di kawasan tersebut, lalu jumlahnya bertambah. Namun, karena adanya insiden pencurian, pemilik rumah menjadi takut.

Musanusi juga menyebutkan bahwa kawasan perumahan tersebut mulai kosong sekitar tahun 2000-an.

Di sisi lain, Sanusi menegaskan bahwa kawasan tersebut bukanlah tempat yang angker.

Menurutnya, warga setempat tidak pernah menjadi korban insiden-insiden mistis seperti yang beredar di media sosial.

Akses menuju ‘kampung terlantar’ tersebut terbilang mudah.

Kondisi jalan masih cukup baik meskipun ada beberapa bagian aspal yang mengelupas.

Kendaraan roda empat atau mobil masih dapat mencapai kawasan tersebut.

Perjalanan dari Mijen ke Gunungpati melibatkan melintasi hutan jati yang cukup luas.

Saat sampai di Kelurahan Cepoko, wartawan sempat bertanya kepada beberapa warga setempat.

Awalnya, mereka tidak tahu lokasi ‘kampung terlantar’ di kelurahan tersebut.

Namun, setelah penjelasan lebih lanjut, tim Tribun Jateng akhirnya menemukan lokasi yang dimaksud, yaitu sekitar 50 meter dari kantor Kelurahan Cepoko. Di sekitar rumah-rumah tersebut, rumput liar telah tumbuh dan menutupi bangunan-bangunan tersebut.