Ini Peran Crazy Rich Helena Lim di Kasus Korupsi Timah

Peran Crazy Rich Helena Lim di Kasus Korupsi Timah

MENIT.CO.ID – Belakangan ini publik penasaran seperti apa peran Crazy Rich Helena Lim di kasus korupsi Timah. Berikut ini peran Crazy Rich Helena Lim.

Kejaksaan Agung (Kejagung) telah menetapkan Helena Lim, yang dikenal sebagai orang kaya raya, sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi terkait perdagangan komoditas timah di wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Timah Tbk pada periode 2015-2022.

Helena Lim langsung diamankan dan dibawa keluar dengan mengenakan rompi tahanan berwarna pink tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Dibawah pengawalan penyidik Kejagung, Helena Lim dibawa ke dalam mobil tahanan. Setelah itu, Kejagung menyelenggarakan konferensi pers untuk menjelaskan statusnya sebagai tersangka.

Menurut detik.com, Kejagung mengungkapkan bahwa Helena Lim menjadi tersangka atas perannya sebagai manajer PT QSE. Diduga kuat, Helena telah terlibat dalam pengelolaan hasil dari kegiatan pidana terkait penyewaan peralatan peleburan timah.

“Terhadap tersangka yang bersangkutan, sebagai manajer PT QSE, diduga kuat telah memberikan bantuan dalam pengelolaan hasil dari tindak pidana kerjasama penyewaan peralatan proses peleburan timah,” ungkap Direktur Penyidikan Jampidsus Kejagung, Kuntadi, dalam konferensi pers di Kejagung pada Selasa (26/3/2024).

“Yang bersangkutan diduga memberikan fasilitas melalui PT QSE,” tambahnya.

Kuntadi menjelaskan bahwa tindakan ini dilakukan Helena untuk kepentingan pribadi dan pihak lain yang terlibat. Kegiatan korupsi ini diklaim dilakukan dengan dalih untuk menyalurkan Corporate Social Responsibility (CSR).

“Demi kepentingan dan keuntungan pribadi tersangka dan pihak lainnya. Dengan dalih untuk pelaksanaan CSR,” jelasnya.

Namun, Kuntadi mengungkapkan bahwa pihaknya masih menyelidiki kebenaran penyaluran dana CSR tersebut.

“Masih dalam proses penyelidikan mengenai jumlahnya. Namun yang pasti, yang perlu kami tegaskan di sini adalah bahwa CSR yang disebutkan hanyalah dalih belaka, keberadaan dan kebenaran penyaluran dana CSR tersebut masih kami dalami,” ujar Kuntadi.

Helena Lim adalah tersangka ke-15 dalam kasus ini. Atas perbuatannya, Helena diduga melanggar Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 jo Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 56 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.