KNKT Ungkap Hasil Investigasi Sriwijaya Air SJ-182

Hasil Investigasi Sriwijaya Air

Menit.co.id – KNKT ungkap hasil investigasi Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta – Pontianak yang mengalami kecelakaan. Berikut adalah enam penyebab.

Ketua Sub – Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo mengatakan kesimpulan dari hasil investigasi Sriwijaya Air SJ-182 adalah sebagai berikut.

Pertama adalah, tahapan perbaikan sistem auto – throttle yang belum mencapai bagian mekanikal.

Dalam sistem perbaikan pesawat udara ada trouble shooting satu satu komponen di ganti yang rusak atau ada komponen lain ini mengikuti prosedur Boeing atau IMM.

Perbaikan itu belum mencapai bagian mekanikal karena proses penggantian komponen. Ini terungkap saat rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR RI, Kamis.

Kesimpulan hasil investigasi Sriwijaya Air SJ-182 ini untuk mengurutkan bukan menjadi penyebab pertama, kedua atau seterusnya berdasarkan mana yang terjadi lebih dulu.

Kedua, thrust lever kanan tidak mundur sesuai permintaan autopilot karena hambatan pada sistem mekanikal dan thrust lever kiri mengkompensasi dengan terus bergerak mundur sehingga terjadi asymmetry.

Ketiga, keterlambatan Cruise Thrust Split Monitor (CSTM) memutus auto-throttle pada saat pesawat terjadi asymmetry karena flight spoiler memberikan nilai yang rendah berakibat pada asymmetry semakin besar.

Keempat, Nurcahyo menjelaskan karena adanya rasa percaya dengan sistem automasi yang mendukung opini membuat dikuranginya monitor pada instrumen, dan tidak disadarinya ada asimetri dan terjadi penyimpangan penerbangan.

Selain itu pesawat akhirnya berbelok ke kiri dari yang seharusnya ke kanan. Sementara itu kemudi miring ke kanan dan kurangnya monitoring mungkin telah menimbulkan asumsi pesawat berbelok ke kanan sehingga tindak pemulihan tidak sesuai.

Keenam, belum adanya aturan dan panduan tentang upset prevention and recovery training (UPRT) mempengaruhi proses pelatihan yang diberikan maskapai.

Untuk menjamin kemampuan pilot mencegah dan memulihkan kondisi upset (kondisi pesawat tidak diinginkan pilot) secara efektif dan tepat waktu.

“KNKT masih melihat beberapa hal yang harus ditingkatkan, sehingga menerbitkan beberapa rekomendasi keselamatan kepada Sriwijaya AIr,” kata Nurcahyo.

Berkonsultasi dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara sebelum melakukan perubahan prosedur terbang, dan meminta NTO (No Technical Objection) dari pabrikan pesawat udara sebelum melakukan perubahan prosedur yang sudah ada di buku panduan yang disiapkan oleh pabrik

Meningkatkan jumlah pengunduhan data dalam Flight Data Analysis Program (FDAP) untuk peningkatan pemantauan operasi penerbangan.

Juga menekankan pelaporan bahaya kepada seluruh pegawai. Itulah tadi informasi tentang KNKT ungkap hasil investigasi kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ-182.