Badai Sitokin Jadi Penyebab Kematian Penderita Covid-19?

  • Bagikan
Badai Sitokin

Menit.co.id – Tidak sedikit pula laporan kematian akibat COVID-19 pada pasien berusia 20 atau 30-an. Para ilmuwan menduga penyebab kematian COVID-19 teresbut berkaitan dengan badai sitokin.

Sitokin merupakan salah satu protein yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Dalam kondisi normal, sitokin membantu sistem imun berkoordinasi dengan baik dalam melawan bakteri atau virus penyebab infeksi.

Sitokin merupakan salah satu bagian dari sistem kekebalan tubuh. Sitokin seharusnya berfungsi melindungi tubuh dari infeksi.

Namun, pada kondisi yang salah, keberadaan sitokin justru dapat membahayakan jiwa. Apa itu sitokin dan bagaimana kaitannya dengan COVID-19?

Fungsi Sitokin

Sistem kekebalan tubuh terdiri dari banyak komponen. Ada sel-sel darah putih, antibodi, dan sebagainya. Tiap komponen bekerja sama untuk mengenali patogen (bibit penyakit), membunuhnya, dan membentuk pertahanan tubuh jangka panjang.

Agar dapat menjalankan fungsinya, setiap komponen pada sistem kekebalan tubuh harus berkomunikasi antara satu sama lain.

Sitokin adalah protein khusus pembawa pesan antara sel 0pada sistem kekebalan tubuh. Sitokin terbagi berdasarkan jenis sel yang memproduksinya atau cara kerjanya dalam tubuh.

Empat macam sitokin :

Limfokin di produksi oleh sel limfosit-T dan fungsinya untuk mengarahkan respons sistem imun menuju daerah infeksi.

Monokin di produksi oleh sel monosit dan fungsinya untuk mengarahkan sel-sel neutrofil yang akan membunuh patogen.

Kemokin di produksi oleh sel sistem imun untuk memicu perpindahan respons imun ke daerah infeksi.

Interleukin di produksi oleh sel darah putih untuk mengatur produksi, pertumbuhan, dan pergerakan respons imun dalam reaksi peradangan.

Seputar Badai Sitokin

Badai sitokin (cytokine storm) terjadi ketika tubuh melepaskan terlalu banyak sitokin ke dalam darah dalam jangka waktu yang sangat cepat.

Kondisi ini membuat sel imun justru menyerang jaringan dan sel tubuh yang sehat, sehingga menyebabkan peradangan. Di ketahui dengan pemeriksaan D-dimer dan CRP pada penderita COVID-19.

Tak jarang peradangan tersebut membuat organ-organ di dalam tubuh menjadi rusak atau gagal berfungsi. Inilah badai sitokin perlu di waspadai, karena bisa sampai menyebabkan kematian.

Pada penderita COVID-19, badai sitokin menyerang jaringan paru-paru dan pembuluh darah. Kantung udara kecil di paru-paru di penuhi oleh cairan, sehingga tidak memungkinkan terjadinya pertukaran oksigen.

Itulah mengapa penderita COVID-19 kerap mengalami sesak napas.

Gejala Badai Sitokin

Sebagian besar penderita COVID-19 yang mengalami badai sitokin mengalami demam dan sesak napas hingga membutuhkan alat batu napas atau ventilator. Kondisi ini biasanya terjadi sekitar 6–7 hari setelah gejala COVID-19 muncul.

Selain demam dan sesak napas, badai sitokin juga menyebabkan berbagai gejala, seperti:

– Kedinginan atau menggigil
– Kelelahan
– Pembengkakan di tungkai
– Mual dan muntah
– Nyeri otot dan persendian
– Sakit kepala
– Ruam kulit
– Batuk
– Napas cepat
– Kejang
– Sulit mengendalikan gerakan
– Kebingungan dan halusinasi
– Tekanan darah sangat rendah
– Penggumpalan darah

Penanganan Badai Sitokin

Penderita COVID-19 yang mengalami badai sitokin memerlukan perawatan di unit perawatan intensif (ICU). Beberapa langkah penanganan yang akan dilakukan dokter, meliputi:

Pemantauan tanda-tanda vital, yang meliputi tekanan darah, denyut nadi, pernapasan, dan suhu tubuh, secara intensif

– Pemasangan mesin ventilator
– Pemberian cairan melalui infus
– Pemantauan kadar elektrolit
– Cuci darah (hemodialisis)
– Pemberian obat anakinra atau tocilizumab (actemra) untuk menghambat aktivitas sitokin

Meski demikian, masih di perlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui penanganan yang tepat terhadap penderita COVID-19 yang mengalami badai sitokin.

Pada penderita COVID-19, badai sitokin dapat menyebabkan kerusakan organ yang bisa mengancam nyawa. Agar terhindar dari kondisi serius ini, Anda disarankan untuk selalu mematuhi protokol kesehatan kapan saja dan di mana saja.

Bila Anda atau anggota keluarga mengalami gejala COVID-19, seperti batuk, demam, pilek, lemas, sesak napas, anosmia, atau gangguan pencernaan, segera lakukan isolasi mandiri dan hubungi hotline COVID-19 di 119 Ext. 9 untuk mendapatkan pengarahan lebih lanjut.

  • Bagikan