Inggris Temukan 30 Pembekuan Darah Usai Divaksin Astrazeneca

  • Bagikan
Pembekuan Darah Usai Divaksin Astrazeneca
AstraZeneca Indonesia memberikan klarifikasi terkait fatwa yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahwa vaksin AstraZeneca mengandung produk turunan babi, yang baru dirilis kemarin (19/3/2021).

Menit.co.id – Regulator Inggris pada Kamis (1/4) waktu setempat mengatakan telah mengidentifikasi 30 kasus peristiwa pembekuan darah langka setelah divaksin Covid-19 AstraZeneca. Laporan terbaru ini adalah 25 kasus lebih banyak dari yang dilaporkan sebelumnya oleh regulator.

Badan Pengatur Produk Obat dan Kesehatan (MHRA) mengatakan, tidak menerima laporan peristiwa pembekuan setelah penggunaan vaksin yang dibuat oleh BioNTech SE dan Pfizer Inc.

Pada Jumat (2/4), regulator obat mengatakan kepada Financial Times dan Guardian, bahwa tujuh penerima vaksin AstraZeneca telah meninggal setelah mendaftarkan kejadian pembekuan darah yang langka.

BACA : Epidemiolog Mengimbau Masyarakat Tidak Khawatir Vaksin AstraZeneca

Reuters tidak dapat segera mengonfirmasi angka dari MHRA setelah jam kerja. MHRA, Badan Obat Eropa dan Organisasi Kesehatan Dunia, telah menegaskan kembali bahwa manfaat vaksin dalam pencegahan Covid-19 jauh lebih besar daripada kemungkinan risiko pembekuan darah.

Beberapa negara membatasi penggunaan vaksin AstraZeneca, namun banyak juga negara yang telah melanjutkan inokulasi. Sebab penyelidikan terhadap laporan pembekuan darah yang jarang terjadi, dan terkadang parah, terus berlanjut.

Pada 18 Maret, regulator obat Inggris mengatakan, bahwa ada lima kasus pembekuan darah otak yang langka di antara 11 juta suntikan yang diberikan dari AStraZeneca.

Pada Kamis, itu menghitung 22 laporan trombosis sinus vena serebral, penyakit pembekuan otak yang sangat langka, dan 8 laporan peristiwa pembekuan lainnya yang terkait dengan trombosit darah rendah dari total 18,1 juta dosis yang diberikan.

5 Negara Tangguhkan Vaksin AstraZeneca

Menyusul negara lainnya, Belanda menangguhkan sementara vaksin AstraZeneca pada kelompok usia non lansia, di bawah 60 tahun. Menteri Kesehatan Hugo de Jonge menyebut penangguhan ini bersifat sebagai kehati-hatian.

Baru-baru ini, Inggris juga mencatat 30 kasus baru terkait dengan pembekuan darah pasca divaksin AstraZeneca, tetapi disebutkan risiko vaksin tetap lebih kecil dibandingkan manfaatnya. Mana saja negara yang menangguhkan vaksin AstraZeneca pada non lansia?

1. Belanda
Keputusan penangguhan vaksin AstraZeneca untuk non lansia di Belanda, tepat diterapkan 3 hari usai Jerman lebih dulu menyetop penggunaan vaksin pada usia di bawah 60 tahun. Lagi-lagi terkait isu pembekuan darah pada sedikit kasus pasca vaksinasi AstraZeneca.

Otoritas kesehatan yang meneliti efek samping vaksin menyebutkan dari 400 ribu orang yang divaksinasi AstraZeneca, hanya ada lima laporan kasus pembekuan darah tak biasa pasca disuntik.

Semua kasus pembekuan darah terjadi antara tujuh dan 10 hari setelah vaksinasi. Banyak dari mereka yang mengalami pembekuan darah berada di rentang usia 25 dan 65 tahun.

“Saya pikir sangat penting bahwa laporan Belanda juga diselidiki dengan baik. Kita harus sangat hati-hati,” jelas de Jonge.

2. Jerman
Sementara komisi vaksin Jerman STIKO merekomendasikan vaksin AstraZeneca hanya bagi warga di atas 60 tahun. Hal ini dikarenakan kasus pembekuan darah banyak terjadi di usia dewasa muda.

Rencananya, rekomendasi baru vaksin AstraZeneca akan diberikan pada akhir April. Khusus untuk usia dewasa muda yang menerima vaksin AstraZeneca.

“Kami menghentikan vaksinasi menggunakan AstraZeneca bagi warga di bawah 60 tahun,” ujar Menteri Kesehatan Dilek Kalayci yang menyinggung soal data baru terkait efek samping vaksin AstraZeneca.

3. Spanyol
Sama halnya dengan Spanyol, pemberian vaksin AstraZeneca di negara mereka sementara ini hanya untuk lansia. Terkecuali, warga usia dewasa muda yang sudah mendapat surat rekomendasi dokter terkait risiko fatal jika tak segera divaksinasi Corona dan memiliki kemungkinan kecil mengalami efek samping serius.

Kebijakan mereka mengikuti langkah Jerman yang merilis data baru terkait peningkatan kasus pembekuan darah. Dalam laporan tersebut, kasus pembekuan darah terjadi di kepala, dikenal sebagai trombosis vena sinus.

Dikutip dari Deutsche Welle, pembekuan darah di kepala yang tidak biasa terjadi paling banyak dialami wanita dewasa.

4. Prancis
Lain halnya dengan Prancis, ia lebih dulu menyetop penggunaan vaksin AstraZeneca pada usia di bawah 55 tahun. Mereka memilih untuk berhati-hati dalam penggunaan AstraZeneca sejak kasus pembekuan darah banyak ditemukan di usia dewasa muda.

“Kebijakan ini didasarkan pada fakta bahwa laporan pembekuan darah yang menyebabkan ditangguhkannya penggunaan vaksin sementara di Prancis dan negara-negara Eropa lainnya kemarin, hanya terlihat pada mereka yang berusia di bawah 55 tahun,” demikian penjelasan otoritas kesehatan Prancis.

5. Kanada
Canada’s National Advisory Committee on Immunization (NACI), sebuah panel ahli independen menjelaskan masih belum jelas manfaat vaksinasi AstraZeneca pada usia di bawah 55 tahun. Maka dari itu, mereka memilih menangguhkan vaksin AstraZeneca di rentang usia tersebut.

“Dari apa yang diketahui saat ini, ada ketidakpastian substansial tentang manfaat pemberian vaksin AstraZeneca COVID-19 kepada orang dewasa di bawah usia 55 tahun,” jelas NACI dalam rilis tertulis, dikutip dari Reuters.

Berkomunikasi dengan AstraZeneca, ia mendesak agar pihak perusahaan juga melakukan studi lebih lanjut terkait risiko dan manfaat vaksin Corona mereka pada usia di bawah 55 tahun.

Vaksin AstraZeneca: Apakah ada risiko pembekuan darah?

Pembekuan darah pada otak yang langka telah dideteksi pada sejumlah orang setelah mereka menerima suntikan vaksin Oxford-AstraZeneca.

Cerebral venous sinus thromboses atau CVST adalah kondisi ketika ada penggumpalan darah yang menyumbat pembuluh darah dalam otak dan di belakang soket mata. Ini adalah pembuluh darah yang berfungsi membawa darah dari wajah dan kepala, kembali ke jantung.

Kondisi ini membuat sejumlah negara—termasuk Jerman, Prancis, dan Kanada—membatasi secara ketat penerima vaksin Oxford-AstraZeneca.

Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Badan Obat-obatan Eropa mengatakan manfaat vaksin tersebut melebihi risiko yang ada.

Pada saat bersamaan, berbagai ilmuwan dan otoritas pemeriksa keamanan obat-obatan di seluruh dunia berupaya mencari tahu apakah vaksin tersebut menyebabkan pembekuan darah, seberapa besar risikonya, dan apa maknanya bagi program vaksinasi.

Apakah vaksin Oxford-AstraZeneca menyebabkan pembekuan darah?

Saat ini kita belum tahu.

Badan Obat-obatan Eropa (EMA), yang selama ini meninjau data keamanan vaksin, mengatakan hal itu “belum terbukti, tapi mungkin saja”.

Organisasi itu harus mengetahui apakah berbagai laporan mengenai pembekuan darah merupakan efek samping atau suatu kebetulan yang terjadi secara alami. Ini luar biasa sulit ketika berurusan dengan kejadian-kejadian langka.

Jika, di satu sisi, satu dari setiap 10.000 orang mengalami pembekuan darah secara serius maka jawabannya sudah jelas.

Saya telah berbincang dengan sejumlah ilmuwan terkemuka. Beberapa dari mereka bersikap skeptis, tapi lainnya semakin yakin.

Sejumlah ilmuwan tersebut merujuk pada sifat pembekuan darah yang tidak umum sebagai pertanda sesuatu sedang terjadi.

Pembekuan darah semacam ini kerap muncul pada saat yang sama ketika antibodi dan platelet darah dalam level rendah—salah satu komponen utama pembekuan darah—berkaitan dengan gangguan penggumpalan lain dalam darah.

Sebagian ilmuwan lainnya mengatakan belum cukup bukti dan kasus-kasus yang dilaporkan mungkin akibat Covid, mengingat Covid terkait dengan penggumpalan darah secara abnormal.

Seberapa besar risikonya?

Masih ada kemungkinan bahwa risikonya nol lantaran vaksin tidak terbukti menyebabkan pembekuan darah.

Institut Paul Ehrlich di Jerman telah melaporkan 31 kasus cerebral venous sinus thromboses dan sembilan kematian dari 2,7 juta orang yang menerima vaksinasi di sana.

Akan tetapi, berdasarkan data terkini di Inggris, jumlah kasus pembekuan darah mencapai lima kasus, meskipun terdapat 11 juta orang yang divaksinasi.

Badan Obat-obatan Eropa (EMA), yang meninjau data dari seluruh dunia, memperkirakan risiko CVST bagi orang-orang di bawah 60 tahun yang menerima vaksin AstraZeneca mencapai sekitar satu berbanding 100.000.

Kepala Pemantauan Keamanan EMA, Dr Peter Arlett, ada “lebih banyak dari yang kita perkirakan bakal lihat”.

Bagaimanapun, rata-rata pembekuan darah pada otak belum jelas. Perkiraannya beragam dari sekitar dua kasus per satu juta orang setiap tahun hingga hampir 16 per satu juta orang pada masa normal dan virus corona mungkin penyebabnya.

Mengapa ada perbedaan antara Inggris dan Jerman?

Jumlah kasus CVST di satu negara dan yang lainnya mungkin bakal sama jika kasus-kasus tersebut memang disebabkan vaksin. Kenyataannya Inggris dan Jerman mencatat angka yang jauh berbeda.

Salah satu argumennya adalah jenis orang yang divaksinasi berbeda. Inggris sejauh ini memvaksinasi orang-orang dari usia tertua kemudian berlanjut ke usia muda.

Sedangkan Jerman adalah salah satu negara yang awalnya menolak memvaksinasi kalangan di atas usia 65 tahun karena kurangnya data uji klinis. Itu sebabnya 90% warga Jerman yang menerima vaksin AstraZeneca diperkirakan berusia di bawah 60 tahun.

Secara umum, efek samping cenderung lebih para orang-orang usia muda karena mereka punya respons imun yang lebih kuat. Faktor ini menjadi spekulasi mengapa kasus CVST di Inggris lebih sedikit.

Akan tetapi, CVST secara inheren lebih jamak pada perempuan muda dan mengonsumsi pil KB sehingga meningkatkan risikonya. Dengan demikian tingkat risiko alamiah—terlepas apakah orang divaksinasi atau tidak—juga punya peranan.

Mengurai semua elemen ini adalah hal yang sulit, namun EMA mengatakan tidak menemukan faktor risiko spesifik, apakah itu usia, gender, atau riwayat penyakit.

Apakah vaksin AstraZeneca aman?

Tidak ada yang sepenuhnya aman di dunia medis. Bahkan terapi pengobatan yang sangat beracun harus diterapkan dalam kondisi pas.

Obat-obatan kemoterapi, misalnya, punya efek samping yang buruk namun sangat bermanfaat. Kemudian pereda nyeri seperti parasetamol dan ibuprofen juga memiliki efek samping, walau teramat langka.

Keputusannya selalu adalah apakah manfaatnya melampui risikonya.

Hal ini benar-benar sukar saat pandemi. Biasanya obat bersandar pada “prinsip kewaspadaan” demi membuktikan keamanan yang cukup sebelum memberi obat baru kepada khalayak umum. Namun saat pandemi, menunda vaksinasi menyebabkan hilangnya nyawa.

Berdasarkan pada data Jerman saja, jika vaksinasi diberikan kepada sejuta orang maka akan ada 12 orang yang mengalami pembekuan darah. Dari jumlah itu, empat di antara mereka akan meninggal dunia.

Akan tetapi jika satu juta orang berusia 60 tahun mengidap virus corona, maka 20.000 orang akan meninggal akibat Covid-19. Jika sejuta orang berusia 40 tahun mengidap virus corona, maka 1.000 orang akan meninggal dunia. Adapun orang-orang yang meninggal berusia 30 tahun mencapai beberapa ratus insan.

Manfaat vaksinasi jelas meningkat semakin lanjut usia dan negara-negara seperti Jerman dan Kanada telah mengizinkan vaksin AstraZeneca digunakan pada kalangan manula.

Keputusan-keputusan ini juga akan didorong oleh vaksin alternatif yang tersedia dan siapa saja yang masih perlu diimunisasi. Dunia sedang menelisik datanya secara saksama, namun kejelasannya perlu waktu.

  • Bagikan