Kasus Gagal Ginjal Akut Anak Tembus 323 Orang

Gagal Ginjal Akut Anak

Menit.co.id – Kasus gagal ginjal akut anak di Indonesia tampak mengerikan. Hal ini sejalan dengan jumlah kasus mencapai 232 orang dan 190 anak meninggal.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan M. Syahril mengatakan, berdasarkan data per Kamis (3/11/2022), terdapat 323 kasus pasien gagal ginjal akut.

Dari kasus ini sebanyak 190 anak meninggal dunia. Syahril mengatakan dari total kasus yang telah di konfirmasi tersebut terjadi pengurangan dua kasus.

Karena tidak ada temuan dugaan penyebab penyakit yang di alami oleh pasien. Kini kasus gagal ginjal aku anak mendapat perhatian serius dari Kementeri Kesehatan RI.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan perkembangan kasus gagal ginjal akut yang menyerang anak-anak di Indonesia.

Ia menyampaikan data terbaru saat rapat dengar pendapat bersama Komisi IX DPR RI. ​​Budi menyampaikan bahwa sampai saat ini jumlah kasus sebanyak 325 kasus.

Tercatat sebanyak 178 anak meninggal dunia akibat gagal ginjal akut.

“Per kemarin yang kita bisa monitor ada 325 kasus gagal ginjal akut di seluruh Indonesia dan memang ada konsentrasi di beberapa provinsi tertentu.”

“Terutama di daerah Sumatera Utara, daerah Jawa bagian barat, bagian timur, dan juga daerah Sulawesi Selatan,” kata Budi di Jakarta, Rabu (2/11) mengutip liputan6.com.

Provinsi Terbanyak Kaus Gagal Ginjal Akut Anak

Adapun provinsi dengan kasus terbanyak dipegang oleh DKI Jakarta, kemudian disusul oleh Jawa Barat, Jawa Timur, Banten. Namun menurut Budi, provinsi yang dianggap sedikit unik adalah Aceh, Sumatera Barat, dan Bali.

Meski demikian, Budi mengklaim jumlah pasien gagal ginjal akut yang meninggal dunia telah mengalami penurunan sebesar 54 persen dari total kasus karena sebelumnya jumlah kasus meninggal dunia sebesar 60 persen.

“Kita juga melihat meninggalnya sekarang 178 dari 325, sekitar 54 persen. Ini sudah menurun dari kondisi sebelumnya yang sempet mencapai 60 persen,” ujar dia.

Oleh karena itu, Kemenkes bersama Ikatan Dokter Anak Indinesia (IDAI), rumah sakit (RS), apoteker hingga toksikolog melakukan serangkaian investigasi.

“Kita lakukan pemeriksaan patogenik, apakah ada bakteri, virus atau parasit. Kita juga periksa darah dan urine pasien anak,” jelas Syahril.

“Setelah kita lakukan pemeriksaan itu kita mengerucut itu ditemukan zat-zat yang selama ini kita bahas ramai, yakni etilen glikol dan dietilen glikol,” imbuhnya.