WHO Menyoroti Vaksinasi Covid-19 di Indonesia, Ini Masalahnya

  • Bagikan
Perlu Dukungan Pimpinan Agama Sukseskan Program Vaksinasi Covid-19
Tenaga kesehatan menjalani vaksinasi COVID-19 Sinovac, di RSUD Wangaya, Denpasar, Bali, Jumat (15/1/2021). Vaksinasi COVID-19 Sinovac di Bali dibagi menjadi lima kelompok, yaitu kelompok pertama tenaga kesehatan dan tenaga penunjang fasilitas kesehatan sebanyak 30.320 orang, kelompok kedua pelayanan publik yang meliputi TNI-Polri, Satpol PP, guru, aparat hukum dan lainnya yang berjumlah 263.389 orang, kelompok ketiga masyarakat rentan geospasial dan sosial ekonomi sejumlah 1.290.243 orang, kelompok keempat masyarakat dan pelaku ekonomi sejumlah 854.756 orang dan kelompok kelima masyarakat rentan yang berusia 60 tahun ke atas sebanyak 560.782 orang. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/hp.

Menit.co.idWorld Health Organization (WHO) menyoroti vaksinasi COVID-19 yang tidak merata di seluruh daerah Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap pangkal masalah terjadinya ketimpangan vaksinasi itu.

Data ketimpangan vaksinasi COVID-19 itu terjadi antara Jawa-Bali dan daerah di luar Jawa-Bali. Berdasarkan catatan WHO, jumlah tenaga kesehatan belum divaksinasi Corona terbanyak ada di Papua.

“Hingga 26 Juli, provinsi dengan presentase terbesar tenaga kesehatan belum divaksinasi adalah Papua, Maluku, dan Sulawesi Tengah. Situasi ini masih sama dengan pekan lalu,” tulis WHO dalam Situation Report-65 yang dirilis oleh WHO pada Kamis (29/7/2021).

WHO menyebut masih ada sederet provinsi yang banyak tenaga kesehatannya belum mendapat vaksinasi selain 3 provinsi di atas. Provinsi itu adalah, Gorontalo, Maluku Utara, Aceh, Bengkulu, Sulawesi Barat, Kalimantan Utara, Jambi, Papua Barat, Sumatera Selatan dan Sulawesi Selatan.

Sementara itu, catatan WHO pada tanggal yang sama, Bali adalah provinsi dengan jumlah vaksinasi dosis pertama tertinggi untuk semua target vaksin (tenaga kesehatan, lansia, pekerja publik, warga di atas usia 12 tahun).

Setelah Bali, menyusul DKI Jakarta, Kepulauan Riau, DIY, dan Sulawesi Utara. Sementara itu, DKI Jakarta menjadi provinsi dengan jumlah vaksinasi COVID-19 dosis kedua tertinggi.

Selain itu, DKI Jakarta juga menjadi provinsi dengan jumlah warga Lansia yang sudah divaksinasi tertinggi, peringkat kedua adalah Bali, diikuti DIY, dan Kepulauan Riau. WHO mencatat provinsi yang cakupan vaksinasi untuk lansianya rendah adalah Aceh, Maluku Utara, dan Sumatera Barat.

DKI Jakarta merupakan provinsi dengan jumlah warga 12-17 tahun yang sudah divaksinasi. Provinsi berikutnya adalah Bali, Kepulauan Riau, dan DIY.

Kemenkes Ungkap Kendalanya

Merespons data WHO itu, Kemenkes menjelaskan sejumlah kendala yang memicu ketimpangan vaksinasi COVID-19 ini. Juru bicara Kemenkes bidang vaksinasi dr Siti Nadia Tarmizi mengungkap salah satu kendalanya adalah masyarakat yang menolak divaksinasi.

“Kita tahu ada 10 persen masyarakat yang menolak divaksinasi,” kata Siti kepada wartawan, Jumat (30/7).

Kendala lain, kata Siti Nadia adalah stok vaksin Corona yang ada saat ini belum mencukupi untuk seluruh sasaran kebutuhan. Dia menyebut vaksinasi di Indonesia saat ini baru bisa mencapai 30 persen saja.

“Vaksin yang kita terima tentunya belum mencukupi untuk memberikan vaksin kepada seluruh sasaran dari kebutuhan 426 juta dosis. Yang sudah tiba baru 150 juta dosis, sehingga baru bisa 30 persen dari sasaran yang tersedia dengan stok yang ada saat ini,” ujarnya.

Siti Nadia mengatakan kedatangan vaksin dilakukan secara bertahap. Oleh karena itu, proses vaksinasi dilakukan sesuai ketersediaan vaksin Corona yang ada.

“Tentunya, karena vaksin datang secara bertahap sampai Desember 2021, proses vaksinasi dilakukan sesuai ketersediaan vaksin yang datangnya juga bertahap,” lanjutnya.

WHO Menyoroti Ketimpangan Vaksinasi Corona

WHO menyoroti ketimpangan vaksinasi Corona antara Jawa-Bali dan daerah di luar Jawa-Bali. Hingga kini, jumlah tenaga kesehatan belum divaksinasi Corona terbanyak ada di Papua.

“Hingga 26 Juli, provinsi dengan presentase terbesar tenaga kesehatan belum divaksinasi adalah Papua, Maluku, dan Sulawesi Tengah. Situasi ini masih sama dengan pekan lalu,” tulis WHO dalam Situation Report-65 yang dirilis oleh WHO pada Kamis (29/7/2021).

Selain 3 provinsi tersebut, masih ada sederet provinsi yang banyak tenaga kesehatannya belum mendapat vaksinasi. Provinsi-provinsi itu adalah Gorontalo, Maluku Utara, Aceh, Bengkulu, Sulawesi Barat, Kalimantan Utara, Jambi, Papua Barat, Sumatera Selatan dan Sulawesi Selatan.

Di saat yang sama yaitu pada 26 Juli, WHO mencatat Bali adalah provinsi dengan jumlah vaksinasi dosis pertama tertinggi untuk semua target vaksin (tenaga kesehatan, lansia, pekerja publik, warga di atas usia 12 tahun).

Di bawah Bali, ada DKI Jakarta, Kepulauan Riau, DIY, dan Sulawesi Utara. Sementara itu, DKI Jakarta menjadi provinsi dengan jumlah vaksinasi dosis kedua tertinggi.

DKI Jakarta menjadi provinsi dengan jumlah warga terbanyak yang sudah mendapat vaksinasi penuh (2 dosis). Peringkat di bawahnya adalah Bali, Kepulauan Riau, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.

DKI Jakarta juga menjadi provinsi dengan jumlah warga Lansia yang sudah divaksinasi tertinggi, diikuti oleh Bali, DIY, dan Kepulauan Riau. Sementara itu, provinsi yang cakupan vaksinasi untuk lansianya rendah adaah Aceh, Maluku Utara, dan Sumatera Barat.

DKI Jakarta merupakan provinsi dengan jumlah warga 12-17 tahun yang sudah divaksinasi. Provinsi berikutnya adalah Bali, Kepulauan Riau, dan DIY.

  • Bagikan