Three Ends, Jalan Menuju Kota Dumai Bebas Tiga Masalah

    Rabu, 16 Januari 2019 - 16:03 Editor : Redaksi Dibaca : 149 Views

    Menit.co.idPemerintah Kota Dumai melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Dumai tak henti-hentinya mengkampanyekan program Three Ends sebagai terobosan dalam upaya mengakhiri kekerasan pada anak dan perempuan.

    “Ini merupakan fenomena gunung es di mana kekerasan terhadap perempuan dan anak tetap ada. Untuk perempuan yang mengalami masih saja terjadi. Di daerah kita ini kesadaran itu masih kurang,” kata Kepala DPPPA Kota Dumai, Dameria, SKM, M.Si, Selasa 16 Januari 2019.

    Oleh karena itu, Dameria mengajak seluruh lapisan masyarakat di Kota Dumai agar bisa menyampaikan ke lingkungan sekitar soal pentingnya melindungi perempuan dan anak melalui program Three Ends yang diluncurkan Kementerian PPPA tahun lalu.

    Tiga hal didorong pemerintah dalam program itu ialah mengakhiri kekerasan terhadap anak dan perempuan, mengakhiri perdagangan manusia khususnya anak dan perempuan, dan mengakhiri kesenjangan sosial-ekonomi kaum perempuan.

    Terkait dengan kekerasan pada anak, Dameria menyatakan keluarga sebagai unit terkecil yang paling menentukan dalam masyarakat. Karena itu, ia mengajak para keluarga untuk memiliki kesadaran tinggi dalam memenuhi hak dan tumbuh kembang anak.

    “Three Ends sebagai upaya solutif untuk mengakhiri tiga masalah yang selama jadi “pekerjaan rumah bersama” yang belum terselesaikan. Tiga masalah itu End Violence Against Women and Children, End Human Trafficking dan End Barriers To Economic Justice,” jelasnya.

    Mengajak Korban Berani Terbuka

    Dameria menyampaikan fakta yang bikin miris. Bahwa, mayoritas pelaku kekerasan dan eksploitasi perempuan dan anak, ternyata orang dekat korban. Bahwa korban ternyata mengenali pelaku kekerasan dan eksploitasi perempuan dan anak/perempuan tersebut.

    “Pelaku kekerasan terhadap anak dan perempuan ternyata sedikit saja dari orang asing atau yang tidak dikenal korban. Kebanyakan pelakunya orang-orang yang biasa tinggal satu rumah dengan mereka. Atau juga berada satu sekolah dengan mereka,” katanya.

    Imbasnya, kata dia, perempuan dan anak-anak yang jadi korban, mengalami depresi mental lebih berat. Mereka tertekan dan ketakutan untuk sekadar cerita ke orang lain bahwa dirinya korban kekerasan. Mereka tidak berani melapor karena diancam dan merasa malu.

    “Karena bila berterus terang berarti membuka aib keluarganya. Jadilah mereka menutup diri dan membiarkan dirinya menjadi korban kekerasan atau eksploitasi. Maka dari itu kita selalu mengimbau untuk para korban berani terbuka dan rahasia pasti dilindungi,” ucapnya.

    Karena itu, masalah ini tidak bisa diatasi dengan sekadar menunggu si korban melapor. Tapi, harus ada upaya mengajak korban agar terbuka dan berani bercerita menyampaikan masalahnya. Caranya bisa menggandeng orang-orang terdekat korban.

    Kampanyekan Progam Three Ends

    Pihaknya mengajak organisasi perempuan, pemuda, dan organisasi masyarakat lainnya dapat membantu mengkampanyekan 3 ends.

    “Ini penting agar untuk pemerintah dalam pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak, perdagangan orang, dan kesenjangan ekonomi di Kota Dumai,” kata Dameria.

    Kata dia, catatan akhir tahun Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan mencatat dari 321.752 kasus yang dilaporkan, 305.535 kasus merupakan kekerasan di ranah personal. Bahkan 16.217 kasus yang masuk ke lembaga-lembaga mitra Komnas perempuan, 69 persen juga terjadi di ranah personal.

    Orang nomor satu di Dinas PPPA Kota Dumai menegaskan bahwa ada tiga faktor yang mempengaruhi kasus perdagangan orang (traficking) yakni masalah kemiskinan, sehingga tingkat perdagangan orang, dan kekerasan cukup tinggi.

    Selain itu, perkembangan teknologi dan informasi dengan segala informasi yang diakses oleh anak-anak, dan lunturnya nilai agama dan budaya “Dengan ini diharapkan masyarakat dapat meningkatkan dan menambah pengetahuan tentang program three ends ini,” katanya.

    Menurutnya, kasus traficking seperti fenomena gunung es. Angka yang dilaporkan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Karenanya, masyarakat dan pemerintah untuk sama-sama berperan kekerasan. “Marilah kita akhiri kekerasan dan kita bangun keluarga yang harmonis yang penuh kasih sayang,” serunya.

    Dameria menjelaskan, program 3 ends ini tidak akan berjalan tanpa dukungan dari lembaga masyarakat. Keterlibatan komponen masyarakat diyakini sangat menunjang dalam mengatasi makin maraknya kekerasan terhadap perempuan dan anak.

    (rdk/rdk)



    Komentar Pembaca: