Virus Corona Bikin Pariwisata Indonesia Terpukul

    Senin, 16 Maret 2020 - 13:01 Editor : Redaksi Dibaca : 293 Views

    Menit.co.id Ferry Febriari hanya bisa gigit jari saat melihat daftar buku tamu hotel. Sejak merebaknya wabah virus corona, jumlah turis asing yang menginap di hotel yang dikelolanya menurun drastis.

    Cluster General Manager Paragon Hotel Seminyak, Bali & Jakarta ini menceritakan, lesunya jumlah pengunjung mulai terasa sejak 21 Januari 2020. Banyak turis membatalkan plesirannya ke Bali.

    Secara keseluruhan, terjadi penurunan pelancong asing yang menginap di hotelnya hingga 70 persen. Wisawatan asal China mendominasi angka penurunan mencapai 35 hingga 40 persen.

    “Iya sangat signifikan sekali. Misalnya dalam satu hari, kita di low season seperti ini biasanya paling buruk angka keterisiannya 40 sampai 50 persen. Namun dengan adanya corona (turun) sudah 25 hingga 20 persen dan kadang 15 persen,” kata Ferry saat dihubungi merdeka.com, akhir pekan lalu.

    Tak hanya pemilik jasa penginapan, dampak virus corona juga menyerang pengusaha travel di Bali. Salah satunya dirasakan Rusli Wisanto. Pemilik Oke Bali Internasional Travel (OKB).

    Sudah sebulan lebih, OKB tak melayani tamu asing berkeliling Bali. Hal itu dirasakannya sejak pemerintah memutuskan menutup penerbangan dari dan ke China.

    Sebelum ramai wabah virus corona, OKB Travel bisa melayani tamu China sebanyak 2.000 hingga 3.000 orang per bulan. “Karena yang terbanyak ke Bali dari China. Jadi kita bidik market China saja,” ujar dia.

    Dinas Pariwisata Provinsi Bali mengamini tergerusnya tingkat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada Februari akibat virus Corona. Di mana, wisman hanya berjumlah 390.000 dari bulan sebelumnya 530.000 orang. Angka Februari 2020 juga turun dibanding periode sama tahun lalu yang sebanyak 430.000 orang.

    “Jadi ada penurunan 10 persen,” kata Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Putu Astawa.

    Pukulan akibat virus corona juga dirasakan pariwisata di Jawa Tengah. Seperti di Candi Prambanan dan Candi Borobudur.

    Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Provinsi Jawa Tengah mencatat turis asing tujuan Borobudur pada Februari 2019 mencapai 16.642. Sedangkan, pada Februari 2020 tercatat hanya 9.314 orang.

    Turis asing ke Prambanan pada Januari 2020 sebanyak 10.948 orang. Sedangkan, sampai 25 Februari 2020, tercatat hanya 2.557 wisman.

    “Kondisi pariwisata terpukul virus corona. Potensi berkurang kunjungan pariwisata dari mancanegara,” kata Kepala Dinas Disporapar Jateng, Sinung N Rachmadi, saat dihubungi merdeka.com.

    Bayang-Bayang Ancaman PHK

    Wakil Ketua Umum Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Budijanto Ardiansyah menilai, ketakutan wisatawan asing untuk melancong ke negara terdampak wabah, berakibat kematian bagi sektor bisnis pariwisata.

    Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama memperkirakan, kerugian akibat virus Corona ini mencapai angka USD4 miliar atau setara Rp54,6 triliun. Dengan rincian, sekitar USD2,8 miliar atau senilai Rp38,2 triliun pendapatan negara hilang dari turis China.

    Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah wisman pada Januari 2020 sebanyak 1,27 juta orang, menurun 7,62 persen dibandingkan Desember 2019. “Pada Januari 2020, jumlah wisman sebesar 1,3 juta kunjungan atau detailnya 1,27 juta kunjungan wisman,” kata Deputi Bidang Statistik, Distribusi dan Jasa, Yunita Rusanti.

    Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Hariyadi Sukamdani, mengakui sektor industri perhotelan saat ini tengah merugi akibat wabah virus corona. Bahkan, potensi kehilangan pendapatan industri ini ditaksir mencapai sebesar Rp2,7 triliun.

    Menurut Ketua Bali Tourism Board (BTB) Ida Bagus Agung Partha Adnyana, selama ramai virus corona, sudah terjadi 40.000 pembatalan kamar hotel dengan total nilai kerugian sebesar Rp1 triliun.

    Kabar lebih buruk datang dari Kepulauan Riau. Perusahaan Star Jet, agen travel khusus turis China di kawasan Plaza Lagoi Bintan, Kepulauan Riau pada akhir Februari 2020 mengajukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 150 karyawannya. Penyebabnya, virus corona atau COVID-19 sangat memukul bisnis mereka. Rencananya PHK mulai diberlakukan per 1 Maret 2020.

    Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bintan, Indra Hidayat, mengatakan di tengah kondisi virus corona saat ini, pihaknya juga tidak bisa memaksa perusahaan untuk bertahan. “Perusahaan tidak memiliki pemasukan buat menutupi operasional per bulan,” imbuhnya.

    Selain mengajukan PHK, pihak perusahaan Star Jet terlebih dulu sudah merumahkan sekitar 283 karyawannya pada pertengahan Februari 2020. Kebijakan merumahkan karyawan juga dilakukan oleh perusahaan On Base selaku pengelola travel agent turis China di kawasan Agro Resort, Bintan.

    “Kalau On Base ada sekitar 240 karyawan yang dirumahkan,” ungkap Indra.

    Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo memprediksi dampak virus corona masih akan terasa hingga Maret mendatang. Jika tak hanya menghitung sektor pariwisata saja, diperkirakan Indonesia kehilangan total pendapatan mencapai USD 13,5 miliar atau setara Rp185 triliun. “Itu tadi skenario kalau 2 bulan tutup,” ujar Perry.

    Strategi Pemerintah

    Pemerintah bergerak mengantisipasi lesunya pendapatan yang ditopang sektor pariwisata. Salah satunya dengan menambah empat hari cuti bersama 2020.

    Adapun Cuti Bersama Maulid Nabi Muhammad SAW yang semula hanya 29 Oktober ditambah menjadi 30 Oktober. Pemerintah juga menambah Cuti Bersama Hari Raya Idul Fitri di tanggal 28-29 Mei 2020. Terakhir, tambahan cuti bersama pada 21 Agustus untuk Tahun Baru Hijriah.

    Menteri Wishnutama menilai, dengan bertambahnya hari libur, maka masyarakat dapat memanfaatkannya untuk pergi berlibur ke destinasi wisata. “Karena orang bisa memanfaatkan hari libur untuk berwisata,” ucapnya.

    Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziyah juga mengatakan bahwa penambahan cuti bersama tersebut dapat meningkatkan perekonomian Indonesia, khususnya di bidang pariwisata. Banyaknya masyarakat yang pergi untuk berlibur, kata dia, otomatis juga akan berdampak positif ke industri kreatif.

    Sebelum memberikan cuti tambahan, pemerintah juga telah mengguyur sejumlah insentif untuk menangkal dampak virus corona. Ada anggaran promosi pariwisata Rp103 miliar dan juga untuk kegiatan turisme sebesar Rp25 miliar dan influencer sebanyak Rp72 miliar.

    Insentif lainnya yaitu pengurangan tarif Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U) sebesar 20 persen selama 3 bulan pada 10 destinasi yang nilainya sekitar Rp265,6 miliar. Pertamina memberikan insentif berupa diskon avtur di bandara yang ada di 9 destinasi wisata, dengan total diskon ini nilainya senilai Rp265,5 miliar selama 3 bulan.

    Selanjutnya realokasi dana anggaran khusus (DAK) untuk 10 destinasi wisata senilai Rp147,7 miliar yang saat ini sudah ada rencana penggunaan di Rp50,79 miliar. Sehingga ada Rp96,8 miliar yang bisa dialokasikan dan sifatnya diubah menjadi hibah pemerintah untuk 10 destinasi wisata.

    Terakhir, pemerintah akan mensubsidi atau hibah kepada pemerintah daerah yang terdampak akibat penurunan tarif pajak hotel dan restoran di daerah sebanyak Rp3,3 triliun.

    Tantangan Memulihkan Pariwisata

    Founder & Chairman MarkPlus Inc. dan MarkPlus Tourism, Hermawan Kartajaya, mengatakan turis asal China yang berkunjung ke Indonesia, yang mulanya mencapai angka dua juta, kini nol. Tentu hal tersebut menjadi tantangan bagi sektor pariwisata untuk ke depannya menghadirkan quality tourism.

    Tantangan inilah yang harus dijawab oleh pelaku industri pariwisata termasuk pemerintah. Selain tantangan promosi, penanganan virus corona saat ini harus jadi fokus utama. Bagaimana membangun kepercayaan turis mancanegara untuk kembali kunjungi Indonesia, terutama high spender.

    “Walau jumlah mereka besar ke Indonesia, bukan berarti turis China tidak high spender. Sebagian dari mereka ada yang masuk kategori quality tourist. Hanya saja destinasinya tertentu. Tidak hanya di Bali, di mancanegara pun ada turis China yang high spender. Kembali lagi, ini soal destinasi,” kata Hermawan Kartajaya.

    Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Haryadi Sukamdani meminta pemerintah pusat melalui OJK untuk dapat memberikan relaksasi terhadap kewajiban pembayaran utang kepada perbankan yang dialami oleh industri Hotel & Restoran di destinasi terdampak akibat adanya virus corona. Hal ini guna menjaga agar kondisi ekonomi selama wabah corona tetap stabil.

    “Ketergantungan UMKM terhadap sektor pariwisata di berbagai destinasi sangat besar, untuk itu perlu dijaga agar Industri Hotel & Restoran dan Transportasi udara/laut dijaga agar memudahkan pergerakan domestik sebagai andalan pergerakan ekonomi,” jelasnya.

    Haryadi melihat perlunya keringanan pembayaran utang tersebut karena pergerakan wisnus sangat dibutuhkan oleh destinasi-destinasi wisata luar Pulau Jawa. Di mana, sebelum virus corona telah terpukul lebih dulu imbas harga tiket pesawat mahal.

    “Pada situasi ini industri berharap adanya kebersamaan dan peran aktif pemerintah dalam menjaga agar kondisi bisnis pariwisata tetap stabil – at least break-even point agar bisnis pariwisata tetap sustainable dan terlindungi ekosistem bisnis usahanya dari dampak Covid-19,” tutupnya.

    Sumber: merdeka.com



    Komentar Pembaca:

    Menit.co.id sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.