Raja Ali Haji Jadi Tampilan Google Doodle, Ini Sejarahnya

Raja Ali Haji Google Doodle

Menit.co.id – Sosok tokoh Raja Ali Haji jadi tampilan Google Doodle. Ia merupakan sosok pria bahasa Indonesia yang menjadi inspirasi masyarakat tanah air.

Pengguna internet ketika membuka laman Google akan melihat sosok pria berpeci hitam. Dia adalah Raja Ali Haji merupakan bapak bahasa Indonesia dan mendapat gelar Pahlawan Nasional.

Raja Ali Haji mendapat gelar Pahlawan Nasional 10 November tahun 2004 lalu. Raja Ali Haji juga seorang guru, ulama, ahli sejarah, pujangga, dan penyair.

Puluhan karyanya mampu memberi pengetahuan tentang nilai keagamaan, pendidikan karakter, sejarah, dan budi pekerti.

Dalam buku Pesan-Pesan Tasawuf dalam Gurindam Dua Belas Karya Raja Ali Haji oleh M Hatta dijelaskan biografi Raja Ali Haji.

Ia lahir dengan nama lengkap Raja Ali al-Hajj Ibni Raja Haji Fisabilillah bin Opu Daeng Celak alias Engku Haji Ali Ibni Engku Haji Ahmad.

Raja Ali Haji lahir ada tahun 1808 M di pusat Kesulthanan Riau-Lingga Pulau Penyengat. Dilansir dari laman Kebudayaan Kemdikbud, Pulau Penyengat saat itu masih daerah Riau.

Raja Ali Haji merupakan keturunan Bugis dari sang kakek yang merupakan salah satu pahlawan Melayu-Bugis ternama dan pernah menjabat Yamtuan Muda (Perdana Menteri ke-4) dalam Kesultanan Johor-Riau.

Darah sastrawan Raja Ali Haji menurun dari ayahnya, Raja Ahmad. Pangeran Riau pertama yang pergi haji itu merupakan orang pertama yang menyusun epos yang melukiskan sejarah orang Bugis di Melayu dan hubungannya dengan Raja-Raja Melayu.

Sejak masih anak-anak, Raja Ali Haji dikenal sebagai anak yang pintar. Wawasannya terbuka dibanding anak seusianya, sebab mendapat bekal ilmu saat mengikuti perjalanan ayahnya ke berbagai daerah untuk berdagang dan termasuk pergi haji.

Tak hanya itu, ia juga terpapar didikan tokoh-tokoh terkemuka dari berbagai daerah, termasuk pada pengkajian ajaran islam.

Kala itu banyak ulama dari negeri lain yang datang ke Riau untuk mengajar dan belajar. Hal ini disebabkan di Riau lah Negeri Melayu yang pada masa itu bahasa dan kesustraannya dipelihara dan dikembangkan secara bersemangat.

Raja Ali menuntut ilmu hingga ke tanah Arab dengan bekal ilmu fiqih dan ilmu bahasa Arab. Ia tak pernah berhenti untuk mempelajari dan menulis buku.

Beberapa karyanya yang terkenal ialah Syair Abdul Muluk (1847), Gurindam Dua Belas (1847), Tuhfat Al-Nafis (1865), dan masih banyak lagi.

Karya-karya yang dihasilkannya selalu menjadi pedoman ilmu bagi generasi selanjutnya. Sebut saja Gurindam Dua Belas yang menerangkan ajaran moral dalam hubungan sesama manusia atau antar manusia dengan Tuhannya.

Karya ini begitu mahsyur sebab bidang falsafah Melayu yang bersumber dari agama Islam ditulis dalam bentuk puisi.

Gurindam Dua Belas Karya Raja Ali Haji

Gurindam Dua Belas bisa dikatakan jadi satu-satunya genre sastra dalam bentuk gurindam cara Melayu yang pernah dihasilkan sepanjang perjalanan sejarah tradisi tulis dan sastra klasik Melayu Riau-Lingga sejak awal abad ke-19 hingga tiga dekade pertama kurun abad ke-20.

Ia menjadi sosok pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu lewat buku pedoman bahasa. Raja Ali Haji dengan kemampuan intelektualnya telah menghasilkan beberapa karya sebagai pengabdian pada bangsa dan Negara.

Raja Ali Haji bersahabat baik dengan Hermann Von De Wall, sarjana kelahiran Jerman yang merupakan pegawai pemerintahan Hindia-Belanda.

Von De Wall bertugas menyusun kamus Bahasa Melayu-Belanda. Raja Ali Haji bisa berteman dengannya sebab ia jauh dari framing penulis Islam yang dengki dan membenci Belanda.

Raja Ali Haji mampu menurunkan ego keningratannya dan melihat manfaat bekerja sama dengan pegawai kolonial untuk tujuan pendidikan, ia ingin berperan dalam penyusunan bahasa Melayu.

Bersahabat dengan Von De Wall membuatnya bisa berbagi minat terhadap Bahasa Melayu dan menyusun kamus bahasa Melayu.

Apa yang dilakukannya ini mampu membuat sebuah pedoman yang menjadi standar bahasa Melayu dan menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia.

Disebutkan dalam buku M Hattam bahwa pada masa akhir hayat, Raja Ali Haji banyak menghabiskan waktu untuk beribadah dengan berkhalwat dan uzlah.

Ia berhasil mendirikan pusat pengkajian bahasa dan budaya Melayu di Pulau Penyengat, serta menjalani hidup dengan sederhana. Pada tahun 1868 ia mulai sakit-sakitan

Dalam buku Sejarah Melayu oleh Ahmad Dahlan disebutkan bahwa tahun meninggal Raja Ali Haji sempat menjadi perdebatan. Banyak sumber yang menyebutkan bahwa ia meninggal pada tahun 1873.

Von de Wall menjadi sahabat terdekatnya telah meninggal di Tanjung Pinang pada tahun 1873. Dari fakta ini dapat dikatakan bahwa Raja Ali Haji meninggal tahun 1873 di Pulau Penyengat.

Makam Raja Ali Haji berada di komplek pemakaman Engku Puteri Raja Hamidah. Persis terletak di luar bangunan utama Makam Engku Putri.

Karya Raja Ali Haji Gurindam Dua Belas diabadikan sepanjang dinding bangunan makamnya. Sehingga setiap pengunjung yang datang dapat membaca serta mencatat karya maha agung tersebut.

Raja Ali Haji bersyair dengan pesan yang kuat dalam gurindamnya. Seperti pada Buku Komik Raja Ali Haji terbitan Dinas Kebudayaan Provinsi Kepulauan Riau: “Jika hendak mengenal orang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasa”.