Melihat Tradisi Membuat Bubur Asyura Masyarakat Aceh

Tradisi Membuat Bubur Asyura

Menit.co.id – Salah satu tradisi yang sudah sangat mengakar dalam masyarakat Aceh ketika datangnya bulan Muharram yaitu tradisi membuat Bubur Asyura.

Masyarakat Aceh memaknai bulan Muharram dengan melakukan berbagai kegiatan secara meriah yang bertujuan sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT.

Salah satu yang biasa masyarakat Aceh lakukan dan menjadi ciri khas perayaan bulan Muharam adalah dengan memasak bubur Asyura dalam panci besar.

Demikian penjelasan Muhammad Aminullah, Pakar Ilmu Sosial dan Budaya IAI Al-Aziziyah Samalanga, sebagaimana Menit.co.id lansir dari NU Online, Senin (8/8/2022).

Aminullah mengatakan masyarakat Aceh terkenal dengan nilai-nilai keagamaan dan tradisi keseharian.

Tradisi masak Bubur Asyura sendiri merupakan suatu hal yang tidak boleh mereka tinggalkan pada momen hari Asyura (10 Muharram) dengan berbagai acara, salah satu yaitu patungan (meuripee).

“Proses memasaknya di tempat Umum dengan porsi yang besar. Bubur Asyura nantinya akan di bawa pulang ke rumah masing-masing, di bagikan kepada tetangga, dan bahkan menjadi menu wajib untuk berbuka puasa Asyura (10 Muharram),” ujar Wakil Ketua PCNU Bireuen.

Tradisi Membuat Bubur Asyura Masyarakat Aceh

Ia menjelaskan, bahan-bahan untuk melaksanakan tradisi membuat bubur Asyura di setiap wilayah Aceh boleh saja berbeda. Namun, ada satu yang membuatnya sama. Yaitu menjadi sarana dalam mempererat silaturahmi antar warga.

Bubur Asyura karena di buat dalam porsi besar, warga di setiap wilayah di Aceh bergotong-royong memasaknya.

Dari mulai menyiapkan bahan, memotong hingga mengaduk bubur untuk mematangkannya di lakukan bersama-sama.

“Kemudian bubur yang sudah dimasak tersebut akan dibagikan ke setiap rumah yang ada di wilayah itu,” ucap doktor lulusan Universitas Sumatera Utara itu.

Aminullah yang juga Dosen Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh itu menerangkan Bubur Asyura terbuat dari tepung kanji yang memiliki rasa manis.

Karena di masak bersama bahan lainnya, seperti jagung, ketela, ubi, pisang, berbagai jenis kacang, nangka, daun pandan, dan santan.

“Awal mula tradisi pembuatan bubur kanji Asyura ini berasal dari cerita Nabi Nuh as, nabi yang dikenal membuat bahtera atau perahu besar untuk menghindari banjir bandang,” ulasnya.

Aminullah menyebutkan terkait dengan sejarah bubur Asyura bahwa setelah Nabi Nuh as dan para pengikut beliau turun dari kapal.

Mereka mengadu kepada Nabi Nuh bahwa mereka dalam keadaan lapar sedangkan bekal mereka sudah habis. Maka Nabi Nuh as memerintahkan mereka untuk membawa sisa perbekalan yang mereka miliki.

Maka ada dari mereka yang hanya memiliki satu genggam gandum, ada yang hanya memiliki sisa satu genggam kacang adas.

Kemudian, ada yang hanya memiliki satu genggam kacang dan ada yang membawa satu genggam kacang homs sehingga ada tujuh jenis biji-bijian yang terkumpulkan.

“Kemudian Nabi Nuh as memasak semuanya dalam satu masakan sehingga jadilah makanan sejenis bubur. Mereka makan bubur tersebut dan mencukupi untuk mengenyangkan semua pengikut beliau,” jelasnya.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS