Adu Kuat Andika Perkasa dan Yudo Margono Rebut Kursi Panglima TNI

  • Bagikan
Adu Kuat Andika Perkasa dan Yudo Margono Rebut Kursi Panglima TNI
Jenderal Andika Perkasa dan Laksamana TNI Yudo Margono

Menit.co.id – Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto akan mengakhiri masa jabatannya pada November 2021 mendatang. Saat ini, ada dua nama mencuat sebagai kandidat terkuat menggantikan posisi orang nomor satu di institusi TNI tersebut.

Kedua nama tersebut adalah, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa dan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono.

Calon lainnya yang berpeluang adalah Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Fadjar Prasetyo. Meski memiliki peluang namun relatif kecil. Hal itu lantaran posisi Panglima TNI saat ini berasal dari matra Angkatan Udara (AU).

Jika merujuk pada rotasi antar matra dalam sejarah pergantian pucuk pimpinan TNI maka abituren Akademi Angkatan Udara (AAU) 1988 yang dilantik bersama-sama dengan Laksamana TNI Yudo Margono oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Rabu, 20 Mei 2020 lalu ini tidak masuk dalam bursa calon Panglima TNI. Meskipun dalam Undang-Undang (UU) tidak ada aturan harus bergantian antarmatra.

Berbeda dengan Jenderal TNI Andika Perkasa dan Laksamana TNI Yudo Margono. Keduanya, sama-sama memiliki peluang yang cukup kuat menduduki jabatan Panglima TNI.

Jenderal TNI Andika Perkasa misalnya, sebagai pimpinan tertinggi di matra Angkatan Darat, lulusan Akademi Militer (Akmil) 1987 ini merupakan Pati TNI paling senior dibandingkan dua kepala staf lainnya yakni, Laksamana TNI Yudo Margono dan Marsekal TNI Fadjar Prasetyo.

Andika yang merupakan menantu mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) A.M Hendropriyono ini dianggap layak menduduki jabatan Panglima TNI karena memiliki segudang prestasi selama meniti karirnya di dunia militer.

Mengawali pengabdiannya sebagai perwira pertama infanteri di Korps Baret Merah, Komando Pasukan Khusus (Kopassus), Andika pernah menduduki sejumlah jabatan strategis di antaranya, Kepala Dinas Angkatan Darat (Kadispenad).

Saat berpangkat Mayor Jenderal (Mayjen) TNI, Andika pernah menduduki jabatan sebagai Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Danpaspampres) dan Pangdam XII/Tanjungpura.

Sedangkan, saat berpangkat Letnan Jenderal (Letjen) TNI, suami dari Diah Erwiany atau yang biasa dipanggil Hetty Andika Perkasa ini pernah menjabat sebagai Komandan Komando Pembina Doktrin, Pendidikan dan Latihan Angkatan Darat (Dankodiklatad) dan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).

Apabila Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunjuk Andika Perkasa sebagai Panglima TNI maka yang bersangkutan tidak akan lama menjabat sebagai Panglima TNI yakni hanya setahun karena akan pensiun pada November 2022.

Kecuali Presiden Jokowi memperpanjang masa jabatannya seperti yang pernah dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terhadap Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto.

Sedangkan bila mengacu pada rotasi antar matra dalam pergantian Panglima TNI, maka Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono merupakan sosok yang tepat menduduki jabatan tersebut.

Selain itu, abituren Akademi Angkatan Laut (AAL) 1988 ini juga pernah menduduki sejumlah jabatan strategis seperti, Komandan KRI Pandrong dan KRI Sutanto, serta KRI Ahmad Yani.

Termasuk Panglima Komando Angkatan Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar) yang kemudian berganti menjadi Panglima Komando Armada I (Pangkoarmada) serta Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I (Pangkogabwilhan).

Selain itu, masa jabatan Yudo Margono pun cukup panjang karena baru berakhir pada November 2023. Namun, hal itu bukan berarti tanpa masalah mengingat waktu pensiun Yudo Margono hanya beberapa bulan sebelum Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 dimana situasi sosial politik dipastikan cukup panas.

Tidak hanya itu, peristiwa tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala-402 di perairan Bali, beberapa waktu lalu juga bisa menjadi ganjalan bagi Laksamana TNI Yudho Margono untuk menduduki jabatan Panglima TNI.

Kini, waktu yang dimiliki Presiden Jokowi hanya tersisa kurang lebih enam bulan untuk memilih siapa sosok yang layak dan mumpuni menduduki jabatan prestisius sebagai Panglima TNI.

Panglima TNI Harus Disegani Dunia Internasional

Pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Kertopati menilai, dalam kurun waktu sekarang ini Panglima TNI sangat tepat dijabat oleh orang yang paham perang Hibrida, IT, media sosial dan teritorial. Termasuk menguasai ancaman terorisme dan radikalisme.

“Lebih dari itu, prestasi dan pengalaman akademik sebagai keniscayaan untuk dikuasai. Panglima TNI juga harus mampu menjaga kedaulatan NKRI sebaik mungkin agar tidak terjadi disintegrasi,” ucapnya.

Hal lain yang juga harus menjadi pertimbangan adalah melihat perkembangan lingkungan strategis pada tataran global dan regional. Karena itu, dibutuhkan sosok Panglima TNI yang memiliki dampak penangkalan bagi petinggi militer internasional.

Mantan anggota Komisi I DPR ini menilai pentingnya Panglima TNI yang disegani dunia internasional.

”Akan sangat baik jika Panglima TNI adalah schollar warior, perwira akademisi. Penting juga memperhatikan prestasi akademiknya. Sebaiknya ambil yang pintar dan lulus tidak lebih dari nomor 30 kelulusan di akedeminya,” katanya.

Kemudian pertimbangan kebutuhan organisasi TNI. Perempuan yang akrab disapa Nuning ini menyatakan, dalam kurun waktu ke depan sebagai bagian modernisasi alutsista dibutuhkan kemampuan manajemen tempur dan diplomasi militer yang handal.

”Jadi penting bagi Panglima TNI ke depan selain punya integritas bagus juga mahir bahasa asing minimal Inggris. Hal ini penting untuk hal-hal rahasia yang tidak boleh melibatkan pihak ketiga yakni, interpreter sekalipun,” katanya.

Pasal 13 ayat 4 UU RI Nomor 34 Tahun 2004 memang mengamanatkan jabatan Panglima TNI dapat dijabat oleh perwira tinggi (Pati) aktif yang sedang atau pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan. Artinya, KSAD, KSAL dan KSAU memiliki peluang yang sama untuk menjabat Panglima TNI.

”Meski harus bergantian namun pada kenyataannya Presiden yang menentukan siapa yang akan menjabat. Hak prerogatif Presiden tersebut memang tidak dapat diintervensi oleh siapapun,” ucapnya.

Profile Andika Perkasa dan Yudo Margono

1. Profil Jenderal Andika Perkasa

Andika Perkasa lahir di Bandung, Jawa Barat, 21 Desember 1964. Andika Perkasa adalah menantu Mantan Kepala BIN AM Hendropriyono. Selama bertugas menjadi prajurit TNI AD, Andika Perkasa banyak menghabiskan waktunya untuk pendidikan.

Jenderal Andika Perkasa
Jenderal Andika Perkasa

Dalam kurun waktu 2003 hingga 2011, ia berada di Washington DC, Amerika Serikat untuk memperoleh pendidikan militer. Dilansir Kompas.com, Andika Perkasa pernah mengenyam pendidikan Strata 1 (S1) jurusan Ekonomi di dalam negeri.

Sementara gelar Strata 2 (S2) dan Strata 3 (S3), Andika Perkasa mendapatkannya saat melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat. Andika Perkasa adalah lulusan dari The George Washington University, National Defense University, serta Harvard University.

Ia pun memiliki tiga gelar S2, yakni MA, MSc, dan MPhil, serta satu gelar S3 PhD. Sementara di bidang kemiliteran, Andika Perkasa adalah lulusan Akademi Militer pada 1987.

Setelah lulus dari Akmil, Andika bergabung dengan jajaran korps baret merah, Kopassus. Kariernya dimulai sebagai komandan peleton hingga berangsur-angsur naik menjadi Dansub Tim 2 Detasemen 81 Kopassus (1991).

Kemudian Den 81 Kopassus (1995), Danden-621 Yon 52 Grup 2 Kopassus (1997), Pama Kopassus (1998), dan Pamen Kopassus (1998).

Pada 2002, Andika diangkat menjadi Danyon 32 Grup 3/Sandha Kopassus. Kembali bertugas dalam waktu singkat, ia kemudian dimutasi menjadi Kepala Seksi Korem 051/WKT Dam Jaya.

Belum genap setahun, ia dimutasi dan menjabat sebagai Pabandya A-33 Direktorat A Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI. Pada 8 November 2013, Andika diangkat menjadi Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat dan pangkatnya dinaikkan menjadi brigadir jenderal.

Dua hari setelah Jokowi dan wakil presiden saat itu, Jusuf Kalla dilantik, Andika ditunjuk sebagai Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Pangkatnya naik menjadi mayor jenderal.

Dua tahun ia mengawal Presiden Jokowi, pada 2016 Andika diangkat sebagai Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XII Tanjungpura.

Jabatan itu ia emban kurang lebih selama dua tahun. Pada 2018, dia diangkat sebagai Komandan Komando Pembina Doktrin, Pendidikan, dan Latihan Angkatan Darat (Dankodiklatad).

Pangkatnya dinaikkan menjadi letnan jenderal. Tak menunggu waktu lama, Andika kemudian dipercaya menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).

Ia menggantikan Letjen Eddy Rahmayadi yang mundur untuk maju pada pemilu gubernur Sumatera Utara. Pada November 2018, Andika Perkasa diangkat menjadi KSAD menggantikan Jenderal TNI Mulyono.

Selain menjadi KSAD, Andika Perkasa juga ditunjuk sebagai Wakil Ketua Komite Pelaksana Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) pada Agustus 2020.

2. Profil Laksamana TNI Yudo Margono

Yudo Margono merupakan prajurit aktif di TNI Angkatan Laut. Yudo Margono saat ini menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal). Laksamana TNI Yudo Margono, S.E., M.M. lahir di Madiun, Jawa Timur, 26 November 1965 atau saat ini memiliki usia 55 tahun.

Laksamana TNI Yudo Margono
Laksamana TNI Yudo Margono

Yudo Margono merupakan alumnus Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan ke-XXXIII/tahun 1988. Sebelumnya, dia menjabat Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I.

Yudo menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Laut ke-27 sejak tanggal 20 Mei 2020. Yudo Margono juga dikenal sebagai bukan sembarang prajurit TNI AL.

Serangkaian kemampuan dan kecakapan, serta loyalitas adalah sebagian syarat yang harus dimiliki. Pengamat Intelijen, Pertahanan dan Keamanan, Ngasiman Djoyonegoro berpendapat, Yudo Margono sosok yang layak untuk menduduki kursi Panglima TNI.

Ngasiman Djoyonegoro mengulas, rekam jejak atau track record ini dibuktikan Yudo bahkan jauh sebelum dirinya menjadi Kasal.

Misalnya ketika dia menjabat sebagai Panglima Koarmada 1 (Pangkoarmada 1), Yudo dengan kesigapannya memimpin Satgas Laut dalam SAR pencarian bangkai pesawat Lion Air JT 160 yang jatuh di perairan Laut Jawa pada tahun 2019.

Dengan kesigapan satgas dibawah pimpinannya tak butuh lama untuk menemukan serpihan dan CVR pesawat nahas tersebut.

“Kesuksesan pada saat menjabat Pangkoarmada 1 menghantarkannya menjabat sebagai Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan 1 (Pangkogabwilhan 1),” beber Simon, sapaan akrab Ngasiman.

Sebagai Pangkogabwilhan 1,yang merupakan organisasi baru TNI untuk mengantisipasi tantangan keamanan ke depan, wilayah kewenangannya bukan hanya di laut tetapi meliputi darat, laut dan udara.

Tentunya tantangan dan permasalahan yang dihadapi semakin besar. Dengan wawasan dan pengalamannya memimpin, Yudo berada posisi terdepan di kisruh perairan Natuna yang diklaim sebagai wilayah China.

Berulang kali ia memerintahkan kapal-kapal TNI untuk melakukan penegakan hukum di wilayah yang masuk hak berdaulat Indonesia tersebut. “Sebagai Pangkogabwilhan 1, ia punya pengalaman membawahi AD, AL dan AU,” tutur Simon.

Simon menjelaskan bahwa saat virus corona merebak di berbagai penjuru dunia dan Indonesia harus memulangkan WNI dari Wuhan, Yudo kembali dipercaya untuk memimpin proses rehabilitasi di hanggar Lanud Raden Sadjad, Natuna.

Tak hanya itu, ABK kapal pesiar yang diobservasi di Kepulauan Seribu juga dikomandoi olehnya. Pemerintah lalu membangun RSD di Wisma Atlet Kemayoran. Setelah beroperasi, Yudo juga dipercaya memimpin operasional RSD sampai akhirnya diserahkan ke Pangdam Djaya Mayjend TNI Eko Margiyono.

Begitu juga dengan RSD Pulau Galang, Yudo juga yang mengomandoi. Bahkan, saat dirinya menjabat Kasal, perhatian kepada relawan tenaga medis covid-19 di Wisma Atlet terus diberikan.

 

  • Bagikan