Ketua KPK Firli Bahuri: Kepemimpinan Saya Tak Ada Lagi Jumat Keramat

  • Bagikan
Kepemimpinan Saya Tak Ada Lagi Jumat Keramat
Ketua KPK Firli Bahuri

Menit.co.id – Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Firli Bahuri mengatakan tidak akan ada lagi Jumat keramat di masa kepemimpinannya.

Jumat keramat merujuk pada kebiasaan KPK mengumumkan penetapan tersangka atau melakukan operasi tangkap tangan pada hari Jumat.

“Mohon maaf Bapak dan Ibu mungkin sekarang tidak ada lagi yang mendengar pengumuman tersangka hari Jumat, enggak ada lagi. Kenapa? Karena kami membangun bahwa Jumat keramat tidak ada,” kata Firli saat mengunjungi Lembaga Pemasyarakat Sukamiskin, Bandung, Rabu, 31 Maret 2021.

Firli mengunjungi penjara khusus koruptor ini untuk melakukan program penyuluhan antikorupsi kepada para narapidana.

Firli mengatakan di masa kepemimpinannya semua hari adalah keramat. Dia mengatakan tak ingin ada kesan bahwa KPK menargetkan seseorang menjadi tersangka.

“Pokoknya hari Jumat harus ada pengumuman tersangka, kami tidak,” kata dia seperti dikutip dari Tempo.co.

Dia mengatakan penetapan tersangka dilakukan karena ada kecukupan alat bukti. Dia mengatakan penetapan dan pengumumannya harus dilakukan ketika alat bukti itu mencukupi.

Dia mengatakan tak ingin mengumumkan tersangka, namun penyidikannya masih membutuhkan waktu yang lama. Dia mengatakan tak ingin keluarga pelaku korupsi itu ikut terpenjara karena pengumuman tersangka yang terburu-buru.

“Kalau seseorang kita umumkan tersangka korupsi, setidaknya anak, istri, orang tua, handai tolan, keponakan itu juga ikut terpenjara, juga ikut menerima hukuman. Itu kita tidak ingin,” kata Firli Bahuri.

Firli Bahuri Ingin Eks Koruptor Ikut Kampanye Antikorupsi

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri berencana mengajak mantan napi korupsi untuk menjadi agen kampanye antikorupsi.

Sebagai proyek pilot, napi korupsi yang diajak menjadi penyuluh adalah penghuni Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin.

“Lapas Sukamiskin kita tahu warga binaan adalah yang terlibat kasus korupsi. Karena itu KPK memiliki kepentingan memberantas korupsi dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat,” kata Firli.

Firli mengatakan orang yang pernah dipenjara diharapkan lebih mengetahui bahaya korupsi. Dengan demikian, mereka bisa jadi agen penyuluhan antikorupsi yang lebih efektif.

“Para pelaku korupsi yang sudah menjalani hukuman bisa menyebarkan bahayanya korupsi, sehingga mereka kamu jadikan agen penyuluhan korupsi supaya enggak korupsi,” kata dia.

Para peserta yang mengikuti program sejauh ini berjumlah 25 orang. Mereka adalah narapidana program asimilasi yang hampir selesai menjalani masa hukuman.

Mereka di antaranya, terpidana kasus korupsi proyek pengadaan e-KTP, Sugiharto; dua terpidana kasus korupsi restitusi pajak, Indarto Catur Nugroho dan Herry Setiadji; serta terpidana korupsi di PT PLN Sumatera Bagian Utara, Chris Leo Manggala.

Para peserta penyuluhan ini dipilih oleh Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM. Setelah dipilih, mereka akan menjalani pendampingan psikologis.

Firli Bahuri mengatakan 25 narapidana tersebut baru di awal program. Pada April mendatang, KPK juga akan mendatangi Lapas Tangerang untuk tujuan mencari penyuluh antikorupsi lainnya.

  • Bagikan