Tanoto Foundation Latih 800 Fasilitator Atasi Learning Loss

  • Bagikan
Tanoto Foundation

Menit.co.id – Dalam rangka persiapan tahun ajaran baru pada Juli 2021, Tanoto Foundation melatih lebih dari 800 fasilitator untuk meningkatkan kapabilitas guru dan kepala sekolah dalam percepatan implementasi blended learning dan mitigasi kehilangan pembelajaran pada siswa.

Kursus ini membekali para pendidik dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam melakukan pelajaran tatap muka terbatas serta pelajaran online.

Organisasi filantropi independen yang didirikan oleh Sukanto Tantoto dan Tinah Bingei Tanoto pada tahun 1981 ini berfokus pada pemberdayaan sekolah dan madrasah untuk mengurangi kehilangan pembelajaran akibat pembelajaran jarak jauh jangka panjang.

Program pendidikan dasarnya PINTAR mendorong inisiatif untuk mempercepat pencapaian hasil pembelajaran tersebut.

Program Director PINTAR Tanoto Foundation M Ari Widowati menjelaskan, fasilitator di 25 kabupaten dan kota mitra menjalani empat hari pembelajaran synchronous dan asynchronous learning.

Peserta dilatih untuk mengidentifikasi disposisi belajar siswa dan secara tepat menerapkan rencana pembelajaran yang berbeda. Pendekatan ini diharapkan dapat lebih memotivasi siswa dan meningkatkan hasil belajar.

Fasilitator terpilih dari kursus ini akan melatih kepala sekolah dan guru dari 843 sekolah dan madrasah mitra di lima provinsi – Sumatera Utara, Riau, Jambi, Jawa Tengah dan Kalimantan Timur.

Diadaptasi dari panduan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, kursus ini terdiri dari modul pelatihan untuk kepala sekolah dan guru.

Modul untuk kepala sekolah mencakup kesiapsiagaan sekolah dan pendekatan pedagogis adaptif dalam kondisi pandemi, serta penerapan pendekatan blended learning.

Lebih lanjut Ibu Ari menjelaskan: “Kepala sekolah dan guru dilatih secara bersamaan karena mereka memegang peran penting dan tidak terpisahkan dalam memberikan hasil pendidikan yang baik. Guru menyiapkan materi pembelajaran untuk siswa, sementara kepala sekolah memastikan guru didukung dengan sumber daya dan alat bantu yang memadai.”

Kepala Pelatihan Program PINTAR Golda Simatupang mengatakan, kepala sekolah yang mengikuti pelatihan akan lebih siap menghadapi pembelajaran tatap muka secara terbatas.

Golda menjelaskan pelatihan meliputi pemenuhan persyaratan administrasi, penyediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan, penyusunan strategi dan pengaturan pembelajaran, serta memiliki prosedur monitoring dan evaluasi untuk memastikan pembelajaran tatap muka secara terbatas dapat dilakukan dengan aman, nyaman dan efektif di sekolah.”

Kepala sekolah juga dilatih dalam mengelola guru dan staf dengan lebih baik untuk penerapan pembelajaran campuran. Mereka belajar mengembangkan rencana pembelajaran yang mengakomodasi pembelajaran campuran.

“Mereka juga belajar untuk mendukung staf mereka dengan lebih baik dan melakukan simulasi pembelajaran campuran untuk menyempurnakan perencanaan kurikulum mereka, ” kata Golda.

Modul pelatihan guru terdiri dari dua unit, penilaian diagnostik dan pengembangan rencana pembelajaran yang berbeda. Hal ini akan memungkinkan guru untuk menilai siswa secara lebih kompeten sehubungan dengan kehilangan belajar siswa secara individu, sehingga rencana pembelajaran yang berbeda dapat dirancang dan diterapkan untuk setiap siswa.

Supardi, Kepala SMPN 2 Kendal, Jawa Tengah, mengatakan pelatihan sangat dibutuhkan saat tahun ajaran baru dimulai. Dia berkata, pelatihan ini akan sangat membantu dalam menyediakan pembelajaran terbatas secara langsung dan online.

“Kami juga akan dapat mengidentifikasi persyaratan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan setiap siswa dan menjembatani kesenjangan pembelajaran apa pun.”

  • Bagikan