Alasan Kejagung Belum Tahan Robert Priantono Bonosusatya di Kasus Korupsi Timah

Kejaksaan Agung Tetapkan Harvey Moeis Tersangka Korupsi Rp 271 Triliun dan Robert Priantono Bonosusatya

MENIT.CO.ID – Kejaksaan Agung memeriksa mantan pimpinan PT Refined Bangka Tin (RBT), Robert Priantono Bonosusatya atau Robert Bonosusatya (RBS) selama 13 jam.

Akan tetapi, Kejagung tak melakukan penahanan meski sejumlah isu menyebut pengusaha tersebut menjadi dalang kasus dugaan korupsi tata niaga komoditas timah wilayah izin usaha pertambangan (IUP) PT Timah Tbk 2015-2022.

“Pemeriksaan saksi dilakukan untuk memperkuat pembuktian dan melengkapi pemberkasan dalam perkara di maksud,” kata Kepala Pusat Penerangan dan Hukum Kejaksaan Agung, Ketut Sumedana, Selasa (2/4/2024).

Penyidik Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) memeriksa tiga orang saksi dalam kasus PT Timah. Selain Robert, mereka juga memeriksa staf legal and compliance PT Timah Tbk berinisial AT; dan Kepala Cabang PT Dolarindo Intravalas Primatama berinisial CS.

Melansir dari situs Bloomberg Technoz, hingga saat ini, Jampidsus berarti telah memeriksa 172 orang saksi dalam kasus yang awalnya diduga menyebabkan kerugian negara hingga Rp271,06 triliun tersebut.

Selain itu, penyidik juga telah menetapkan 16 orang tersangka. Termasuk dua petinggi PT RBT yaitu Direktur Utama Suparta, dan Direktur Pengembangan Reza Andriansyah.

Belakangan, satu tersangka lainnya juga dikaitkan dengan PT RBT yaitu suami artis Sandra Dewi, Harvey Moeis yang dikabarkan memiliki saham pada perusahaan tersebut.

Harvey Moeis Hingga Robert Priantono Bonosusatya (RBS)

Dalam kasus ini, Harvey disebut menjadi perwakilan RBT saat berkomunikasi dengan Direktur Utama PT Timah Tbk saat itu, Riza Pahlevi — juga telah menjadi tersangka.

Dalam komunikasi tersebut, Harvey meminta PT Timah mengakomodir kegiatan tambang ilegal di IUP perusahaan tersebut.

Keduanya kemudian dikabarkan akan membalut kegiatan tambang liar tersebut dengan seolah kegiatan perjanjian sewa menyewa alat peleburan timah.

Harvey kemudian disebut menjalin komunikasi dengan sejumlah perusahaan smelter untuk membungkus praktek korupsi tersebut.

Sejumlah petinggi dan penerima manfaat dari perusahaan-perusahaan smelter tersebut juga telah menjadi tersangka.

Tersangka dari CV Venus Inti Perkasa (CV VIP) adalah Direktur Utama Hasan Tjhie, Komisaris Kwang Yung alias Buyung, Benefit ownership Tamron alias Aon, dan Manager Operasional Tambang Achmad Albani.

Tersangka dari PT Stanindo Inti Perkasa (PT SIP) adalah Komisaris Suwito Gunawan, dan Direktur MB Gunawan. Selain itu, Direktur Utama PT Sariwiguna Binasentosa (PT SBS) Robert Indarto; dan General Manager PT Tinindo Inter Nusa (TIN), Rosalina.

Fee untuk Harvey dari para perusahaan smelter tersebut kemudian disamarkan menjadi kegiatan sosial atau CSR. Dana tersebut dialirkan kepada Manager Marketing PT Quantum Skyline Exchange (QSE), Helena Lim — juga telah menjadi tersangka.

Sebelumnya, Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) mengirimkan somasi kepada kejaksaan agung untuk segera mengungkap peran Robert atau RBS. Dalam kasus ini, RBS diduga justru menjadi penikmat utama keuntungan yang diperoleh Harvey dan tersangka lainnya.

“Ya, sebagai warga negara yang baik, saya sudah melakukan kewajiban mentaati peraturan yang ada. Saya sudah diperiksa,” kata Robert kepada wartawan di Kantor Jampidsus usai pemeriksaan.