Fakta Kebakaran Gunung Bromo Gegara Foto Prewedding

Kebakaran Gunung Bromo

MENIT.CO.ID – Inilah fakta kebakaran Gunung Bromo gegara foto prewedding hingga seorang manajer wedding organizer resmi ditetapkan menjadi tersangka.

Pihak kepolisian setempat terus berupaya mengatasi kasus kebakaran yang terjadi di kawasan Gunung Bromo.

Dalam insiden ini, seorang manajer dari penyelenggara acara pernikahan telah diidentifikasi sebagai tersangka dalam kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Bukit Teletubbies, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), yang menjadi perbincangan di media sosial.

AKBP Wisnu Wardana, Kapolres Probolinggo, menyampaikan dalam konferensi pers yang digelar di Mapolres setempat, “Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap enam orang yang kami tangkap, satu orang telah ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan dua alat bukti yang memadai. Oleh karena itu, statusnya telah dinaikkan dari saksi menjadi tersangka.”

Kebakaran terjadi di Blok Savana Watangan, juga dikenal sebagai Bukit Teletubbies, pada Rabu (6/9) sekitar pukul 11.30 WIB. Kebakaran ini disebabkan oleh kelalaian pengunjung yang menggunakan flare asap saat mengambil foto prewedding.

Kapolres Wisnu Wardana menjelaskan, “Kebenaran bahwa kebakaran di Bukit Teletubbies dipicu oleh salah satu dari lima flare asap yang meletus saat dinyalakan, menyebabkan percikan api yang akhirnya membakar rumput kering di padang savana tersebut.”

Dampak dari kebakaran ini, menurutnya, mengakibatkan pengelola TNBTS segera melapor ke Polsek Sukapura. Laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh Kapolsek Sukapura beserta anggota yang langsung mendatangi area Bukit Teletubbies untuk membantu dalam pemadaman serta mengamankan enam orang yang terlibat dalam kegiatan foto prewedding tersebut.

“Setelah kami mengambil keterangan dari keenam orang tersebut, kami menetapkan AP (41), yang merupakan warga Kabupaten Lumajang dan sekaligus manajer penyelenggara pernikahan, sebagai tersangka dalam kasus karhutla di Bukit Teletubbies,” ujar Kapolres Wisnu Wardana.

Saat memasuki kawasan TNBTS, tambahnya, manajer penyelenggara pernikahan tersebut ternyata tidak memiliki Surat Izin Memasuki Kawasan Konservasi (Simaksi), sehingga melakukan pelanggaran aturan.

“Kami sangat menyesal terhadap kejadian kebakaran ini, yang telah merugikan banyak pihak. Kami mengambil tindakan serius dalam menindak para pelaku yang bertanggung jawab atas pembakaran, baik pada hutan maupun lahan,” lanjutnya.

Tersangka dijerat dengan Pasal 50 ayat 3 huruf d jo Pasal 78 ayat 4 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan sebagaimana diubah oleh Pasal 50 ayat 2 huruf b jo Pasal 78 ayat 5 UU Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU RI Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi Undang-Undang dan/atau pasal 188 KUHP. Dalam hal ini, tersangka dapat dihukum dengan penjara maksimal lima tahun dan denda sebesar Rp 1,5 miliar.

Di sisi lain, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I TNBTS, Didit Sulistyo, mengimbau kepada semua penyedia layanan wisata dan pengunjung di kawasan Bromo Tengger Semeru agar berperilaku dengan bijak dan tidak membawa barang-barang yang dapat menyebabkan kebakaran.